Breaking News
Time: 3:48

Lima Isu Ini Dasar Holcim Pertahankan Kualitas Hidup

Tuesday, 01 November 2016 00:47
Oepoyo Prakoso, LafargeHolcim Awards Coordinator untuk Indonesia (tengah) dan Ary Indra, Principle Aboday Architect (kanan), menjadi pembicara dalam acara media gathering LafargeHolcim Awards, Kamis (27/10/2016) Oepoyo Prakoso, LafargeHolcim Awards Coordinator untuk Indonesia (tengah) dan Ary Indra, Principle Aboday Architect (kanan), menjadi pembicara dalam acara media gathering LafargeHolcim Awards, Kamis (27/10/2016)

Jakarta, Expostnews.com – Urbanisasi dan peningkatan kualitas hidup akan menjadi tantangan masa depan yang harus dipecahkan permasalahannya melalui ide atau gagasan konstruktif. Agar tercapai tujuan ini, perlu diperjelas prinsip mempertahankan habitat manusia untuk generasi mendatang dengan menerapkan 5 target isu atau kriteria konstruksi berkelanjutan.

“LafargeHolcim Foundation telah mengidentifikasi the five target issues. Agar perencanaan, pembangunan dan konstruksi dapat berperan aktif dan keberlanjutan,” cetus Profesor Gunawan Tjahjono, Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia (UI), Senin (31/10/2016).

Dalam paparannya di Forum Arsitektur Archinesia #17, Kamis (27/10/2016) lalu, anggota dewan juri Holcim Awards Asia Pacific 2008 ini menyebut, kelima isu yang sekaligus menjadi dasar penilaian dalam LafargeHolcim Awards itu adalah Progress - inovatif dan dapat dicontoh, People - etis dan melibatkan masyarakat, Planet - keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam, Prosperity - layak secara ekonomi, dan Place - memenuhi unsur estetis,” jelas Profesor Gunawan.

Menurutnya, selama 60 tahun urbanisasi, populasi perkotaan meningkat rata-rata sebesar 4,4%. Puncaknya pada 2013, populasi perkotaan di Indonesia mencapai 130 juta jiwa atau 52% dari total penduduk Indonesia. “Jadi, kurang dari 10 tahun sejak saat ini atau tepatnya pada 2025, populasi perkotaan ditaksir meningkat menjadi 68 persen,” urainya.

Sementara, Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager - Holcim Indonesia & LafargeHolcim Awards 5th Cycle Country Coordinator mengatakan, masyarakat yang berbondong-bondong pindah dari desa ke kota memicu maraknya pembangunan yang dapat berdampak langsung pada kualitas hidup serta lingkungan di dalamnya. Dengan begitu, cara merancang serta membangun sangat dipengaruhi kehidupan serta ruang dalam melaksanakan aktivitas.

“Itulah mengapa LafargeHolcim Foundation menjalin kemitraan untuk mempromosikan konstruksi berkelanjutan di sepanjang rantai nilai dari desain hingga pembangunan,” ujar Oepoyo Prakoso.

Terkait kompetisi LafargeHolcim Awards, Oepoyo menjelaskan, kompetisi ini dibagi dalam lima wilayah geografis. Masing-masing wilayah akan dinilai juri dan tim ahli dari wilayah tersebut.

“Indonesia yang termasuk dalam wilayah Asia Pasifik akan dinilai dewan juri yang diketuai oleh Donald Bates, Chair of Architectural Design dan Profesor dari the University of Melbourne serta Direktur dari LAB Architecture Studio, Australia,” katanya.

Sedangkan, para pemenang akan diumumkan pada pada pertengahan tahun 2017 dan secara otomatis lolos ke kompetisi LafargeHolcim Awards global pada 2018. Tujuan utama LafargeHolcim Foundation adalah memilih dan mendukung berbagai inisiatif yang melampaui solusi teknis untuk mempromosikan pendekatan pembangunan berkelanjutan dan solusi yang merangkul keunggulan arsitektur serta meningkatkan kualitas hidup.

“Sejalan dengan itu, Holcim Indonesia akan terus mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang memberi dampak positif berkelanjutan,” tuturnya.

Ia berharap, LafargeHolcim Awards dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat umum maupun pakar Arsitektur di Indonesia, untuk terus berkarya menciptakan berbagai bangunan dengan berbagai manfaat. “Kami berharap penyelenggaraan kompetisi ini juga akan semakin baik di tahun-tahun mendatang,” ingat Oepoyo.

Dijelaskan, LafargeHolcim Awards yang kini memasuki putaran kelima terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori utama dan Next Generation. Kategori utama dibuka bagi arsitek, perencana, insinyur, mahasiswa jurusan terkait, pemilik proyek, pengembang dan kontraktor yang menunjukkan praktik konstruksi berkelanjutan.

“Terutama pada penggunaan teknologi, aspek lingkungan sosial ekonomi, dan budaya dalam perencanaan dan konstruksi proyeknya. Proyek harus telah mencapai tahap lanjutan dari sisi desain, memiliki probabilitas tinggi untuk dieksekusi, dan belum memulai proses pembangunan sebelum 4 Juli 2016,” katanya. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 224 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS