Breaking News
Time: 7:14
Displaying items by tag: pasar

Jakarta, Exspost.com – Maskapai penerbangan Singapore Airlines (SIA) akan mengerahkan besaran kapasitas seiring permintaan pasar yang terus berkembang. Ini menjadi target SIA untuk bertindak cepat terhadap tantangan pasar tersebut.

“Termasuk kegiatan promosi yang akan dilakukan di pasar-pasar yang relevan,” yakin Glory Henriette, Manager Public Relations, Singapore Airlines, Selasa (21/4/2015).

Meski sepanjang bulan Maret 2015, sistem angkutan penumpang SIA mengalami pertumbuhan (diukur dalam pendapatan penumpang tiap kilometer), namun sebelumnya, sempat menurun 1% (diukur dalam kilometer kursi yang tersedia). Kini, pada periode sepanjang Maret 2015 meningkat sebesar 1,2%. “Sehingga hasilnya, tingkat isian penumpang (passenger load factor) mengalami peningkatan sebesar 1.6 persen menjadi 76.6 persen,” papar Glory.

Sementara, indikator terhadap dukungan besarnya permintaan pasar adalah, tingkat isian penumpang (Passengers Load factor-PLF) untuk daerah Pasifik Barat Daya dan Asia Barat/Afrika. Dukungan permintaan pasar tersebut, juga disertai oleh konsolidasi kapasitas. “Tapi memang, tingkat isian penumpang di rute-rute Asia Timur menurun. Itu dikarenakan kenaikan kapasitas yang tidak diimbangi dengan permintaan pasar,” jelasnya.

Disisi lain, peningkatan sistem angkutan penunumpang SilkAir mengalami sebesar 12.8%, dibandingkan pertumbuhan kapasitas periode yang sama tahun lalu (year-on year) 13.2%. Oleh karenanya, tingkat isian penumpang (passenger load factor) menurun sebesar 0,2% menjadi 68,3%.

“Untuk kawasan Asia Timur dan Pasific, passenger load factor SilkAir menurun. Ini karena pertumbuhan kapasitas lebih besar daripada pertumbuhan angkutan penumpang. Sedangkan, untuk kawasan Asia Barat, perpaduan antara pertumbuhan angkutan penumpang dan penurunan kapasitas, berkontribusi pada kenaikan tingkat keterisian,” tutur Glory.

Secara keseluruhan tingkat keterisian kargo (cargo load factor - CLF) menurun sebesar 0.2%. Hal ini disebabkan lalu lintas kargo (diukur dalam kilometer-ton-angkutan) turun menjadi 1.8% dari total keseluruhan penurunan kapasitas sebesar 1.6%. “Tingkat isian meningkat di seluruh kawasan rute penerbangan kecuali Asia Timur dan Eropa, dimana permintaan pasar tidak dapat mengimbangi pertumbuhan kapasitas,” jelasnya. (esp1)


Editor : Syarif Ab

Surabaya, Exspost.com – Beberapa perusahaan besar di seluruh Indonesia diyakini masih minim pemahaman akan sertifikasi. Masih beruntung, masih ada diantara perusahaan maupun buruh atau karyawannya sudah melewati sertifikasi.

“Tapi, masih sangat banyak sekali perusahaan dan karyawan yang belum tersertifikasi dan paham. Prosentasenya 80 berbanding 20. Artinya, 80 persen belum paham sertifikasi, sisanya yang 20 persen mungkin sudah paham,” jelas Ketua Badan Koordinasi Sertifikasi dan Profesi (BKSP) Jawa Timur, Setiyo Agustiono, Rabu (15/4/2015).

Tingginya angka tersebut membuat Badan Koordinasi Sertifikasi dan Profesi Jatim harus ekstra menggenjot dengan sosialisasi secara menyeluruh di berbagai asosiasi, diantaranya Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan beberapa perusahaan besar lainnya. Jika hal tersebut tidak segera dilakukan, dampaknya barang yang diproduksi oleh perusahaan yang belum tersertifikasi tidak bisa di ekspor.

Senada dengan Agustiono, Ketua Bidang Perencanaan Sertifikasi BKSP Jatim, Bagus Taruno Legowo menuturkan, ada sekitar 90% perusahaan dan buruh/karyawannya yang belum tersertifikasi. “Khawatirnya, yang belum tersertifikasi ini sulit dalam persaingan ekspor,” tandasnya.

Menyoal minimnya pemahaman dan sertifikasi ? Bagus menyatakan, sertifikasi adalah hal baru dalam dunia usaha. Oleh karenanya, yang tidak tersertifikasi maupun yang belum paham soal sertifikasi harus tetap diberikan pemahaman. “Terutama kepada stakeholder yang ada. BKSP terus berupaya mengejar target  dalam sosialisasi, agar para stakeholder dalam menghadapi perubahan perekonomian dunia bisa siap,” ulasnya. (don/esp7)


Editor : Syarif Ab

Harga Sayur Naik, Cabai Anjlok

Sunday, 12 April 2015 00:05 Published in Peristiwa

Surabaya, Exspost.com – Harga komoditas cabai di pasar lokal Surabaya cenderung turun. Hal ini berbeda dengan komoditi pangan lain, seperti kelompok sayuran, khususnya sawi putih.

“Biasanya harga sayur per kilogram sekitar Rp 2.000. Tapi, sekarang harga sayuran naik Rp 6.000/kg. Sedangkan, cabai harganya malah merosot,” tutur Hj. Siti Maimunah (52) salah seorang penjual cabai di Pasar Keputran, Surabaya ditemui, Sabtu (11/4/2015).

Pantauan di Pasar Keputran Surabaya, harga cabai yang sebelumnya dikisaran Rp 20.000/kg hingga Rp 23.000/kg, kini anjlok menjadi Rp 10.000/kg sampai Rp 5.500/kg. Turunnya, harga cabai ini sebenarnya bukan karena imbas naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). “Penyebab utamanya itu musim,” ungkap Maimunah.

Menurutnya, musim penghujan sudah mulai berganti ke kemarau. Katanya, para petani cabai ini lebih sering memanen saat musim kemarau dibanding musim penghujan. “Turunnya harga cabai ini terjadi belum ada satu minggu,” jelasnya.

Apabila musim kemarau seperti ini, stok cabai sangat berlimpah. Namun berbeda apabila musim penghujan tiba. “Banyak lombok (baca : cabai) yang busuk. Akibatnya, harga cabai jadi mahal, karena stoknya yang tidak ada,” ujar pedagang lainnya yang enggan disebut namanya. (don/esp1)


Editor : Syarif Ab

Pasar Online Belowcepek.com Patok 10 Ribu Pembeli

Thursday, 26 March 2015 16:59 Published in Lifestyle

Surabaya, Exspost.com - Pakaian perempuan masih menempati posisi menguntungkan di pasar dunia maya dalam negeri. Ini yang mendasari optimisme online shop belowcepek.com meraih target 10 ribu/hari dengan sasaran pembeli di usia 15-45 tahun.

"Saat ini saja, pembeli kami sudah mencapai 1.500 per hari," ujar Founder sekaligus CEO online shop belowcepek.com, Riana Bismarak dalam keterangannya, Kamis (26/3/2015).

Menurutnya, mayoritas peminat belanja online di belowcepek.com untuk busana perempuan masih menempati 90%. Diakui, tingginya minat tersebut dikarenakan harga yang ditawarkan dibawah serba Rp 100 ribu.

"Usaha kami ini karena dilandasi minat yang diikuti respon positif dan daya beli konsumen yang sejalan dengan bertambahnya percepatan informasi dan teknologi," tuturnya saat di Surabaya kemarin.

Riana juga mengungkapkan, pengaruh informasi dan teknologi (IT) langsung maupun tidak langsung akan mengangkat pasar produk buatan lokal. Dengan begitu, secara otomatis produk dalam negeri juga mampu bersaing di pasar bebas tahun ini.

"Karena, saat ini produk lokal jauh lebih trendy dan tak kalah bersaing dengan produk mancanegara," ulasnya.

Diakui, melalui 70 usaha kecil dan menengah (UKM) binaan, pengenalan buatan produk lokal brand optimis mampu meraih 80% penetrasi pasar. Ditambahkan, produk dalam negeri yang dibina melalui UKM tersebut tersebar di wilayah Bekasi, Tangerang, Bali dan Jogjakarta. "Karena itu, berdasar analisa kunjungan smart shopper (sebutan penggemar belanja online belowcepek.com, red) terus meningkat dari hari ke hari," ujar perempuan yang sudah 16 tahun menjabat direktur sebuah perusahaan kepariwisataan.

Riana mengatakan, online shop produk aneka kebutuhan baju hingga assesories perempuan ini sudah ditekuninya selama 4 tahun. Diyakini, kepadatan aktivitas serta kesibukan menjadi alternatif pilihan orang melakukan belanja online. "Karena lebih praktis dan efisien," ingatnya.

Koleksi fashionable untuk busana kerja, smart dan casual dengan kategori produk di belowcepek.com terbagi mulai dari hijabers, busana untuk ibu menyusui (busui) dan pakaian anak perempuan. Semua itu melengkapi kebutuhan smart shopper tampil trendy. "Tentunya tetap menawan di setiap kesempatan," tukasnya. (jep/esp7)


Editor : Syarif Ab

Page 1 of 3



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS