Breaking News
Time: 10:56

Ekspansi Bisnis, Pelindo III Serius Menggeliat Industri Migas

Wednesday, 03 April 2019 10:15
Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho

Surabaya, Expostnews.com – Keberadaan pelabuhan dinilai memiliki kontribusi dan peluang besar dalam menekan cost recovery dari industri minyak dan gas (migas) di Indonesia. Alasannya, pelabuhan yang merupakan pintu masuk, dianggap berpotensi untuk mensinergikan kebutuhan dalam pelayanan logistik energi nasional.

Menimbang potensi ini, tak berlebihan jika PT Pelindo III (Persero) serius mengembangkan sayap usahanya di sektor pelayanan migas. Apalagi, setelah pengoperasian Terminal LNG terapung di Pelabuhan Benoa Bali, yang kemudian berlanjut sinergi dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk/PGN untuk kerja sama pembangunan Terminal LNG di Terminal Teluk Lamong.

Penilaian yang dicetuskan Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho ini sangat terkait dengan penguatan lini bisnis bidang energi yang dikerjasamakan melalui layanan terminal sebagai pendukung industri dan operasional di hulu industri migas. Pernyataan yang terungkap dalam worskhop migas bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Surabaya, Selasa (2/4/2019) itu, Toto Nugroho mengatakan, keseriusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepelabuhanan yang ‘bermarkas’ di Surabaya ini mulai menggeliat ekspansi industri migas.

“Karena banyak lahan konsesi Pelindo III yang berada di waterfront atau berbatasan langsung dengan laut,” kata Toto Nugroho dalam sambutannya di workshop yang dipandu moderator dan pengamat maritim ITS, Saut Gurning.

Bahkan, katanya, Pelindo III telah menyiapkan lini usaha khusus yang membidangi pengembangan integrated services shorebase terminal atau terminal pelabuhan dengan sejumlah layanan. Toto menyebut, Pelindo Energi Logistik (PEL) sengaja disiapkan untuk fokus di terminal pelabuhan dengan sejumlah layanan pendukung logistik para pelaku industri migas, seperti Terminal Gresik di Jawa Timur dengan dedicated area. “Terminal Gresik ini memberikan layanan terintegrasi dari kegiatan di laut, seperti kapal sandar, hingga kegiatan di darat, untuk lokasi penyimpanan,” ungkap mantan Direktur Pertagas ini.

Selanjutnya, konsep integrated services shorebase terminal dari layanan PEL tersebut akan di-back up lini usaha Pelindo III Group lainnya. Tak tanggung-tanggung, Pelindo III mengerahkan layanan mulai dari armada kapal offshore, transportasi truk, mooring-unmooring (penambatan), loading-unloading (bongkar muat), penyediaan alat berat, perawatan hingga suku cadang peralatan.

“Penyediaan tenaga kerja profesional operasional, pengamanan, kebersihan, dan transportasi, termasuk jasa klinik kesehatan dan catering untuk pekerja di lokasi khusus juga disiapkan untuk mendukung layanan PEL,” tutur Toto.

Dengan lengkapnya layanan dalam satu kawasan yang terdedikasi itu, diharapkan kegiatan industri migas yang menuntut standar keselamatan yang tinggi bisa dicapai secara efisien. “Ya. Penurunan cost recovery merupakan isu penting,” sambung Kepala Divisi Penunjang Operasi dan Keselamatan Migas, SKK Migas, Bagus Edvantoro pada kesempatan tersebut.

Dikatakan, ada beberapa faktor penguatan yang mempengaruhi keandalan operasional, personel yang profesional, kualitas layanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3/HSSE), termasuk juga faktor ketepatan waktu penyediaan jasa dan harga yang kompetitif. Integrasi faktor-faktor tersebut sangat dibutuhkan dalam mencapai penurunan cost recovery dalam industri migas.

“Workshop ini bisa menjadi sarana komunikasi dua arah. Para calon mitra kerja dan masyarakat bisa memahami minimum requirement yang dibutuhkan untuk bekerjasama di industri migas. Untuk itu, SKK Migas terbuka menjalin kerja sama bila memang tujuannya untuk meningkatkan efisiensi,” yakinnya di acara yang juga menghadirkan narasumber Dirut PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI Port) Hot Rudolf Marihot, Dirut PT Palindo Marine Service (PMS), Eko Hariyadi Budiyanto dan beberapa pembicara kompeten lainnya.

Sementara, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim Henky Pratoko berharap, diskusi langsung dengan SKK Migas dan Pelindo III ini, bisa menjadi peluang para pelaku bisnis logistik di jasa logistik industri migas. Menurutnya, peluang baru, sekaligus tantangan ini menjadi penting bagi pelaku usaha di asosiasinya. “Agar turut serta dengan pemerintah dalam meningkatkan efisien logistik di Indonesia,” ujarnya. (ms/sa/haf)

Rate this item
(1 Vote)
Read 74 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS