Breaking News
Time: 2:57

Delisting AS Rugikan Potensi Ekspor Rumput Laut Indonesia

Tuesday, 09 August 2016 21:18
Ilustrasi Rumput Laut Ilustrasi Rumput Laut

Jakarta, Expostnews.com - Rumput laut sebagai salah satu komoditas andalan hasil kelautan Indonesia terancam ekspornya ke pasar luar negeri, khususnya di pasar Amerika Serikat (AS). Ancaman merosotnya potensi ekspor tersebut, menyusul pemberlakuan delisting (dikeluarkan) produk rumput laut Indonesia dari daftar bahan pangan organik di AS.

“Pemberlakuan delisting ini berpotensi menurunkan ekspor komoditas rumput laut Indonesia ke AS yang pada 2015 mendekati angka USD 1 juta. Tapi, yang perlu lebih diwaspadai adalah perkembangan dari dampak ini (delisting, red)," ingat Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Dody Edward, di Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Pasalnya, delisting AS ini dapat 'menular' dan menjadi preseden buruk bagi negara tujuan ekspor rumput laut lainnya seperti Uni Eropa. Bisa jadi, delisting dari pemerintah negeri Paman Sam ini akan diberlakukan serupa di Uni Eropa.

“Indonesia bahkan bisa merugi sampai USD 160,4 juta jika semua pasar tujuan ekspor Indonesia memberlakukan hal yang sama seperti AS,” jelas Dody.

Nilai kerugian yang apabila dirupiahkan mencapai kisaran Rp 2,08 triliun (1:13.000) itu akibat semua negara tujuan ekspor memberlakukan delisting seperti AS. Bagaimanpun juga, kata Dody, rumput laut merupakan komoditas prime mover perekonomian masyarakat laut dan pesisir Indonesia.

“Indonesia merupakan produsen utama rumput laut di dunia yang menyerap banyak tenaga kerja di daerah pesisir dan pulau-pulau terluar Indonesia. Selama ini rumput laut menjadi bahan baku carrageenan dan agar-agar,” ujarnya.

Dody sangat menyayangkan, apabila semua negara melakukan delisting terhadap produk rumput laut Indonesia. Sebab, kata Dody, saat ini, konsumsi pangan organik di dunia menunjukkan peningkatan tren pertumbuhan yang didorong isu-isu kesehatan hingga memicu meningkatnya nilai perdagangan produk organik.

“Jika, produk rumput laut dikeluarkan dari daftar bahan pangan organik, maka hal itu akan merugikan Indonesia. Selama ini, Indonesia merupakan pemasok utama dunia untuk komoditas rumput laut dengan pangsa pasar 41 persen di tahun 2013,” ulasnya.

Dody menegaskan, saat ini Direktorat Pengamanan Perdagangan Kemendag secara aktif memantau perkembangan rencana delisting terhadap produk rumput laut tersebut. Ia berharap, kerja sama dari Kementerian/Lembaga terkait, asosiasi dan akademisi guna membahas langkah-langkah yang dapat membatalkan rencana delisting produk rumput laut tersebut.

“Kami juga terus melakukan pembinaan kepada pelaku usaha produk kelautan Indonesia untuk menjaga kualitas rumput laut, sehingga menghasilkan mutu yang baik sebagai bahan pangan organik. Dengan harapan, ekspor rumput laut Indonesia di pasar international tetap terjaga keberlangsungannya,” ingat Dody.

Untuk diketahui, rencana delisting produk rumput laut dari daftar bahan pangan organik tersebut dipicu petisi Joanne K. Tobacman, M.D. (Tobacman) dari University of Illinois, Chicago, pada Juni 2008. Petisi kepada US Food and Drug Administration (FDA) itu berisi larangan penggunaan carrageenan sebagai bahan tambahan makanan yang terbuat dari rumput laut.

“Berdasarkan penelitian Tobacman, ditengarai carrageenan dapat menyebabkan peradangan/inflamation yang memicu kanker,” ujar Dody.

Namun, petisi tersebut ditolak US FDA pada Juni 2008. Kemudian, petisi Tobacman ini diikuti publikasi LSM Cornucopia Institute dari AS pada Maret 2013 yang mendorong publik meminta US National Organic Standards Board (NOSB) mengeluarkan carrageenan dari daftar bahan pangan organik.

“Rencananya, pada November 2016 US NOSB akan menentukan apakah carrageenan tetap akan masuk pada National List of Allowed and Prohibited Substances yang diperbolehkan dalam makanan organik atau tidak, setelah sebelumnya mendapat masukan dari berbagai pihak,” jelasnya. (hum/dag/sa)

Rate this item
(0 votes)
Read 138 times