Breaking News
Time: 5:51
Ragam

Surabaya, Expostnews.com – Langkah kedepan untuk memajukan peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) meraih peluang lebih besar dalam usahanya tengah dilakukan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim. Upaya ini, sekaligus mengajak UMKM lebih peka terhadap pendekatan teknologi dan digitalisasi dalam usaha.

“Ini sangat penting untuk menghadapi era disrupsi ekonomi,” kata Ketua Umum HIPMI Jatim Giri Bayu Kusumah di sela-sela pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) HIPMI Jatim, Rabu (13/12/2017).

Giri, demikian ia disapa menjelaskan, cepatnya dunia usaha yang bergerak melalui digitalisasi, saat ini hampir menggejala di seluruh sendi kehidupan. Sebenarnya, lanjut Giri, fenomena disrupsi ini mampu memunculkan peluang baru bagi banyak orang, termasuk usahawan. “Tapi, di sisi lain juga menghasilkan kenyataan pahit, berupa limbungnya entitas usaha yang tak adaptif terhadap perubahan. Untuk itu, UMKM harus sadar, bahwa bisnis tak lagi sama seperti dulu. UMKM harus berubah dan memahami tentang sebuah perubahan,” tuturnya.

Ia merinci, ada sejumlah program yang telah dijalankan HIPMI untuk membawa UMKM Jatim bisa eksis di era disrupsi ekonomi tersebut, termasuk mengatasi masalah pendanaan. Guna mewujudkan ‘impian’ itu, HIPMI telah menjalin ketja sama resmi dengan salah satu bank swasta nasional sejak enam bulan lalu.

“Bisnis-bisnis zaman now yang mengandalkan ide dan kekayaan pikiran, selama ini tidak cukup kuantitatifuntuk dihitung perbankan sebagai bisnis yang layak dibiayai,” ingatnya.

Giri menilai, pengusaha muda juga tidak bankable karena ketiadaan agunan atau lamanya berbisnis yang baru seumur jagung. Kini, HIPMI Jatim memfasilitasi itu lewat kerja sama dengan bank. “Jadi, HIPMI menjadi semacam ‘bapak angkat‘ yang menyatakan, bisnis anak muda ini layak dibiayai,” yakinnya.

Dalam program kerja sama dengan perbankan ini, kata Giri, sudah ada lebih dari 200 anak muda yang memanfaatkannya dengan plafon pembiayaan Rp 25 juta hingga Rp 500 juta. Program kedua, adalah mendorong pendekatan teknologi dalam bisnis UMKM, salah satunya dengan konsep penerapan teknologi tepat guna.

“HIPMI Jatim rutin menggelar workshop teknologi tepat guna dengan melibatkan para praktisi terbaik di bidangnya. Total telah digelar 12 kali workshop terkait itu, dan diikuti 91 UMKM,” katanya.

Mengapa pendekatan teknologi ini penting? Disela pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) HIPMI Jatim, Selasa (12/12.2018) kemarin, Giri menjelaskan, UMKM lokal belum mempunyai tingkat efisiensi yang optimal. “Kebanyakan dari UMKM belum mampu menciptakan skala ekonomi, antara lain karena problem teknologi,” paparnya.

Sementara, Tingkat Produktivitas Total (TPT), UMKM jauh tertinggal, karena semakin tak efisien. TPT adalah cara ukur kinerja usaha dengan menghitung nilai tambah per kesempatan kerja yang diciptakan, TPT-nya mencapai 170 kali dari usaha kecil, dan usaha menengah mempunyai 3 kali TPT usaha kecil.

”Ini menunjukkan, betapa UMKM hanya besar dari jumlah unit usaha, tapi dalam skala bisnis, kalah jauh dibanding perusahaan padat modal dan teknologi,” ulas Giri.

Ditambakan, momen Musda HIPMI Jatim ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat komitmen guna memenangkan anak muda di tengah persaingan bisnis nasional. Beruntung, HIPMI Jatim menggelar musyawarah daerah dan dihadiri 38 perwakilan kabupaten/kota.

“Momen ini menjadi penguat komitmen HIPMI untuk terus berdiri bersama UMKM-UMKM agar semua potensi eonomi Jatim bisa menang di tengah persaingan global,” ingatnya. (sa/hum/s)

Tahan Gempa 1000 Tahun

Surabaya, Expostnews.com – Jembatan Holtekamp yang menghubungkan daerah Hamadi di Distrik Jayapura Selatan (sisi barat jembatan) dan daerah Holtekamp di Distrik Muara Tami (timur jembatan) Provinsi Papua telah selesai dibangun konsorsium tiga kontraktor nasional, PT Pembangunan Perumahan (PP), Hutama Karya (HK), dan Nindya Karya (NK). Jembatan tahan gempa hingga seribu tahun yang dikerjakan sejak Juli lalu itu juga telah dikeluarkan dari bengkel PT PAL Indonesia, Kamis (30/11/2017).

