Breaking News
Time: 6:41

Kinerja Ekspor Dipacu, Kadin Indonesia Ajak Kemendag dan Pengusaha Kadin Jatim Sosialisasi FTA

Friday, 26 January 2018 23:50
Sosialisasi FTA di Graha Kadin Jatim di Surabaya, Jumat (26/1/2018) Sosialisasi FTA di Graha Kadin Jatim di Surabaya, Jumat (26/1/2018)

Surabaya, Expostnews.com – Menyorot kinerja perdagangan Indonesia setahun lalu, menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Buktinya, sepanjang 2017, perdagangan Indonesia mencapai surplus hingga bilangan 11,83 miliar Dollar AS.

“Semoga, kondisi yang membanggakan ini menjadi pemacu bagi pegusaha untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Untuk itu, perlu disosialisasikan terkait perjanjian perdagangan bebas yang telah kita tandatangani,” cetus Kepala Komite Tetap untuk Lembaga Multilateral dan Perjanjian Perdagangan Bebas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Wahyuni Bahar disela sosialisasi Free Trade Agreement (FTA) di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Jumat (26/1/2018).

Menurutnya. dengan adannya perjanjian perdagangan bebas tersebut, pesaing Indonesia semakin banyak pesaing, dan harus lebih siap untuk menghadapi perdagangan bebas. Sebab, negara selain Indonesia, lebih paham dan menerapkan standar yang ditentukan negara tujuan dalam semua produk yang dihasilkan. “Sementara, pengusaha Indonesia masih banyak yang belum mengetahui tentang berbagai ketentuan dan perjanjian yang telah dibuat pemerintah. Jadi, FTA ini perlu dan penting untuk disosialisasikan,” katanya.

Wahyuni mengatakan, sosialisasi FTA ini adalah yang pertama, dan akan dilanjutkan pelaksanaannya di Medan, Makassar dan Kalimantan, bisa di Balikpapan atau di Banjarmasin. Ia berharap, Kadin Indonesia dapat diberikan masukan serta bantuan guna mencari rumusan dan memperjuangkan keinginan pengusaha.

Melalui sosialisasi FTA yang bertema, ‘Upaya mewujudkan FTA yang bermanfaat dan bernilai tambah’, Wahyuni mengakui, Jatim memiliki potensi besar. Hanya saja, pengusahanya kurang waspada terhadap strategi pasar bebas yang membuat pendagangannya menjadi kian surut. “Apalagi negara-negara yang menjadi pesaing cukup aktif dalam membuat perjanjian perdagangan dengan berbagai negara tujuan ekspor,” ulasnya.

Ia mengingatkan, negara-negara yang bergabung dalam perjanjian ini, nantinya bisa merugikan pengusaha Jatim. Alasannya, biaya ekspor menjadi lebih rendah, namun barang pengusaha di negara lain turut menjadi murah. “Ssehingga, konsumen juga lebih memilih mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahyuni mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya tren perdagangan Jawa Timur. Hal ini sangat terkait dengan kualitas produk yang tidak mengalami perubahan atau perbaikan,.

“Sementara pesaing baru makin banyak dan sangat agresif. Apalagi, mereka masuk pasar dengan membuat perjanjian perdagangan. Harga menjadi lebih murah dan makin kompetitif,” urainya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Kementerian Perdagangan Bidang Perundingan Bilateral, Agung Wicaksono berharap, melalui sosialisasi ini semakin memacu kinerja ekspor Indonesia, yang bisa berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

“Standar produk bisa diterapkan dan biaya produksi bisa ditekan. Karena dengan adanya global value change potensi ekspor menjadi kian besar. Tidak mungkin satu barang hanya dipenuhi dari satu sumber saja. Dan ini bisa kita tangkap,” pungkas Agung. (bo/ms/sa)

Rate this item
(1 Vote)
Read 51 times