Breaking News
Time: 11:10

Kinerja Investasi dan Net Ekspor Topang Pertumbuhan Ekonomi Jatim 2018

Thursday, 29 November 2018 22:14

Surabaya, Expostnews.com - Faktor kinerja investasi dan net ekspor antar daerah diyakini menjadi penopang tumbuhnya ekonomi Jawa Timur pada triwulan III/2018. Bahkan, selama 6 tahun terakhir, pergerakan ekonomi Jawa Timur ini, secara spesial turut mengerek tumbuhnya ekonomi mayoritas kabupaten/kota di atas capaian nasional.

“Tercatat, pertumbuhannya sebesar 5,40% (yoy) lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,17% (yoy). Kami yakin, ketahanan ekonomi Jawa Timur tahun 2019 tetap terjaga,” yakin Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Kamis (29/11/2018).

Difi juga menjelaskan, selama kurun waktu terakhir, inflasi Jawa Timur tercatat lebih rendah dari nasional. Ini terlihat pada bulan Oktober 2018, inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 2,9% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 3,2% (yoy). “Ya. Tingginya kinerja ekonomi Jawa Timur ini juga tak lepas dari terjaganya kinerja sistem keuangan di Jawa Timur,” ulas Difi.

Sementara, berdasarkan Regional Financial Account dan Balance Sheet (RFABS) Bank Indonesia, Difi mengungkapkan, sektor rumah tangga dan sektor korporasi merupakan pelaku utama perekonomian di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan, bahwa perkembangan ekonomi daerah di Jawa Timur masih terus berakselerasi. “Salah satunya karena didorong oleh upaya pemerintah dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi yang ada,” tutur Difi.

Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Jawa Timur 2018 yang berlangsung, Rabu (28/11/2018) di Surabaya, Difi memaparkan, dari sisi investasi, realisasi pembangunan infrastruktur pemerintah seperti jalan tol, bandara dan sarana pendukung pertanian serta investasi industri turut mendorong kinerja investasi Jawa Timur. Dilihat dari Load to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Jatim berdasarkan lokasi bank maupun lokasi proyek, terlihat sumber pendanaan proyek/investasi/industri di Jawa Timur tidak hanya dibiayai perbankan di Jawa Timur, melainkan juga perbankan di luar Jawa timur.

“Berdasarkan pemetaan industri, terdapat beberapa sektor yang memiliki potensi dikembangkan,” katanya dalam pertemuan tahunan yang juga dihadiri Gubernur Jatim Soerkawo.

Menurutnya, industri pengolahan kopi dan teh, industri perhiasan, industri pengolahan ikan dan biota laut, serta industri alas kaki, ke depan memiliki potensi untuk dikembangkan. Apabila dikembangkan dengan baik dan memperoleh investasi yang cukup, industri tersebut dapat semakin mendorong perekonomian Jawa Timur.

“Dengan berbagai perkembangan dan ketahanan ekonomi Jawa Timur itu, kami memperkirakan kinerja ekonomi Jawa Timur 2018 tetap terjaga kuat dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,4-5,8 persen dengan inflasi yang terkendali,” yakinnya.

Pada kesempatan tersebut, Difi menyampaikan prioritas kebijakan Bank Indonesia (BI) pada tahun 2019 diarahkan memperkuat ketahanan ekonomi dengan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Pertama, dari sisi kebijakan moneter, pengendalian inflasi diperkuat melalui peran TPID, kerjasama antar daerah dan peningkatan ekspor komoditas unggulan dalam rangka penurunan Current Acoount Deficit (CAD). “Kedua, kebijakan makroprudensial akan bersifat akomodatif dibuat untuk mendorong intermediasi perbankan serta peningkatan surveilance sistem keuangan,” urai Difi dalam sambutannya di hadapan seluruh Kepala Daerah di Kabupaten/Wali Kota di Jatim.

Di item ketiga, Difi mengatakan, BI mendorong pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan klaster yang difokuskan pada pengendalian inflasi. Selanjutnya, dibagian keempat dituturkan, dari sisi sistem pembayaran, BI mendorong ketersediaan instrumen pembayaran, inklusi keuangan, teknologi finansial, Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), elektronifikasi, disertai peningkatan efisiensi pengedaran uang.

“Bank Indonesia juga mendukung Jawa Timur sebagai pusat ekonomi syariah dengan mendorong program sertifikasi halal, pelatihan ekspor bagi UMKM, sertifikasi Dewan Pengawas Syariah khususnya untuk koperasi syariah dan BMT, serta sertifikasi badan nadzir untuk wakaf,” ulas Difi.

Di acara pertemuan tahunan yang diselenggarakan rutin setiap akhir tahun itu, Difi juga mengundang masyarakat Jawa Timur untuk hadir pada event tahunan Bank Indonesia bertajuk ‘Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) tahun 2018’ yang diselenggarakan, 11-15 Desember 2018 di Grand City Surabaya. “Di sana akan ada pendaftaran untuk masyarakat atau UMKM yang ingin mendapatkan sertifikasi halal, menjadi nadzir ataupun Dewan Pengawas Syariah,” ungkapnya.

Pada saat bersamaan, Soekarwo, Gubernur Jawa Timur dalam sambutannya mengatakan, jika memperhatikan Jawa Timur adalah hub untuk beragam jalur industri. Untuk itu harus didorong industri di Jawa Timur mampu memiliki daya saing. “Sehingga, dapat memiliki kualitas ekspor dan bisa mengurangi current account deficit yang sekarang sedang kita alami,” kata Pakde Karwo, sapaan Gubernur Jawa Timur ini.

Sekadar tahu, pertemuan Tahunan Bank Indonesia diselenggarakan rutin setiap akhir tahun untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia terhadap kondisi perekonomian terkini, termasuk tantangan dan prospek ke depan serta arah kebijakan Bank Indonesia. Dalam pertemuan yang dihadiri Gubernur Jawa Timur, pimpinan perbankan dan korporasi nonbank, akademisi, pengamat ekonomi, serta perwakilan sejumlah lembaga internasional itu mengusung tema ‘Mengukir Karya Nyata Bank Indonesia dalam Perekonomian Jawa Timur’.

Pada pelaksanaan PTBI 2018 ini, Bank Indonesia juga memberikan apresiasi penghargaan kepada 20 Mitra Informasi Terbaik dan Mitra Penyedia Data Terbaik tahun 2018. Penghargaan tersebut diberikan sebagai suatu bentuk apresiasi atas kinerja terbaik para pelaku ekonomi, serta merefleksikan jalinan sinergi antara Bank Indonesia dan para pelaku ekonomi. (ms/sa)

Rate this item
(1 Vote)
Read 57 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS