Breaking News
Time: 7:24

Pasar Properti Pengaruhi Pendapatan Usaha Intiland Rp 2,2 Triliun

Monday, 26 March 2018 23:29
Logo Intiland Logo Intiland

Jakarta, Expostnews.com - Secara umum, hingga berakhirnya tahun 2017, kondisi pasar properti di Indonesia belum sepenuhnya pulih. Selain masih menghadapi sejumlah tantangan pertumbuhan, pasar properti nasional juga terhalang sikap wait and see konsumen dan investor.

“Mereka (konsumen dan investor, red) lebih memilih mengambil sikap menunggu terhadap perubahan kondisi pasar,” cetus Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono, Senin (26/3/2018), mengomentari pendapatan usaha PT Intiland Development Tbk (Intiland) di tengah terjangan kondisi pasar properti yang kurang menguntungkan sepanjang 2017.

Namun demikian, kata Archied, Intiland mampu mempertahankan pencapaian kinerja keuangan yang baik di tengah kondisi pasar properti yang kurang kondusif tersebut. Berdasar laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember 2017, perseroan sukses membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 2,2 triliun. “Ada sedikit penurunan dibanding setahun lalu, atau menurun tipis dari pendapatan 2016 yang mencapai Rp 2,3 triliun,” aku Archied.

Dari perolehan pendapatan tahun 2017 itu, Archied mengungkapkan, segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha.

“Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 550,9 miliar, atau memberikan kontribusi sebesar 25 persen dari keseluruhan. Jumlah itu melonjak hingga 578 persen, jika dibandingkan tahun 2016 yang mencapai Rp 81,3 miliar,” paparnya.

Menurut Archied, segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income, memberikan kontribusi sebesar Rp 528,2 miliar atau 24% dari keseluruhan. Segmen tersebut meraih pertumbuhan pendapatan usaha senilai Rp 180,6 miliar atau 52% dari pencapaian tahun 2016 yang terbilang Rp 347,6 miliar.

“Peningkatan yang cukup signifikan ini, terutama dipicu meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan,” jelas Archied.

Begitu juga dengan segmen pengembangan mixed-use & high rise. Kata Archied, Intiland mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 703,6 miliar, atau memberikan kontribusi 31,9%. Segmen pengembangan kawasan perumahan juga memberi andil sebesar Rp 420 miliar atau 19,1%. Menurut Archied, pengakuan penjualan pada dua segmen ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 37% dan 43%.

“Penurunan ini lebih disebabkan marketing sales yang diperoleh dari kedua segmen tadi (mixed-use and high rise dan kawasan perumahan, red), belum bisa diakui sebagai pendapatan usaha tahun 2017. Ini karena menunggu progres pembangunan,” ungkap Archied.

Disisi lain, Archied menjelaskan, pada tahun lalu, perseroan memperoleh kinerja marketing sales cukup baik, dengan besaran Rp 3,3 triliun atau 106,3% lebih tinggi dari tahun 2016. Segmen pengembangan mixed-use & high rise serta kawasan perumahan memberikan kontribusi marketing sales, masing-masing sebesar Rp 1,9 triliun dan Rp 483 miliar.

“Ditinjau berdasarkan tipenya, pendapatan dari pengembangan (development income) memberikan kontribusi sebesar Rp 1,67 triliun atau 76 persen dari keseluruhan,” katanya.

Sementara, pendapatan berkelanjutan yang berasal dari segmen properti investasi, seperti penyewaan perkantoran, pengelolaan sarana olah raga, pengelolaan kawasan dan gedung, serta penyewaan pergudangan memberikan kontribusi Rp 528,2 miliar atau 24%.

Bagaimana dengan kinerja profitabilitas? Archied mengungkapkan, perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp 955,7 miliar, serta laba usaha mencapai Rp 344,9 miliar. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp 297,5 miliar, yang cenderung sama dengan perolehan tahun lalu. Di tengah tantangan besar sepanjang tahun lalu itu, perseroan berhasil menjaga kinerja laba bersih. “Kami masih mempertahankan langkah dan strategi konservatif di tahun ini,” tukasnya.

Merespon kondisi pasar di 2018, Archied menandaskan, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja usaha. Salah satunya adalah melalui pengembangan dan peluncuran proyek-proyek baru yang dilakukan tahun ini.

“Untuk meluncurkan proyek-proyek baru, kami tentu tetap mempertimbangkan perubahan arah dan kondisi pasar. Tapi, kami yakin kondisinya akan berangsur membaik. Sehingga, pasar properti akan kembali bergairah dan kondusif bagi investasi,” yakin Archied.

Manajemen Perseroan meyakini, kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik di tahun 2018. Perubahan ke arah positif tersebut antara lain ditopang sejumlah faktor. “Antara lain, arah perkembangan indikator perekonomian dan iklim investasi Indonesia yang cenderung tumbuh positif,” paparnya. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 61 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS