Breaking News
Time: 3:52
Redaksi

Redaksi

Janji Uang Balen, 4 Pengganda Uang Dibui

Tuesday, 24 April 2018 21:53

Surabaya, Expostnews.com – Perkara yang ditangani Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini masih tergolong serupa dengan karakter kejahatan penipuan lainnya. Beda tipisnya, hanya pada pola kejahatan yang digunakan dalam aksi penggandaan uang ini dengan menyaru sebagai orang pintar dan tokoh agama.

“Mereka (tersangka, red) menjanjikan dapat menggandakan uang hingga dua belas kali lipat. Kalau gagal, mereka menjanjikan uang kembali dengan istilah, ‘Uang Balen’,” jelas Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Antonius Agus Rahmanto, Selasa (24/4/2018).

Dari aksi penipuan tersebut, kata Agus, panggilan akrab Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak ini, pihaknya mendapati 4 orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Keempat pelaku yang memiliki peran berbeda dan saling mendukung aksi tersebut ditangkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya di lokasi yang berbeda.

“Tiga tersangka, masing-masing Ahmad ditangkap di daerah Bali, Taufik dan Badri kami tangkap di Surabaya, termasuk Sholeh kami tangkap juga di Surabaya. Para tersangka ini beraksi di Surabaya, Jember, Batam dan Solo,” tukas Kapolres Agus.

Agus mengungkapkan, akibat aksi yang dilancarkan 4 tersangka, para korban dari berbagai daerah di Indonesia itu dirugikan dengan bilangan bervariatif. Paling besar, nilai uang yang ditipu dan dicuri pelaku dari korban tersebut, mencapai Rp 850 juta. “Atau 61.500 Dolar AS dalam bentuk pecahan 100 Dolar AS. Kalau di rupiahkan, nilainya sekitar Rp 850 juta. Korban lainnya, antara Rp 31 juta, Rp 40 juta, Rp 100 juta,” rinci Agus.

Terungkapnya sindikat penipuan dan pencurian yang dilakukan 4 tersangka, bermula dari penangkapan Sholeh asal Probolinggo di salah satu hotel kawasan Jalan Petukangan Surabaya. Para tersangka meminta korban untuk bertemu di sebuah hotel dengan membawa sejumlah uang yang akan digandakan.

“Dalam pertemuan itu, korban diminta keluar kamar hotel untuk membeli berbagai persyaratan agar dapat menggandakan uang. Saat korban keluar dan meninggalkan uang yang akan digandakan di kamar hotel itu, para tersangka langsung membawa kabur uang tersebut,” urai alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000 ini.

Akibat perbuatannya, 4 tersangka, Sholeh warga Probolinggo, Ahmad asal Jember, Taufik dan Badri, keduanya warga Situbondo dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan hukuman pidana paling lama 5 tahun penjara. “Saya imbau, agar masyarakat lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya begitu saja. Mending, bekerja dengan baik dan dengan cara yang halal,” ingatnya. (sa/ms)

Respon Wiwid Legakan Sariyem

Surabaya, Expostnews.com – Wajah sedih dan kusut itu tak bisa ia sembunyikan, setiap melihat ketidakberdayaan Ita Wahyuni (36) yang hampir seminggu tergolek rapuh di ranjang kamar sempitnya. Linang air matanya semakin terburai, tatkala Sariyem hanya bisa terpaku, dan tak mampu berbuat dengan kondisi sakit anak angkatnya yang mengalami diare parah hingga membuat tubuhnya kurus kering tersebut.

“Sudah lima hari ini, dia sakit,” ujarnya dengan isak tertahan saat melepas pilu Ita Wahyuni yang dibawa ambulans Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya ke rumah sakit rujukan, Selasa (24/4/2018).

Ia mengaku, sudah tak bisa lagi memberikan pelayanan maksimal, apalagi mengobati anak perempuan angkatnya ke dokter. Faktor ekonomi, akhirnya menjadi alasan utama warga eks lokalisasi Jalan Tambak Asri No. 925, Kelurahan Morokrembangan, Surabaya ini tak mampu memeriksakan kesehatan, bahkan membawa anaknya ke rumah sakit.

“Saya nggak tahu harus apa dan harus kemana untuk membawa anak saya berobat,” isak perempuan usia 74 tahun ini. “Saya gak punya biaya, dan BPJS (BPJS Kesehatan, red),” sambungya dengan Bahasa Jawa medok.

Beruntung, sakit Ita Wahyuni dan nasib Sariyem bisa tertangani cepat. Meski belum diketahui pasti dugaan sakit yang menggerogoti tubuh Ita, namun respon dan jaminan pelayanan medis yang diberikan Suhendri Widyastuti, bisa melegakan keluarga Sariyem.

“Begitu mendapat laporan dari warga, saat itu juga, atau pagi tadi saya langsung ke lokasi untuk melihat langsung kondisi yang bersangkutan,” tutur Lurah Morokrembangan yang akrab disapa Wiwid ini.

