Breaking News
Time: 10:59

Waspada Transaksi, Eksportir Indonesia Ditipu

Saturday, 09 February 2019 11:49

Dubai, Expostnews.com – Modus kejahatan dan penipuan dengan beragam modus maupun motifnya, kini mulai merambah dunia perdagangan. Bahkan, aksi merugikan tersebut kerap terjadi dan mendera eksportir Indonesia dalam melakukan transaksi perdagangan internasional dengan pembeli luar negeri.

Menyoal kasus tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mencatat, beberapa aksi kejahatan perdagangan internasional tersebut telah menimpa para eksportir dan importir. Temuan di awal tahun 2019 itu menyebut, lokasi rawan dalam perdagangan ekspor dan impor ini berada di wilayah Timur Tengah. “Khususnya di Persatuan Emirat Arab (PEA), dan korbannya adalah eksportir asal Indonesia,” ingat Kepala ITPC Dubai, Heny Rusmiyati, Sabtu (9/2/2019).

Untuk itu, Heny meminta, para eksportir Indonesia yang melakukan transaksi luar negeri/internasional lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. Alasannya, mitra dagang di luar negeri kerap menggunakan aksi kejahatan hingga penipuan dengan beragam modus dan motifnya.

“Untuk menghindari kerugian dan kehilangan dana atau pun barang ekspor, diperlukan
kewaspadaan serta kehati-hatian para eksportir saat melakukan transaksi dengan mitra
dagangnya,” harap Heny.

Akibat meningkatnya kejahatan dan penipuan dalam bidang perdagangan internasional ini, Kemendag RI mengeluarkan imbauan kewaspadaan, khususnya kepada eksportir Indonesia. Merespon hal tersebut, Heny mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para pelaku usaha saat bertransaksi agar terhindar dari kejadian serupa. “Pertama, memperhatikan dan memastikan legalitas calon buyer,” katanya.

Menurut Heny, calon buyer harus memiliki kepastian legalitas yang resmi dan sah. Apabila ada keraguan, eksportir dapat meminta kepada ITPC atau perwakilan Pemerintah RI lainnya dalam melakukan verifikasi lapangan.

Kedua, lanjut Heny, menggunakan kontrak penjualan untuk mengikat kedua belah pihak dalam memenuhi hak dan kewajibannya, serta sebagai dasar dalam upaya penyelesaian masalah. Ketiga, menggunakan sistem pembayaran yang aman dengan membiasakan menggunakan sistem pembayaran kegiatan ekspor dan impor dengan metode yang aman.

“Seperti penggunaan Letter of Credit (L/C) atau melalui transfer, dengan disertai uang muka,” ingat Heny dalam rilis yang diterima redaksi.

Sedangkan, kewaspadaan terakhir, adalah menjaga dokumen-dokumen penting dan tidak memberikan dokumen tersebut kepada buyer. Ia meminta, dokumen tersebut tetap dipertahankan selama buyer/pembeli luar negeri belum memenuhi kewajiban persyaratannya.

“Dengan melakukan hal-hal tersebut, diharapkan keamanan dalam bertransaksi dengan buyer akan lebih terjamin, dan dapat terhindar dari tindak kejahatan yang modus dan motifnya terus berkembang,” urai Heny.

Ini kronologis yang diduga modus penipuan yang terjadi akhir-akhir ini :

1) Oknum pelaku (buyer) membuat inquiry kepada eksportir;

2) Pelaku menerima harga berapa pun yang diberikan korban tanpa melakukan penawaran;

3) Pelaku memberikan opsi pembayaran yang berisiko, yaitu pelaku berjanji akan melakukan
pembayaran 100 persen saat barang dikeluarkan dari pelabuhan dan setelah barang dibuka
bersama-sama antara kedua pihak;

4) Beberapa hari sebelum barang tiba di negara tujuan, pelaku akan mengundang korban agar datang ke negara tujuan ekspor untuk membuka barang secara bersama-sama. Dalam kontrak penjualan, pelaku juga berjanji memberikan fasilitasi berupa penginapan di hotel berbintang, makan, dan transportasi selama kunjungan.

5) Setelah korban tiba di negara tujuan, pelaku akan menyambut dan memfasilitasi korban untuk diantar menuju hotel. Kemudian pelaku mempengaruhi korban untuk segera memberikan dokumen asli pengiriman, di antaranya Bill of Lading (B/L), secepatnya dengan berbagai alas an untuk keperluan pengeluaran barang dari pelabuhan;

6) Setelah korban memberikan dokumen pengiriman asli, pelaku berusaha meyakinkan korban untuk tetap tenang dan tinggal di hotel selama beberapa hari sambil menunggu barang tiba.

7) Pada keesokan harinya, pelaku mendadak sulit dihubungi melalui telepon dan kemudian
Menghilang.

8) Pada saat itulah, diduga kuat pelaku melakukan penukaran B/L dengan mengganti nama dan alamat pengiriman barang ke calon penadah mereka;

9) Pada akhirnya, pembayaran yang dijanjikan akan diberikan setelah barang tiba dan dicek
bersama, tidak pernah ditepati. (ms/sa/dag)

Rate this item
(1 Vote)
Read 34 times