Breaking News
Time: 6:34

Listrik, Indikator Masuknya Investasi

Thursday, 22 February 2018 20:31
Multi Stakeholder Forum (MSF) PLN UIP JBTB I dalam Sinergitas PLN UIP JBTB I dan Stakeholder Dalam Pembangunan Ketenagalistrikan di Provinsi Jawa Timur dan Bali yang digelar PLN UIP JBTB I, Kamis (22/2/2018) Multi Stakeholder Forum (MSF) PLN UIP JBTB I dalam Sinergitas PLN UIP JBTB I dan Stakeholder Dalam Pembangunan Ketenagalistrikan di Provinsi Jawa Timur dan Bali yang digelar PLN UIP JBTB I, Kamis (22/2/2018)

Surabaya, Expostnews.com – Keberadaan energi listrik beserta infrastrukturnya tidak bisa dinafikan atau disisihkan dari pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Selain bisa memancing datangnya investor, listrik menjadi sebuah keniscayaan yang harus ada dan tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan manusia yang serba beragam ini.

“Memang benar. Listrik menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, apalagi di Jawa Timur yang memiliki pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata provinsi lain di Indonesia,” tukas Kepala Sub Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur, Kuntarti, Kamis (22/2/2018).

Kuntarti yang turut hadir dan menjadi pembicara dalam Multi Stakeholder Forum (MSF) PLN UIP JBTB I dalam Sinergitas PLN UIP JBTB I dan Stakeholder Dalam Pembangunan Ketenagalistrikan di Provinsi Jawa Timur dan Bali di Dyandra Convention Center Surabaya itu mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 5,4% di tahun 2018, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim sedang menggenjot masuknya investor.

“Dengan demikian, ketersediaan listrik menjadi salah satu tolak ukur dalam pembangunan ekonomi. Apabila, infrastruktur ketenagalistrikan tersedia, sudah pasti investor akan berdatangan, tapi berbeda jika listrik tidak ada? Bagaimana investor masuk, kalau infrastruktur listriknya saja tidak ada?” ingat Kuntarti.

Selama ini, lanjut Kuntarti, pertumbuhan industri di Jatim yang tergolong cepat, masih tertinggal jauh dibanding pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan industri, seharusnya bisa sertara atau minimal mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi di Jatim. “Kalau kami bandingkan, pertumbuhan industri masih dikisaran 4 persen,” ungkapnya dihadapan para undangan serta stakeholder yang hadir dalam kegiatan bertema, ‘Internalisasi Pengendalian Grattifikasi dan Leadership Feedback’.

Untuk itu, kata Kuntarti, Pemprov Jatim terus berupaya mendorong infrastruktur ketenagalistrikan tidak terganggu kendala apapun. Sebab, saat di satu daerah memiliki sumber-sumber listrik, maka lahan di sekitarnya hanya boleh digunakan untuk hal-hal tertentu. “Pemprov sangat mendukung akan keberadaan infrastruktur listrik. Karena ini (infrastruktur listrik, red) dinilai penting untuk menjaga pasokan tetap stabil dan tersedia dengan baik,” ulasnya.

Dari beberapa hal yang dipaparkan tersebut, ketersediaan lahan dan proses cepat dari adanya kepastian pasokan listrik, turut menjadi bagian yang memicu lancarnya investasi di Jawa Timur. Di acara yang digagas PLN UIP JBTB I untuk mendistribusikan sejumlah informasi terkait pengembangan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tersebut, Kuntarti mengungkapkan, selama pihak industri membuat power plant sendiri, sudah seharusnya bisa berbagi peran dengan PLN, selaku pemasok dan pengelola kebutuhan listrik milik negara.

“Karena, yang pertama ditanyakan investor ketika ingin menanamkan investasinya ke suatu daerah, selalu yang ditanyakan adalah, listriknya ada atau tidak? Kalau memang demikian, harus tegas mengatakan, listriknya tersedia. Tidak bisa, bilang tidak ada,” tuturnya. (ms/sa/jr)

Rate this item
(1 Vote)
Read 51 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS