Breaking News
Time: 5:46

5 Grup Importir Tanjung Perak Disinyalir Kuasai Kartel Bawang Putih

Thursday, 25 May 2017 12:52

KPPU Koordinasi Satgas Pangan Polri

Surabaya, Expostnews.com – Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya diduga kuat menjadi pintu masuk utama pengaturan importasi dan distribusi bawang putih yang terindikasi kartel ke Indonesia. Bahkan, komposisi masuknya bawang putih di Tanjung Perak itu, lebih tinggi dibanding pintu masuk kedua di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara (Sumut).

“Memang ada dua pintu masuk impor bawang putih ke Indonesia, Tanjung Perak dan Belawan. Dari dua pintu masuk itu, komposisi volume impor bawang putih ke Indonesia itu 94 persen masuk di Tanjung Perak, sisanya melalui Pelabuhan Belawan Medan,” ungkap Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, Kamis (25/5/2017).

Diungkapkan, indikasi permainan impor bawang putih tersebut dilakukan beberapa pelaku usaha bidang impor di dua pelabuhan pintu masuk tersebut. Para pengusaha ini, kata Syarkawi, telah menguasai dan mengendalikan pasar hingga sekitar 50%.

“Kami mendapati, ada lima grup pelaku usaha yang menguasai impor bawang putih di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Satu grup pengusaha impor ini menguasai di Pelabuhan Belawan Medan,” jelasnya.

Syarkawi menduga, bawang putih impor yang dimainkan tersebut dengan pola pengaturan, mulai impor hingga pasokan ke pasar konsumen. Terhadap indikasi ini, lanjut Syarkawi, Rapat Komisi KPPU memutuskan, meningkatkan status dugaan kartel bawang putih dari penelitian ke tahap penyelidikan.

“Keputusan ini diambil setelah hasil penelitian yang dilakukan Investigator KPPU menunjukkan fakta-fakta yang tidak bisa diragukan. Dari mekanisme impor itu, ada dugaan pengaturan distribusi bawang putih melalui dua pintu masuk itu, termasuk di Tanjung Perak yang volumenya sangat tinggi,” tandas Syarkawi usai Rapat Komisi KPPU yang digelar, Selasa (23/5/2017).

Menurutnya, pengaturan pasokan ke pasar mulai dari impornya melalui dua pintu masuk utama impor bawang putih ke Indonesia itu telah berujung pada naiknya harga jual bawang putih di pasaran. Apalagi, saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 97% kebutuhan bawang putih untuk pasokan dalam negeri. “Hanya sekitar 3 persen yang dihasilkan sendiri di dalam negeri. Impor bawang putih Indonesia hampir semuanya berasal dari China,” tukasnya.

Syarkawi mengingatkan, pentingnya antisipasi kondisi ini, terlebih saat memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri/Lebaran yang kerap dimanfaatkan beberapa pelaku usaha tertentu untuk mengambil keuntungan yang tidak wajar. Ia mengajak, segera memberikan sinyal ke pasar, tentang posisi ketersediaan pangan, dan langkah konkret yang dilakukan apabila terjadi kenaikan harga.

“Langkah KPPU masuk dalam tahap  penyelidikan untuk komoditas bawang putih ini menjadi penting sebagai bentuk kepastian hukum, sekaligus early warning kepada pelaku usaha agar tidak coba-coba permainkan harga,” tegasnya melalui pers rilis resmi KPPU.

Dikatakan, langkah KPPU ini juga seiring dengan upaya pemerintah yang tengah berusaha keras menjaga kestabilian harga pangan, melalui pembentukan Satgas Pangan yang digagas Polri. Ia juga mengapresiasi, upaya pemerintah melalui instrumen pengawasan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dilakukan Kementerian Perdagangan.

“Kami segera berkoordinasi dengan Tim Satgas Pangan Polri terkait dugaan kartel bawang putih yang baru saja diputuskan stastusnya ke tingkat penyelidikan,” ujarnya. (sa/ms/kpd)

Rate this item
(3 votes)
Read 129 times