Ditemui di ruangannya, Wiwid mengatakan, kondisi Ita Wahyuni memang sangat membutuhkan bantuan medis secepatnya dan tidak bisa ditunda. Hal ini mengingat, sakit yang didera Ita, sudah tergolong parah hingga tidak bisa melakukan aktivitas seperti umumnya dengan wajar. “Tapi, saya tidak bisa sebut sakitnya apa, karena masih harus dicek darah dulu untuk bisa diketahui sakitnya. Yang pasti, Ita ini sudah parah. Apalagi, keluarganya kategori warga miskin,” jelas Lurah dinamis ini.

Ia mengaku, tindakan penanganan medis yang dilakukannya, tak lebih dari sebuah tanggung jawab kepada warga yang sedang mengalami ketidakmampuan secara ekonomi. Ia juga tak ingin berlama-lama menunggu untuk secepatnya mengirim Ita ke rumah sakit, agar mendapat perawatan dan pengobatan semestinya. “Karena, saya juga tak ingin ada risiko lain yang bisa mengkhawatirkan lingkungan sekitar dengan sakit yang dialami Ita,” tuturnya. (sa/ms/krs)

Khofifah: Bahagia itu Membahagiakan Sesama

Saturday, 21 April 2018 23:56

Rela Lari 2 Kilometer

Surabaya, Expostnews.com - Kebahagiaan pada diri sendiri, tak ubahnya seperti membahagiakan sesama atau orang lain. Pesan penuh makna kerelaan dari Khofifah Indar Parawansa (KIP) ini, sekaligus menunjukkan kesederhanaannya kala menyapa dalam setiap pertemuan, maupun bertemu dengan masyarakat.

“Kalau orang lain bahagia, kita juga bahagia. Membahagiakan orang akan memberikan kebahagiaan juga pada diri kita,” pesan Calon Gubernur (Cagub) Jatim ini di sela menghadiri undangan peringatan Hari Kartini dari pengurus RW di Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya, Sabtu (21/4/2018).

Khofifah yang sempat berlari sejauh 2 kilometer untuk menghadiri undangan mendadak dari RW setempat itu mengatakan, rela memberikan apa yang bisa dilakukan untuk membahagiakan orang lain. Menurutnya, bila orang lain bahagia, dirinya pun turut bahagia. “Penghormatan yang kita berikan, rasanya apa yang bisa kita lakukan,” tuturnya usai blusukan dan menyapa pedagang Pasar Manukan.

Kenapa Khofifah rela berlarian hingga sejauh 2 kilometer? Cagub nomor 1 yang berpasangan dengan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jatim, Emil Dardak ini mengaku, hanya ingin bertegur sapa dengan para lansia yang sedang mengadakan acara Hari Kartini. Ia mengatakan, para lansia tersebut hanya ingin bertegur sapa dan disapa.

“Apa sih yang bisa kita berikan pada lansia? Tidak lebih dari itu (disapa, red). Mereka hanya ingin kita bersapa. Mereka ingin, kita tahu aktivitasnya. Sesederhana itu,” kata Khofifah yang masih bugar meski berlari sejauh 2 kilometer.

Bagaimana kisah Cagub Jatim ini sampai berlarian? Kala itu, sebelum sore harinya berkunjung ke Kampung Ilmu di Jalan Semarang Surabaya, tepat di hari Sabtu (21/4/2018), seorang pengurus RW di Manukan Kulon mengetahui kehadiran Khofifah yang sedang menyapa para pedagang di Pasar Manukan. Mendadak, pengurus RW setempat itu datang menghampiri Khofifah dan mengajaknya untuk berkunjung ke acara peringatan Hari Kartini.

Mendapat undangan tiba-tiba itu, Khofifah langsung mencari tahu tempat acara berlangsung. Begitu tahu, ternyata lokasinya lumayan jauh dari aksi menyapa di Pasar Manukan. “Tanpa pikir panjang, saya memilih berlari menuju lokasi acara,” aku Khofifah.

Saat berlari, Khofifah tidak lupa menyapa warga yang ingin bersalaman. Beberapa kali, Khofifah memperlambat larinya demi melayani warga. Tak sedikitpun terlihat kelelahan, meski ia harus berlari ke lokasi undangan mendadak tersebut. Khofifah begitu menikmati perjalanannya dengan berlari, sembari tetap mengembangkan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya yang dibalut jilbab putih.

Setibanya di lokasi, Khofifah tidak bisa masuk, karena acara digelar di Balai RW setempat. Saat tahu kedatangan Khofifah, para ibu yang sedang menggelar acara tiba-tiba berhamburan keluar untuk menyambut hadirnya Khofifah. Mereka saling berebut untuk bersalaman, berfoto dan memberi dukungan kepada kontestan Pilkada Jatim 2018 yang punya slogan ‘Wis Wayah e’ ini. (sa/ms/tr)

Pengacara: 5 Tersangka Ditetapkan

Surabaya, Expostnews.com - Seorang dari 5 pelaku dugaan penganiayaan terhadap dua korban di Jimmy’s Club & Lounge Surabaya, Januari 2018 lalu, belakangan diketahui merupakan tokoh pengusaha muda di Jawa Timur. GBK, demikian inisial pelaku tersebut, terbukti dipersangkakan telah menganiaya korban hingga memar dan babak belur.

Bahkan, pengacara korban, Peter Sosilo dari Garuda Muda Law Firm menyebut, penganiayaan yang dilakukan 5 tersangka, termasuk GBK sudah tergolong sadis. Akibat perlakuan di luar kemanusiaan dan kewajaran itu, lima tersangka yang terdiri, dua perempuan, serta 3 laki-laki dijerat Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan.

“Tersangka wanita yang berinisial DMAD dan JBAG ini adalah bersaudara. Sedangkan, 3 pelaku lainnya adalah laki-laki dengan inisial GBK, MR, dan MB,” ungkap Peter.

Menurutnya, sosok GBK, selain pengusaha muda, juga pernah menjabat periodesasi kepemimpinan di Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Jatim sebagai Ketua Umum. GBK, yang jabatannya digantikan Mufti Aimah Nurul Anam sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Jatim periode 2018-2021 itu, lanjut Peter, sungguh tidak bisa ditoleransi atas perbuatan keji yang dilakukan bersama 4 tersangka lainnya terhadap dua korban, Handy dan Jimmy pada, 21 Januari 2018 lalu.

“Ini adalah kasus penganiayaan yang sangat sadis. Tidak peduli siapapun yang melakukan harus dihukum sesuai prosedur,” sambung Tony saat memberikan keterangan pers, Kamis (19/4/2018) petang.

Terkait Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP), diakui sudah diterima dari kepolisian, dalam hal ini Polrestabes Surabaya. Hanya saja, tambah Peter, belum ada tindakan konkret dari penyidik untuk melakukan penahanan terhadap 5 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam penganiayaan tersebut.

“Bukti CCTV sudah ada, visum dari dokter pun juga ada di BAP, tapi kenapa kelimanya tidak ditahan. Sampai saat ini, lima tersangka masih berada di luar. Ada apa ini? Sepertinya, ada ketidaksempurnaan dalam penyidikan,” ungkapnya.

Ia merasa, penyidik belum memanggil saksi lainnya untuk dimintai keterangan saat peristiwa di Jimmy’s Club & Lounge di area JW Marriott Hotel, Jalan Embong Malang Surabaya pada dini hari lalu. Untuk itu, ia bersama tim pengacara korban tetap mendesak, agar secepatnya Polrestabes Surabaya melanjutkan proses hukum dari kasus kliennya ini.

“Kenapa hanya 2 CCTV yang dijadikan barang bukti, padahal ada 5 CCTV lainnya yang bisa mengungkap awal mula kejadian. Kemudian, penyidik belum memanggil saksi dari pelayan cafe yang secara langsung mengetahui kejadian pemukulan,” cetusnya.

Sekadar mengingat, peristiwa penganiayaan ini terjadi di sekitar pukul 02.30 Wib, Minggu (21/1/2018) di Jimmy’s Club & Lounge yang berada di Hotel JW Marriott Surabaya. Kala itu, dua korban, masing-masing Jimmy (32) dan Handy (25) masuk ke Jimmy’s Club. Pada saat bersamaan, sudah terjadi keributan antar dua kelompok di dalam cafe basement tersebut. “Saya dan Handy pilih keluar, karena ada keributan,” kata Jimmy saat menunjukkan berkas laporan polisi terkait penganiayaannya.

Saat melangkah keluar lorong pintu club, Jimmy bertanya pada Handy, tentang adanya keributan tersebut. Sayangnya, ucapan Jimmy terdengar perempuan berinisial DMAD yang terlibat dalam keributan. “Gak nyangka, perempuan itu malah marah dan mengejar saya. Lalu, Handy berusaha menghalangi perempuan yang mengejar saya. Tapi, si perempuan yang tidak saya kenal itu malah ganti mencekal kerah baju saya dengan ungkapan makian," sambung Handy sembari menirukan ujaran bernada miring dan beraroma SARA dari perempuan tersebut.

Anehnya, tutur kedua korban, perempuan yang diketahui berinisial DMAD mengaku kepada teman-temannya, telah dipukul Handy, hingga terjadi pengeroyokan. Oleh lima tersangka, Handy dan Jimmy dipukul dan ditendang tanpa ampun hingga bersimbah darah, terutama di bagian muka dan punggung.

Berdasarkan hasil visum RS SILOAM, Handy mengalami luka di bagian pelipis mata kanan dan kiri, leher serta punggung. Sedangkan, Jimmy luka di bagian wajah dan punggungnya. Tanpa menunggu lama, pagi harinya, Minggu (21/1/2018), kedua korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Tegalsari. Namun, Polsek Tegalsari melimpahkan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya. Ternyata, sejak pelimpahan dari Polsek Tegalsari, proses hukum korban tidak ditangani sebagaimanamestinya.

“Saya sangat menyesalkan, ketidakseriusan pihak kepolisian atas kasus ini. Saya ini ibu dari dua korban, dan sudah sewajarnya saya menuntut agar Polisi segera menangani kasus anak saya agar tidak berlarut-larut,” desak Mimie Lie. (sa/ms/po)

Page 1 of 779

SPORT



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS