Breaking News
Time: 5:47

Ekspor Indonesia ke AS di Ujung Tanduk

Wednesday, 30 November 2016 10:48
Industri baja ekspor (ilustrasi) Industri baja ekspor (ilustrasi)

Jakarta, Expostnews.com – Komoditas ekspor dari Indonesia ke luar negeri, khususnya tujuan Amerika Serikat (AS) dikhawatirkan mengalami keterpurukan yang berujung kerugian. Hal ini terkait hasil amendemen ketentuan anti-dumping dan tindakan imbalan (anti-subsidi) yang dikeluarkan pemerintah AS.

Ketentuan yang ditengarai dapat merugikan eksportir Indonesia ke negeri Paman Sam itu juga bisa menyatakan tuduhan dumping dan subsidi yang dialamatkan kepada negara pengekspor seperti Indonesia. Apalagi ketentuan tersebut dikatikan dengan kondisi AS yang saat ini mengalami defisit pada perdagangan Indonesia-AS yang cukup besar.

“Nilai defisitnya mencapai 8,64 miliar dolar AS. Dikhawatirkan, defisit ini akan dimanfaatkan industri-industri AS pada 2017 untuk melakukan tuduhan dumping dan subsidi, menyusul pergantian Presiden AS yang baru,” tukas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward, Rabu (30/11/2016).

Menurutnya, Presiden AS terpilih diperkirakan semakin memperkuat trade enforcement AS melalui dumping, subsidi, serta peningkatan tarif. Namun, Dody berharap, para eksportir tetap optimistis terhadap perkembangan tersebut. “Kemendag akan mengawal dan berupaya melakukan pembelaan secara optimal kepada para eksportir Indonesia, apabila produk ekspornya dituduh mengandung dumping dan subsidi oleh otoritas AS,” jamin Dody.

Dijelaskan, produk dumping merupakan produk yang diimpor dengan tingkat harga jual ekspor yang lebih rendah dibandingkan harga jual normal di negara pengekspor (negara asal). Sedangkan, produk impor subsidi adalah produk impor yang mengandung subsidi dari pemerintah negara asal produk tersebut.

“Tapi, sebelum ada pengenaan terhadap kedua tindakan itu, harus diawali dengan penyelidikan oleh otoritas negara pengimpor,” ingatnya.

Sementara, Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati menyatakan, Indonesia kerap menjadi bulan-bulanan tindakan anti-dumping dan subsidi dari pemerintah AS. Diungkapkan, AS telah menginisiasi 30 penyelidikan tindakan anti-dumping dan tindakan imbalan (anti-subsidi) atas produk ekspor Indonesia.

“Dari database yang kami miliki, produk ekspor Indonesia yang diselidiki, diantaranya produk kertas, baja, produk kimia, serta makanan dan produk hasil industri lainnya,” ungkap Pradnyawati.

Ia meminta, agar para eksportir Indonesia ke AS dapat memberikan perhatian atau mengantisipasi pelaksanaan ketentuan amendemen tersebut. Selain itu, amendemen ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para eksportir Indonesia, mengingat produk unggulan Indonesia memiliki posisi pasar yang baik di AS. “Seperti tekstil dan produk tekstil, produk kertas, produk logam, serta produk perikanan dan produk lainnya. Jadi, penting kiranya untuk melakukan koordinasi dunia usaha secara intensif dengan Pemerintah Pusat dan perwakilan Pemerintah Indonesia di AS,” sarannya. (sa/ms/dag)

Rate this item
(2 votes)
Read 172 times