Breaking News
Time: 3:42

Laba Bersih Bank Danamon Tahun 2017 Naik Rp 3,7 Triliun

Monday, 12 February 2018 22:21
Jajaran manajemen Bank Danamon saat melakukan paparan kinerja hasil bisnis full year 2017, Senin 12 Februari 2018. Danamon membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp3,7 triliun di tahun 2017, Senin (12/2/2018) Jajaran manajemen Bank Danamon saat melakukan paparan kinerja hasil bisnis full year 2017, Senin 12 Februari 2018. Danamon membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp3,7 triliun di tahun 2017, Senin (12/2/2018)

Jakarta, Expostnews.com – Laporan keuangan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon) tahun 2017 mendapati laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 3,7 triliun atau tumbuh 38% dibanding setahun sebelumnya. Pertumbuhan laba kinerja full year 2017 ini didorong biaya dana yang lebih rendah, serta pengelolaan biaya operasional yang disiplin, dan kualitas aset yang lebih baik.

“Pertumbuhan laba ini seiring meningkatnya momentum dari inisiatif strategis jangka panjang kami,” jelas Sng Seow Wah, Direktur Utama (Dirut) Bank Danamon, Senin (12/2/2018).

Menurut Sng Seow Wah, pertumbuhan laba yang berkelanjutan ini merupakan hasil dari upaya melakukan diversifikasi sumber pendapatan. Selain itu, Bank Danamon juga melakukan perkuatan layanan nasabah, serta penerapan solusi berbasis teknologi dan digital secara komprehensif. “Indikator itu yang membukukan pertumbuhan laba Bank Danamon tahun 2017,” tutur Sng.

Bukan hanya itu. Pertumbuhan kredit UKM, Enterprise, dan Consumer Mortgage turut mengalami kenaikan. Artinya, portofolio kredit Bank Danamon terus bergeser menuju segmen non-mass market hingga mampu membukukan pertumbuhan pada segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Enterprise dan Consumer Mortgage. Kredit pada segmen UKM di Bank Danamon tumbuh 10% menjadi Rp 28,5 triliun.

“Portofolio Enterprise, terdiri dari perbankan korporasi, komersial dan institusi keuangan, tumbuh 4 persen menjadi Rp 37,6 triliun. Sedangkan, kredit Consumer Mortgage tumbuh 36 persen atau menjadi Rp 6,0 triliun,” ungkap Sng.

Bagaimana kondisi di luar perbankan mikro? Sng menjelaskan, total portofolio kredit dan trade finance tumbuh 5% menjadi Rp 122,9 triliun dibandingkan setahun lalu. Pembiayaan baru Adira Finance untuk roda dua (R2) tumbuh 5% dan untuk roda empat (R4) juga mengalami pertumbuhan sebesar 6% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pembiayaan total Adira Finance adalah sebesar Rp 45,2 triliun atau tumbuh 2 persen dibandingkan tahun lalu,” katanya.

Sng juga mengungkapkan, pertumbuhan likuiditas dan permodalan yang sehat di Bank Danamon tahun 2017. Menurutnya, dengan rasio kredit terhadap total pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) pada angka 93,3% yang menunjukkan likuiditas terkelola dengan baik. Pada saat yang sama, giro dan tabungan (CASA) turut naik 4% menjadi Rp 50,5 triliun. Sementara, rasio CASA tahun 2017 tumbuh dari 46,0% menjadi 48,3%. “Tapi, untuk deposito menurun 5 persen menjadi Rp 54,1 triliun melalui pelepasan dana mahal,” aku Sng.

Namun demikian, rasio kecukupan modal Danamon (capital adequacy ratio/CAR) tetap menjadi salah satu yang terbaik di antara bank-bank dikelompoknya. CAR konsolidasian berada di posisi 22,1%, dan CAR bank only berada pada angka 23,2%.

“Bank Danamon juga terus meningkatkan kualitas asetnya melalui penerapan prosedur pengelolaan risiko yang pruden serta proses collection dan credit recovery yang disiplin,” tambahnya.

Tercatat, tahun 2017, menajamen kredit Bank Danamon meningkat dengan memadukan semua fungsi proses persetujuan kredit di setiap lini usaha di bawah naungan Chief Credit Officer. Hal ini memungkinkan proses persetujuan kredit yang lebih independen dan meningkatkan kualitas kredit. “Sampai akhir tahun 2017, total Kredit Bermasalah (non-performing loans/NPL) turun 9 persen menjadi Rp 3,4 triliun,” jelas Sng,

Kemudian, pada saat NPL industri tahun 2017 di Bank Danamon juga mengalami kenaikan 4% dibandingkan tahun lalu. Rasio kredit bermasalah (Gross non-performing loans) Danamon tercatat pada 2,8% dengan Biaya Kredit (Cost of Credit) juga menurun 21% menjadi Rp 3,5 triliun. “Lalu, Rasio Biaya Kredit (Cost of Credit Ratio) berada pada tingkat 2,8 persen atau membaik dibandingkan setahun sebelumnya sebesar 3,5 persen,” tuturnya. (hum/sa/ms)

Rate this item
(0 votes)
Read 60 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS