Breaking News
Time: 11:23
Ekbis

Jakarta, Expostnews.com – Laporan keuangan kuartal I tahun 2019 yang diumumkan PT Bank Danamon Indonesia Tbk/Bank Danamon, Selasa (23/4/2019), diwarnai dengan tumbuhnya 4 layanan keuangan. Namun, dari 4 item tersebut, dukungan paling dominan dari pertumbuhan keuangan Bank Danamon di kuartal I tahun 2019 tersebut berada pada dua segmen kunci, Consumer Mortgage dan pembiayaan kendaraan bermotor.

Pertumbuhan kredit tersebut didukung kuatnya permintaan konsumen di sejumlah segmen kunci, seperti Consumer Mortgage dan pembiayaan kendaraan bermotor melalui Adira Finance. Berdasar pengumuman laporan keuangan tersebut, Kredit Consumer Mortgage tumbuh sebesar 27%, pembiayaan kendaraan bermotor naik 14%, serta portofolio Kredit Enterprise Banking dan UKM yang masing-masing tumbuh 7% dan 6%.

“Terkait kinerja, kredit yang kami salurkan terus mengalami pertumbuhan, khususnya di sejumlah segmen bisnis, termasuk Consumer Mortgage, pembiayaan kendaraan bermotor, Enterprise Banking dan Perbankan UKM,” ujar Satinder Ahluwalia, Chief Financial Officer dan Direktur Bank Danamon.

Berdasar rilis yang diterima redaksi, Bank Danamon membukukan total portofolio kredit dan trade finance di kuartal I tahun 2019, sebesar Rp 138 triliun atau tumbuh 6% dibandingkan setahun sebelumnya. Bank juga mencatatkan kualitas aset yang sehat, dengan posisi rasio kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) menjadi 2,8% dibandingkan setahun lalu yang mencapai 3,2%.

“Pada tiga bulan pertama tahun 2019, Bank Danamon membukukan laba bersih setelah pajak (net profit after taxes/NPAT) sebesar Rp 933 miliar,” tambah Satinder Ahluwalia.

Bagaimana dengan pertumbuhan portofolio kredit di segmen kunci? Disebutkan, Portofolio kredit Consumer Mortgage tumbuh 27% menjadi Rp 8,3 triliun. Sementara kredit di segmen Enterprise Banking yang terdiri dari Perbankan Korporasi, Perbankan Komersial dan Institusi Keuangan naik 7% menjadi Rp 39,5 triliun. Untuk segmen Perbankan UKM mencatatkan pertumbuhan sebesar 6% menjadi Rp 31,1 triliun.

Sedangkan, di pembiayaan kendaraan bermotor, Adira Finance tumbuh 14% secara setahunan menjadi Rp 52,6 triliun pada kuartal I tahun 2019. Pertumbuhan yang sehat ini didukung pembiayaan kendaraan roda dua dan roda empat yang tumbuh masing-masing sebesar 14% dan 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara, di luar perbankan mikro, total portofolio kredit dan trade finance tumbuh 10% menjadi Rp 136,4 triliun dibandingkan setahun sebelumnya. Selain itu, likuiditas dan permodalan yang sehat, karena rasio kecukupan modal Bank Danamon (capital adequacy ratio/CAR) tetap menjadi salah satu yang terkuat dikelasnya.

“CAR konsolidasian dan CAR Bank-only masing-masing berada pada posisi 22,0 persen dan 22,8 persen,” tutup Satinder Ahluwalia. (ms/sa/bdn)

Jakarta, Expostnews.com – PT Intiland Development Tbk (Intiland) optimis proyek mixed-use & high rise Poins Square Jakarta Selatan berkembang pesat di bawah pengelolaan perusahaan miliknya, PT Inti Menara Jaya (IMJ). Selain itu, entitas baru hasil kolaborasi ini diyakini akan memberi nilai tambah bagi pengelolaan dan pengembangan Poins Square di masa mendatang.

“Ditambah dukungan lokasi Poins Square yang sangat strategis di samping stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Lebak Bulus. Sehingga, akan menjadi simpul pertemuan utama bagi warga yang memanfaatkan moda transportasi tersebut,” yakin Direktur Pengelolaan Modal Dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono, Sabtu (13/4/2019).

Menurutnya, IMJ yang merupakan perusahaan patungan antara PT Inti Sarana Ekaraya (ISE), selaku anak usaha Intiland dengan PT Menara Prambanan (MP) ini akan mengembangkan Poins Square, khususnya pada fasilitas dan area ritel serta komersial. Kolaborasi yang dijalin dengan penandatanganan nota kerja sama pada, Kamis (11/4/2019) di Grand Whiz Poins Square Jakarta Selatan itu, meliputi aspek kepemilikan, pengelolaan, dan pengembangan Poins Square.

“Komposisi kepemilikan dari pengelolaan Poins Square yang dilakukan PT Inti Menara Jaya ini masing-masing 50 persen,” ungkap Archied.

Menurutnya, kerja sama dalam bentuk joint venture ini meliputi pengembangan, pengelolaan, penjualan atau penyewaan unit-unit strata title maupun area-area komersial di Poins Square seluas kurang lebih 36,2 ribu meter persegi. Sebagai pengembang properti, kata Archied, Intiland memiliki beragam segmen pengembangan, seperti kawasan perumahan, mixed use & high rise, kawasan industri, dan properti investasi. “Kerja sama ini merupakan salah satu strategi pertumbuhan utama Intiland, selain pertumbuhan yang dilakukan secara organik,” akunya.

Sementara, PT Menara Prambanan selaku mitra dari kerja sama ini merupakan pengembang yang membangun Poins Square. Proyek yang dikembangkan sejak 2005 lalu itu, merupakan proyek mixed use & high rise terpadu seluas 2,5 ha di Jalan RA Kartini, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. “Poins Square selain merupakan one stopshopping yang meliputi pusat perbelanjaan, ritel,dan hotel, juga dilengkapi dengan apartemen 15 lantai,” tutur Archied dalam rilis yang dikirimkan.

Saat ini, pusat perbelanjaan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat elektronik, ponsel, komputer dan kamera yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Sedangkan, hotelnya dikelola jaringan Whiz hotel melalui brand Grand Whiz Poins Square untuk kelas hotel bintang empat.

“Sinergi ini akan melahirkan sebuah konsep baru Poins Square sebagai pusat pertemuan dan hub modern bagi masyarakat di kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya,” sambung Kiki Hamidjaja, Direktur Utama PT Menara Prambanan.

Diyakini, kolaborasi dan kerja sama dengan Intiland itu, selain memberikan nilai tambah bagi Poins Square, juga bagi para penyewa, konsumen, maupun masyarakat secara luas. Sinergi tersebut, katanya, akan melahirkan sebuah konsep baru Poins Square sebagai pusat pertemuan dan hub modern bagi masyarakat di kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya. “Kerja sama ini mensinergikan dua pengalaman dan keahlian di bidang pengembangan properti dan pengelolaan ritel,” ujar Kiki Hamidjaja.


Konsep Pengembangan

Mempertimbangkan letak dan lokasi strategis, Poins Square yang berada di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu merupakan kawasan mixed use terpadu yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pengembangannya berbasiskan kombinasi transportasi masal seperti Bus Rapid Transit (BRT), Commuter Line, Light Rapid Transit (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL), dan Mass Rapid Transit (MRT).

“Kerja sama pengembangan Poins Square ini adalah bagian dari strategi pengembangan proyek Intiland di tiga lokasi TOD,” tambah Permadi Indra Yoga, Direktur Pengembangan Bisnis Intiland terpisah.

Saat ini, lanjut Yoga, Intiland memiliki empat proyek pengembangan di kawasan TOD yang meliputi proyek Fifty Seven Promenade yang berada di kawasan TOD Dukuh Atas, Intiland Tower di kawasan TOD Bendungan Hilir, serta Poins Square di jantung kawasan TOD Lebak Bulus, Jakarta Selatan serta kawasan South Quarter yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari stasiun Fatmawati.

“Khusus untuk MRT setelah hampir 20 tahun menunggu, akhirnya kami memiliki satu jenis moda transportasi yang reliable dari sisi waktu, keamanan, dan kenyamanan. Kerja sama ini juga memfokuskan rencana interkoneksi langsung antara Poins Square dengan stasiun MRT lebak Bulus,” tukas Yoga.

Dengan mengusung konsep #LivingConnected, Intiland berusaha fokus mengembangkan proyek-proyek di kawasan TOD yang terbukti memiliki nilai tinggi. Alasannya, kawasan TOD mengedepankan konsep connectivity, accesibility dan walkability yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat urban untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Kami akan merenovasi serta mengonsep ulang area dan fasilitas ritel dan komersial, sehingga akan ada perubahan konsep dari sebelumnya berupa trade center menjadi transitmall,” jelasnya.

Sekadar tahu, sebagai transit mall, Poins Square diposisikan menjadi hub dan meeting point baru bagi ribuan orang per hari yang berada di area ini. Penyediaan fasilitas food & beverage baru yang nyaman seperti area restoran dan kafe serta berbagai jenis makanan yang berkonsep graband go. (ms/sa/mas)

Jakarta, Expostnews.com – Proyek dua menara hunian setinggi 14 dan 16 lantai menjadi proyek perdana Crown Group di Melbourne, Australia. Proyek hunian bertema seni ini merupakan bagian dari visi Crown Group untuk mengembangkan pembangunan sejumlah proyek hunian senilai Rp30 triliun di kota Melbourne.

“Proyek hunian bertemakan seni di Southbank ini cukup menghebohkan, dan telah menerima persetujuan perencanaan dari City of Melbourne pada Januari 2019,” aku Komisaris dan CEO Crown Group, Iwan Sunito, Senin (8/4/2019).

Menurut Iwan, proyek ini juga menjadi bagian dari strategi think big, start small Crown Group. Untuk itu, ia akan berusaha menumbuhkan jaringan proyek di Melbourne dengan diawali satu proyek terlebih dahulu untuk menguji pasar.

“Visi Crown bukan semata-mata untuk membangun gedung apartemen biasa, tapi untuk menciptakan hunian yang memiliki cerita, terutama untuk warga Melbourne yang disebut sebagai salah satu kota paling berbudaya di dunia,” ujarnya.

Dikatakan, kawasan ini sengaja dipilih karena letaknya yang strategis di kawasan seni dan berdekatan dengan St Kilda Road yang ditambah pemandangan tidak terhalang ke kota. “Konstruksinya kami mulai pada 2021 mendatang,” ungkap Iwan.

Sekedar tahu, sama seperti tradisi terobosan Crown Group sebelumnya, menara apartemen yang terinspirasi seni ini dirancang oleh Koichi Takada Architects. Desain menarik ini diyakini akan mengubah wajah Southbank.

Dijelaskan, menara apartemen ini akan melengkapi rencana pembangunan kembali Pemerintah Victoria senilai Rp2 triliun atas kawasan seni yang terkenal tersebut. Proyek yang berlokasi di 175 Sturt Street itu merupakan bentuk kolaborasi dengan pengembang bereputasi asal Melbourne, G3 Projects.

Para penghuni nantinya akan memiliki akses ke fasilitas bergaya resor khas Crown Group, mulai lounge dan taman di rooftop, teater, area bermain anak-anak, gym, dan kolam renang indoor. Ada juga kafe yang terletak di lantai dasar dan parkir untuk 140 mobil dan 40 sepeda di podium empat lantai.

Crown Group berupaya agar desainnya memperkaya seni khas Melbourne yang berkembang pesat. Salah satu fitur utamanya adalah ruang seni komunitas di lantai bawah yang menyediakan ruang menyelenggarakan pameran dan instalasi, hingga pertemuan budaya. (sa/ms/po)

Jakarta, Expostnews.com – Naiknya harga batu bara sangat dirasakan pengaruhnya terhadap beban operasional PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Kondisi di tahun 2018 itu semakin berat, menyusul ketatnya persaingan dengan hadirnya pemain baru di industri semen nasional.  

Beruntung, meski kondisi tahun 2018 dirasa sangat berat, produsen semen pelat merah ini masih mencatatkan pertumbuhan kinerja positif. Buktinya, data yang dilansir perseroan hingga akhir 2018, Selasa (2/4/2019), telah mencatatkan pembukuan laba bersih sebesar Rp3,086 triliun. “Ini tak lepas dari dukungan strategi baru melalui berbagai program transformasi,” ungkap Direktur Utama Semen Indonesia, Hendi Prio Santoso.

Strategi yang didukung peningkatan kinerja signifikan tersebut, diterapkan di seluruh Semen Indonesia Group. Menurut Hendi, terobosan itu adalah transformasi biaya atau cost transformation. “Yang kemudian menjadi kunci keberhasilan perusahaan untuk bangkit,” yakinnya.

Dijelaskan, perseroan secara konsolidasi, di tahun 2018 telah mencatatkan total volume penjualan domestik dan ekspor sebesar 33.153 juta ton, termasuk penjualan dari Thang Long Cement (TLCC) Vietnam. Volume penjualan tersebut naik 5,8% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar 31.348 ton.

“Volume penjualan ekspor perseroan dari fasilitas produksi di Indonesia, tahun 2018 tercatat 3.157 juta ton, atau naik sebesar 68,7 persen daripada periode yang sama tahun 2017 sebesar 1.871 juta ton,” urai Hendi. (sa/ms/smn)

Berikut catatan kinerja keuangan PT Semen Indonesia tahun 2018 :

•    Pendapatan tercatat Rp30.688 triliun, naik 10,33% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp27.814triliun.

•    Beban Pokok Pendapatan tercatat Rp21.357 triliun, naik 7,57% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp19.854triliun.

•    Laba per saham dasar tercatat Rp519,-naik 90,11% dibanding periode yang sama tahun 2017  sebesar Rp273,-.

Sumber : PT Semen Indonesia

Surabaya, Expostnews.com – Keberadaan pelabuhan dinilai memiliki kontribusi dan peluang besar dalam menekan cost recovery dari industri minyak dan gas (migas) di Indonesia. Alasannya, pelabuhan yang merupakan pintu masuk, dianggap berpotensi untuk mensinergikan kebutuhan dalam pelayanan logistik energi nasional.

Menimbang potensi ini, tak berlebihan jika PT Pelindo III (Persero) serius mengembangkan sayap usahanya di sektor pelayanan migas. Apalagi, setelah pengoperasian Terminal LNG terapung di Pelabuhan Benoa Bali, yang kemudian berlanjut sinergi dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGN untuk kerja sama pembangunan Terminal LNG di Terminal Teluk Lamong.

Penilaian yang dicetuskan Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho ini sangat terkait dengan penguatan lini bisnis bidang energi yang dikerjasamakan melalui layanan terminal sebagai pendukung industri dan operasional di hulu industri migas. Pernyataan yang terungkap dalam worskhop migas bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Surabaya, Selasa (2/4/2019) itu, Toto Nugroho mengatakan, keseriusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepelabuhanan yang ‘bermarkas’ di Surabaya ini mulai menggeliat ekspansi industri migas.

“Karena banyak lahan konsesi Pelindo III yang berada di waterfront atau berbatasan langsung dengan laut,” kata Toto Nugroho dalam sambutannya di workshop yang dipandu moderator dan pengamat maritim ITS, Saut Gurning.

Bahkan, katanya, Pelindo III telah menyiapkan lini usaha khusus yang membidangi pengembangan integrated services shorebase terminal atau terminal pelabuhan dengan sejumlah layanan. Toto menyebut, Pelindo Energi Logistik (PEL) sengaja disiapkan untuk fokus di terminal pelabuhan dengan sejumlah layanan pendukung logistik para pelaku industri migas, seperti Terminal Gresik di Jawa Timur dengan dedicated area. “Terminal Gresik ini memberikan layanan terintegrasi dari kegiatan di laut, seperti kapal sandar, hingga kegiatan di darat, untuk lokasi penyimpanan,” ungkap mantan Direktur Pertagas ini.

Selanjutnya, konsep integrated services shorebase terminal dari layanan PEL tersebut akan di-back up lini usaha Pelindo III Group lainnya. Tak tanggung-tanggung, Pelindo III mengerahkan layanan mulai dari armada kapal offshore, transportasi truk, mooring-unmooring (penambatan), loading-unloading (bongkar muat), penyediaan alat berat, perawatan hingga suku cadang peralatan.

“Penyediaan tenaga kerja profesional operasional, pengamanan, kebersihan, dan transportasi, termasuk jasa klinik kesehatan dan catering untuk pekerja di lokasi khusus juga disiapkan untuk mendukung layanan PEL,” tutur Toto.

Dengan lengkapnya layanan dalam satu kawasan yang terdedikasi itu, diharapkan kegiatan industri migas yang menuntut standar keselamatan yang tinggi bisa dicapai secara efisien. “Ya. Penurunan cost recovery merupakan isu penting,” sambung Kepala Divisi Penunjang Operasi dan Keselamatan Migas, SKK Migas, Bagus Edvantoro pada kesempatan tersebut.

Dikatakan, ada beberapa faktor penguatan yang mempengaruhi keandalan operasional, personel yang profesional, kualitas layanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3/HSSE), termasuk juga faktor ketepatan waktu penyediaan jasa dan harga yang kompetitif. Integrasi faktor-faktor tersebut sangat dibutuhkan dalam mencapai penurunan cost recovery dalam industri migas.

“Workshop ini bisa menjadi sarana komunikasi dua arah. Para calon mitra kerja dan masyarakat bisa memahami minimum requirement yang dibutuhkan untuk bekerjasama di industri migas. Untuk itu, SKK Migas terbuka menjalin kerja sama bila memang tujuannya untuk meningkatkan efisiensi,” yakinnya di acara yang juga menghadirkan narasumber Dirut PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI Port) Hot Rudolf Marihot, Dirut PT Palindo Marine Service (PMS), Eko Hariyadi Budiyanto dan beberapa pembicara kompeten lainnya.

Sementara, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim Henky Pratoko berharap, diskusi langsung dengan SKK Migas dan Pelindo III ini, bisa menjadi peluang para pelaku bisnis logistik di jasa logistik industri migas. Menurutnya, peluang baru, sekaligus tantangan ini menjadi penting bagi pelaku usaha di asosiasinya. “Agar turut serta dengan pemerintah dalam meningkatkan efisien logistik di Indonesia,” ujarnya. (ms/sa/haf)

Jakarta, Expostnews.com – Pembangunan Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) yang merupakan bagian dari penguatan infrastruktur gas bumi di Jawa Timur, mulai dikembangkan di Terminal Teluk Lamong (TTL). Penguatan sistem distribusi dan regasifikasi LNG tersebut telah dikerjasamakan PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGN, melalui anak usahanya, PT PGN LNG Indonesia (PLI) dengan PT Pelindo III (Persero).

“Kerja sama pembangunan Terminal LNG di TTL ini merupakan poin penting yang semakin mengokohkan layanan terintegrasi dari PGN,” jelas Direktur Utama Gigih Prakoso, Jumat (29/3/2019).

Dengan tersedianya tambahan pasokan LNG di Terminal Teluk Lamong tersebut, kata Gigih, PGN dapat meningkatkan ketahanan dan keberlangsungan sistem distribusi gas di Jawa Timur dengan sasaran industri, ritel, dan kelistrikan. Saat ini, lanjut Gigih, pasokan gas untuk sistem distribusi Jawa Timur hanya mengandalkan sumur-sumur gas berdasarkan Kontrak Kerja Sama minyak dan gas bumi yang berada di sekitar Jawa Timur. “Pembangunan Terminal LNG Jawa Timur di Terminal Teluk Lamong itu ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2019,” kata Gigih.

Selanjuntya, PLI selaku anak usaha PGN, siap mengoperasikan terminal tersebut untuk melayani kebutuhan energi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sekitarnya. Dalam proses pembangunan Terminal LNG dan seluruh fasilitasnya, PT Pelindo Energi Logistik (PEL) beserta PLI menggarap pengerjaan.

“Kerja sama ini sejalan dengan optimalisasi sinergi antar perusahaan pelat merah. Terminal LNG Teluk Lamong ini menjadi obyek vital bagi pembangunan ekonomi dan mobilitas transportasi di Pulau Jawa,” tuturnya.

Diungkapkan, pada fase pertama, Terminal LNG Jawa Timur ini akan memiliki kapasitas regasifikasi sebesar 30 BBTUD. Setelah itu, dikembangkan sesuai dengan pertumbuhan kebutuhan energi di Jawa Timur dan sekitarnya.

“Sejalan dengan itu, maka Terminal LNG juga menjadi solusi untuk menyediakan tambahan pasokan gas hasil regasifikasi LNG untuk pelanggan PGN group yang telah menerima  penyaluran gas melalui jaringan pipa,” urai Gigih.

Ia mengatakan, Terminal LNG Jawa Timur tersebut menjadi jawaban pelanggan industri, ritel, maupun kelistrikan, khususnya untuk wilayah-wilayah yang tidak dapat dijangkau dengan jaringan pipa PGN. Diharapkan, Terminal LNG Jawa Timur pada pengembangannya dapat menyediakan fasilitas pengisian LNG dengan moda LNG trucking yang memanfaatkan ISO tank, dengan kapasitas pengisian ±10 BBTUD.

“Pengembangan fasilitas dengan moda LNG trucking ini dapat memberikan solusi energi dan membuka pasar-pasar ritel baru di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan juga Jawa Barat,” ingat Gigih.

Dengan moda LNG trucking, kerja sama ini juga akan mengusahakan pemanfaatan pasokan LNG untuk kapal-kapal yang berbahan bakar berbasis LNG (truck to ship LNG bunkering) di terminal-terminal milik Pelindo III. Pemanfaatan itu membantu pemerintah memenuhi regulasi dari International Maritime Organization (IMO), yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

“Ini adalah upaya menurunkan kadar Sulphur dari fuel menjadi maksimum 0,5% (dari limit eksisting 3,5%) untuk kepentingan lingkungan, dengan mengurangi emisi berbahaya dari kapal-kapal,” tuturnya. (irf/sa/ms)

Surabaya, Expostnews.com – Menempati lahan seluas satu hektar, hunian vertikal eksklusif, The Rosebay telah menuntaskan penutupan atap (topping off). Prosesi topping off tersebut, menjadi penanda proyek The Rosebay yang dikerjakan pengembang properti nasional PT lntiland Development Tbk memasuki tahapan penyelesaian fasad bangunan dan interior keseluruhan.

“The Rosebay menjadi salah satu hunian vertikal yang ditunggu para konsumen dan menjadi salah satu pengembangnan terbaru di kawasan hunian Graha Famili, Surabaya. Kami menargetkan proses pembangunan selesai tahun ini dan bisa Iangsung proses serah terima,” yakin Sinarto Dharmawan Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer lntiland di sela seremoni topping off bersama jajaran manajemen perseroan di Surabaya, Rabu (20/3/2019).

Menurutnya, pengembangan The Rosebay menjadi bagian dari Iangkah strategi perseroan untuk pengembangan selanjutnya di kota Surabaya. Perseroan berkomitmen melakukan terobosan-terobosan baru di bidang properti untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin modern.

“Topping off The Rosebay melengkapi pencapaian dan prestasi penting bagi kami. Dalam setahun terakhir kami berhasil melakukan tiga topping off proyek, mulai dari Spazio Tower, Graha Golf, dan The Rosebay," kata Sinarto.

Dijelaskan, konsep pengembangan The Rosebay melengkapi rencana pengembangan Graha Famili sebagai sebuah pengembangan kawasan terpadu yang prestisius. Selain menyasar segmen menengah ke atas. kawasan ini dilengkapi beragam fasilitas gaya hidup, bisnis, leisure, kulinari, hingga kesehatan.

“Selain dibangun dengan konsep pengembangannya yang baik dan low density. Lokasinya juga sangat strategis, dengan kemudahan akses, serta punya tingkat kepadatan hunian yang rendah, dan memberikan arti kemewahan bagi penghuninya. Ini yang menjadi keunggulan utama dari hunian ini,” urai Sinarto.

Namun diakui, beberapa tahun terakhir, tantangan di pasar properti, khususnya Surabaya memang cukup berat. Meski demikian, manajemen Intiland optimis, pasar properti di Surabaya kembali membaik, terutama permintaan terhadap produk-produk berkualitas.

“Perseroan yakin, pasar properti ke depan akan berangsur membaik. Pengembangan segmen mixed-use & high rise masih terus menjadi salah satu strategi utama perseroan. Pengembangan di segmen ini dapat menjadi solusi atas keterbatasan dengan makin mahalnya harga lahan, serta menjadi iawaban kebutuhan masyarakat urban yang semakin dinamis,” papar Sinarto.

The Rosebay, lanjut Sinarto, merupakan pengembangan proyek hunian berkonsep low rise residential terbaru dari lntiland di wilayah Surabaya. Proyek hunian yang diluncurkan 2016 itu terdiri dari 7 blok hunian dengan ketinggian bervariasi. “Mulai dari empat hingga delapan lantai,” akunya.

Perbedaan ketinggian ini memberikan pemandangan lanskap yang indah dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Dengan lokasi tak jauh dari padang golf, semakin menawarkan panorama yang indah dan menjadi daya tarik bagi konsumen. “The Rosebay mendapat sambutan sangat baik dari konsumen,” kata Sinarto.

Dari total sebanyak 229 unit hunian, perseroan hanya memasarkan sebanyak 177 unit dan sebanyak 115 unit telah terjual. Sejak diluncurkan 2016, saat ini harga unit The Rosebay dipasarkan mulai Rp2,3 miliar dengan dua tipe unit hunian.

“Yaitu dua kamar tidur dan tiga kamar tidur dengan luas bangunan mulai dari 73 meter persegi hingga 143 meter persegi. Masing-masing unit menawarkan kelebihan dan keunggulan dengan pilihan pemandangan padang golf dan taman yang lapang,” ulas Sinarto.

Ia menilai, The Rosebay cocok bagi mereka yang ingin bertempat tinggal di sebuah kondominium yang tidak tedalu tinggi dan memiliki nuansa lingkungan yang asri, serta memiliki konsep desain ‘bangunan hijau’. Konsep ini diwujudkan ke dalam seluruh aspek desain dan arsitektur. “Seperti pada fasad bangunan, area drop off, serta ditunjang dengan adanya koridor terbuka untuk memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami,” sambung Suharto Sulaksono, Direktur Pemasaran Intiland mendampingi Sinarto Dharmawan saat gelar konferensi pers.

Diungkapkan, lokasi The Rosebay ini berada dekat dengan beragam fasilitas, seperti ciubhouse Graha Famili, sports club Row, rumah sakit National Hospital, area retail serta lifestyle, termasuk area perkantoran, dan sekolah. Privasi serta kenyamanan ini sangat cocok bagi keluarga yang memberikan nilai lebih untuk penghuni The Rosebay.

“Dalam memenuhi kebutuhan serta gaya hidup penghuninya, The Rosebay menyediakan beragam fasilitas pendukung, seperti kolam renang, barbeque pit, jogging track, serta gym, sistem keamanan 24 jam, serta Voice Comm System,” tutupnya. (sa/ms/dim)

Jakarta, Expostnews.com – Digitalisasi informasi dan penyampaian keuangan, seperti perpajakan, kini bisa diintegrasikan melalui teknologi. Buktinya, PT Pelindo III (Persero) yang merupakan satu dari 30 wajib pajak kooperatif yang mendapat apresiasi karena mampu mengintegrasi data dan pertukaran data wajib pajaknya.

“Salah satu BUMN yang paling awal mengimplementasikan aplikasi ini adalah Pelindo III, yang secara host-to-host mengoneksikan data korporat dengan server penyelenggara pelaporan pembayaran pajak yang berlisensi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP),” ungkap Direktur Keuangan Pelindo III, Iman Rachman usai menerima penghargaan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat gelaran ‘Apresiasi dan Penghargaan Kepada Wajib Pajak’, di Jakarta, Rabu (12/3/2019).

Dikatakan, hal ini menjadi bentuk komitmen Pelindo III guna mendorong digitalisasi ekosistem perpajakan di Indonesia. Menurutnya, manfaat dari integrasi sistem pajak secara digital ini dapat dirasakan kedua pihak, mulai perusahaan sebagai wajib pajak dan juga Pemerintah sebagai pengelola pajak negara.

“Dengan teknologi, meski jumlah pembayarannya besar, proses pelaporan dan pembayaran semakin mudah. Proses audit juga akan semakin efisien dan jumlah setoran pajak akan terkontrol, sangat akuntabel. Inovasi teknologi yang digunakan Pelindo III ini guna mendukung peningkatan penyerapan pajak negara,” akunya.

Terpisah, Sekretaris Perusahaan Pelindo III Faruq Hidayat mengatakan, pelaporan e-faktur PPN Pelindo III telah dilakukan secara host-to-host dengan server DJP sejak Desember 2018 lalu. Selanjutnya, pelaporan e-SPT pajak penghasilan sudah menggunakan single database secara online sejak Februari 2019.

“Ke depan bukti potong (e-bupot) pajak penghasilan akan dapat diakses online,” tutur Faruq.

Saat ini, katanya, sedang dikerjakan pemetaan Chart Of Account (COA) antara laporan keuangan dengan SPT yang dilaporkan. Dengan begitu, dapat diakses langsung DJP, sehingga potensi pajak dapat dicermati.

“Kami targetkan, selesai per April 2019 ini. Pada tahap final integrasi data, akan dicapai Keterbukaan Informasi Perpajakan yang dapat diakses secara sistem terkoneksi antara wajib pajak dengan DJP,” urainya.

Faruq juga memaparkan, kontribusi Pelindo III Group sebagai BUMN pada pendapatan Negara tercatat selama kurun 2016 hingga 2018, setoran Pelindo III kepada Negara mencapai Rp 5,12 triliun. Setoran tersebut, lanjut Faruq, terdiri dari kewajiban perpajakan yang mencapai Rp 4,17 triliun kepada negara melalui Kementerian Keuangan. “Pembayaran dividen melalui Kementerian BUMN sebesar Rp 948 miliar,” katanya. (ms/sa/wil)

Jakarta, Expostnews.com – Pesatnya perkembangan di sekitar pusat kota Sydney, Eastlakes, adalah salah satu kantong terakhir ‘pusat timur Sydney’ yang akan diremajakan perusahaan pengembang terkemuka di Australia, Crown Group. Kawasan ini menghadirkan peluang besar untuk tinggal di lokasi utama dengan akses ke pantai, pusat perbelanjaan, kafe, restoran, dan pemandangan terbaik.

Semenjak kota Sydney dibangun tahun 1778, kawasan pinggiran timur Sydney merupakan pinggiran kota paling awal dikembangkan. Melihat potensi ini, Crown Group sedang menciptakan komunitas hunian baru yang akan menjadi area paling menarik di kawasan timur Sydney.

Kawasan bergengsi itu, dari pantai Bondi hingga Bellevue Hill yang bisa ditemukan sebagian besar institusi pendidikan dan perhotelan yang didirikan di sekitar area tersebut. Sydney telah muncul sebagai salah satu kota paling multicultural dan beragam di dunia, menarik orang-orang dari seluruh dunia, khususnya kawasan Asia untuk tinggal.

“Australia saat ini adalah tujuan yang paling diinginkan untuk tinggal dan mengingat ekonominya yang kuat dan stabil, Australia adalah tempat yang ideal untuk berinvestasi,” kata Direktur Penjualan Crown Group, Roy Marcellus, Rabu (13/3/2019).

Menurutnya, Eastlakes Live by Crown Group merupakan proyek hunian termahal dalam sejarah Crown Group. Pengembangan luar biasa ini hasil kolaborasi dengan arsitek yang diakui secara internasional, Francis-Jones Morehen Thorp (FJMT). “Arsitek FJMT ini berhasil memenangkan 2018 Melbourne Design Awards dalamkategori ‘Graphic Design – Identity and Branding – Lifestyle’,” ujar Marcellus.

Apa yang dikerjakan Crown Group bertujuan untuk menciptakan tujuan gaya hidup masa depan di kawasan timur baru. Tahap pertama dari pengembangan mixed-use ini menampilkan 134 unit apartemen mewah mulai dari apartemen satu kamar tidur hingga penthouse, termasuk kawasan perbelanjaan baru dengan 15 outlet ritel.

