Breaking News
Time: 2:56

Audit Jalur Merah, Bea Cukai Perak Target 2017 Dwelling Time Susut 3 Hari

Wednesday, 21 September 2016 21:58
Efrizal, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) Tanjung Perak Surabaya Efrizal, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) Tanjung Perak Surabaya

Surabaya, Expostnews.com - Fasilitas kepabeanan untuk barang impor yang berada di Jalur Merah terminal penumpukan peti kemas, ternyata turut menyumbang panjangnya masa Dwelling Time di Tanjung Perak Surabaya. Indikator kepabeanan terhadap importasi ini pun dibidik untuk dikurangi volume penumpukannya melalui pengecekan ulang.

“Untuk itu, kami akan audit, dan memprofiling importir atau pemilik barang di Jalur Merah. Harapan kami, target tahun depan upaya ini bisa menekan Dwelling Time di Tanjung Perak hingga tiga hari. Jadi, selama 3 bulan kedepan, kami akan terus berupaya menekan Dwelling Time,” yakin Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) Tanjung Perak Surabaya, Efrizal dikonfirmasi, Rabu (21/9/2016).

Selain itu, selaku Penanggungjawab Custom Clearance dari Satuan Tugas (Satgas) Dwelling Time Tanjung Perak, KPPBC TMP (Bea Cukai) Tanjung Perak Surabaya akan memonitor kasus per kasus dari setiap pelanggaran kepabeanan yang pernah dilakukan pemilik barang terhadap proses importasinya. Selama tidak ditemukan adanya pelanggaran selama 6 bulan berturut-turut, maka barang di Jalur Merah akan ditempatkan di Jalur Hijau untuk segera dikeluarkan dari pelabuhan.

“Sebenarnya, prosentase dari seluruh dokumen yang ada di Jalur Merah sudah mengecil hingga 7 persen. Tapi, kami tetap menarget, bisa mengurangi sampai 5 persen dari keberadaan barang-barang impor yang menumpuk di Jalur Merah,” tutur Efrizal.

Kendati demikian, ungkap Efrizal, Bea Cukai tidak memiliki kewenangan untuk memaksa importir mengeluarkan barangnya yang berkepanjangan tersimpan di area penumpukan terminal peti kemas. Bea Cukai hanya sebatas merekomendasi melalui imbauan kepada pengusaha/importir untuk kooperatif terhadap proses importasinya.

“Endingnya, barang di lapangan penumpukan terminal bongkar muat internasional bisa gate out dari area pelabuhan. Sinergi ini hanya bisa diwujudkan dengan keaktifan para pemilik barang atau importir dan pengelola terminal (TPS, red),” harapnya.

Namun demikian, kata Efrizal, porsi Bea Cukai dalam hal kepabeanan dari proses Dwelling Time yang bergulir di pelabuhan hanya berkisar 10%. Dari tiga formula penentuan kelayakan dan kebijakan dokumen impor, Bea Cukai menempati posisi Custom Clearance.

“Sangat kecil porsinya. Selebihnya, ada di Pre Clearance yang mencapai porsi 60 persen dan 30 persen di Post Clearance. Tapi, kami tetap berupaya dan bersinergi dengan Satgas Dwelling Time Tanjung Perak untuk mempersingkat masa Dwelling Time seperti yang diinstruksikan Presiden,” ingat pejabat berkacamata ini.

Sekadar tahu, Jalur Merah adalah satu dari tiga perlakuan kepabeanan (Jalur Hijau, Jalur Kuning dan Jalur Merah) atas Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Penempatan posisi di Jalur Merah, karena memenuhi kriteria, jenis barang tidak jelas, harga barang impor tidak dapat diterima, tarif bea masuk diragukan/tidak benar dan harus dilakukan pemeriksaan fisik barang.

Setelah itu, pemeriksaan kembali terhadap klasifikasi tarif dan harga guna menghitung bea masuk (nilai pabean). Dari proses tersebut, ada beberapa kemungkinan jenis dan jumlah barang tidak benar untuk dilakukan kembali penetapan tarif bea masuk serta karena harga barang yang ditetapkan Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) yang berakibat wajib membayar kekurangan bea masuk dan denda.

“Apabila jenis dan jumlah barang sesuai, PFPD akan mengeluarkan SPPB (Surat Perintah Pengeluaran Barang, red),” tambah Efrizal.

Sebelumnya, KPPBC TMP Tanjung Perak Surabaya turut merespon panjangnya durasi Dwelling Time di Tanjung Perak. Institusi kepabeanan di pelabuhan itu memberlakukan sehari, dari 5 hari pengurusan dokumen barang dan bongkar muat.

“Sebagai tindaklanjut, kami potong jalur berkepanjangan ini menjadi satu hari, dari yang sebelumnya 5 hari," cetus Efrizal usai rapat tertutup pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Dwelling Time di aula Kantor Otoritas Pelabuhan (OP) Utama Tanjung Perak Surabaya, Kamis (15/9/2016) lalu. (sa/ms/red)

Rate this item
(2 votes)
Read 294 times