“Sementara tahap dua akan menciptakan pusat kota baru dengan campuran komponen dari hunian dan ritel,” ujarnya.

Eastlakes, lanjut Marcelllus, merupakan area pinggiran kota baru yang tumbuh di timur Sydney dan menawarkan gaya hidup paling menarik di kawasan yang telah bertransformasi tersebut. Dikelilingi oleh semua hal terbaik yang bias ditawarkan Sydney. “Penghuninya memiliki akses mudah kepantai-pantai yang indah, taman, stadion olahraga Moore Park, lapangan golf, dan kawasan perbelanjaan dan ritel, ”kata Marcellus.

Eastlakes Live by Crown Group yang pembangunan tahap pertamanya dijadwalkan selesai pada 2021 itu, jelas Marcellus, menciptakan tempat yang menarik dan luar biasa. Sebuah komunitas yang ramai dan membuat orang betah dan tinggal selamanya. “Nikmati gaya hidup urban masa depan yang absolute dan sangat menarik,” tukasnya. (sa/ms)

Surabaya, Expostnews.com - Dua terminal yang menjadi aset pelabuhan di kawasan Tanjung Perak Surabaya dipastikan berpotensi menjadi proyek awal pengembangan infrastruktur energi, khususnya gas. Selain Tanjung Perak, pembangunan infrastruktur energi yang telah dikerjasamakan pengembangannya itu bakal ditempatkan juga di lahan pelabuhan yang dikelola Pelindo III di 7 provinsi di Indonesia.

“Pengembangan terminal LNG di Terminal Teluk Lamong dan terminal LPG di Terminal Nilam. Sedangkan, dermaga Gospier akan direvitalisasi untuk melayani layanan logistik energi,” papar Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo III (Persero), Doso Agung, Senin (18/2/2019).

Doso meyakini, lahan pelabuhan yang dikelola Pelindo III, potensial menjadi lokasi pembangunan infrastruktur energi. Hal serupa juga dilakukan Pelindo III dalam pemanfaatan Pelabuhan Benoa, Bali, sebagai terminal Liquified Natural Gas/gas alam cair (LNG) untuk melayani pasar Pertamina.

“Sisi utara Benoa juga disiapkan untuk pengembangan fasilitas marine fuel oil (bahan bakar kapal). Begitu juga di Kalimantan Selatan, lahan di Pelabuhan Banjarmasin akan menjadi lokasi penyimpanan LPG,” tutur Doso di sela penandatanganan kerja sama integrasi dan pendayagunaan aset pelabuhan untuk bersama mengembangkan bisnis di sektor energi dengan Dirut Pertamina, Nicke Widyawati di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Menurutnya, sinergi antara Pelindo III dan Pertamina tersebut menjadi arah baru strategi BUMN menghadapi tantangan bisnis yang terus berubah. Sektor maritim dan energi, kata Doso, memiliki banyak irisan layanan yang bisa dikembangkan bersama. “Utilisasi aset bersama akan membuat proses bisnis menjadi lebih efisien, sehingga BUMN bisa lebih fokus dalam meningkatkan layanan pada para pengguna jasa,” urainya.

Bahkan, lanjut Doso, sinergi BUMN tersebut menguntungan kedua belah pihak, karena saling melengkapi kebutuhan berdasarkan keahlian (expertise) masing-masing. Pelindo III akan mengerjakan pemeliharaan jetty dan alur pelayaran di terminal bahan bakar minyak milik Pertamina. “Sedangkan, Pertamina menjadi supplier untuk penyediaan pelumas di pelabuhan-pelabuhan Pelindo III. Tapi, yang pasti, pengguna jasa menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kerja sama ini,” yakinnya.

Doso mencontohkan, di sisi layanan kapal, pengoperasian bersama kapal tunda Pelindo III dan Pertamina di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dan Tanjung Wangi Banyuwangi. Selanjutnya, lahan dan Dermaga IV di Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, dimanfaatkan untuk peningkatan produksi avtur di industri aviasi nasional.

“Dengan sinergi ini, akan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki masing-masing BUMN untuk mencapai pola usaha yang efektif,” sambung Dirut Pertamina Nicke Widyawati.

Ia mengatakan, kerja sama antara Pertamina Group dengan Pelindo I, II, III, dan IV, bertujuan untuk membangun kekuatan bisnis yang lebih kokoh dan efisien, dalam rangka menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif. Untuk itu, Pertamina harus memastikan ketersediaan dan ketahanan energi di setiap pelabuhan di seluruh Indonesia.

“Dengan begitu, distribusi energi di seluruh pelabuhan akan semakin efektif dan efisien. Karena, pelabuhan merupakan pintu gerbang bisnis dunia yang akan menggerakkan perekonomian nasional,” ujar Nicke. (sa/ms/hum)

Page 1 of 46