“Kami sudah pindahkan bentang tengah jembatan yang kami bangun di bengkel PT PAL ke atas kapal tongkang. Selanjutnya, kami kirim bentang tengah jembatan Holtekamp itu ke Jayapura,” kata Project Manager Consortium PP, HK dan NK, Rizki Dianugrah di sela proses mengeluarkan bentang tengah jembatan (log out) dari bengkel PT PAL ke atas kapal tongkang.

Dijelaskan, setelah menyelesaikan proses log out, jembatan yang menyedot Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 858 miliar ini rencananya diberangkatkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mochamad Basoeki Hadimoeljono ke Jayapura, Papua pada, 3 Desember 2017.

"Perjalanan yang ditempuh untuk mengangkut bangunan utama jembatan itu diperkirakan memakan waktu 30 hari. Waktu tempuh sudah termasuk perhitungan jika terjadi cuaca buruk di laut,” yakin Rizki didampingi Commercial Manager Consortium PP, HK dan NK, Ery Supratomo.

Bentang tengah setinggi 21 meter yang dibangun di PT PAL Indonesia itu, lanjut Rizki, terdiri dari dua bangunan yang masing-masing memiliki berat 2.000 ton, dengan panjang 120 meter dan lebar 22 meter. Setelah itu, dua bentang tengah jembatan tersebut dirangkai dengan konstruksi jembatan lainnya yang telah dibangun di Jayapura. “Kalau proses merangkainya tidak begitu lama waktunya. Bisa sehari, atau paling lama semingu selesai,” katanya.

Rizki memastikan, bangunan fisik Jembatan Holtekamp yang panjang totalnya mencapai 1,3 kilometer itu rampung seluruhnya pada bulan Januari tahun depan. Namun, begitu bangunan fisik diselesaikan, masih harus memasang piranti lainnya, seperti lampu dan lain sebagainya.

“Kami target selesai bulan September tahun depan sesuai kontrak kerja. Tapi, kami tetap berusaha mempercepat, agar sebelum Lebaran tahun depan, atau bulan Juni 2018, sudah selesai semuanya dan bisa dioperasikan,” papar Rizki.

Ditanya tiga bentang lainnya? Rizki mengungkapkan, selain bentang utama Jembatan Holtekamp yang dikerjakan di PT PAL Indonesia, tiga bentang lainnya dikerjakan di PT Waagner Biro Indonesia, Cikande, Banten, serta dua kontraktor asal Pasuruan, Jawa Timur, PT Boma Bisma Indra dan PT Bromo Steel Indonesia.

“Tiga bentang yang dikerjakan di luar PT PAL Indonesia dengan panjang masing-masing 50 meter itu sudah selesai, dan telah dirangkai dengan kontruksi Jembatan Holtekamp di Jayapura,” tutup Ery. (sa/ms/han)

Surabaya, Expostnews.com – Menyusul sukses tahun 2016 penyelenggaraan pameran Indonesia Bagian Timur (IBT), kini di tahun kedua, IBT kembali digelar. Hotel Garden Palace Surabaya selaku tuan rumah, bakal menggelar IBT Expo 2017 selama lima hari sejak dimulai 29 November 2017 hingga berakhir 3 Desember 2017.

“Jangan khawatir, di hari terakhir, mulai 4 sampai 6 Desember 2017, kami masih bersinergi dengan menggelar Pameran Potensi Daerah Perbatasan,” jelas Ketua Panitia Penyelenggara IBT Expo 2017, Mulyadi Yasin Saleh, Kamis (23/11/2017).

Mulyadi mengaku, peserta IBT Expo 2017 cukup meningkat dari penyelenggaraan pameran sebelumnya. Hal ini tak lepas dari partisipasi Kabupaten Buleleng, Saumlaki, Gresik dan Malang yang menyatakan hadir dalam pameran. “Kami memrediksi, pengunjung IBT 2017 naik dua kali lipat dari pengunjung tahun lalu. Ini juga karena, kami sudah menyebar 5 ribu undangan, masing-masing 2 ribu orang dari Indonesia Timur dan selebihnya kami sebar ke seluruh Indonesia,” aku lelaki yang juga menjabat Hotel Manager Garden Palace Hotel Surabaya tersebut.

Keyakinan Mulyadi ini semakin melandasi target market dari tujuan diselenggarakannya IBT Expo tahun 2017. Ia menyebut, ada dua item yang digadang, yaitu mampu menaikkan transaksi baru di pameran dan terjualnya office. “Sekaligus, pameran IBT tahun 2017 ini memberikan wadah dan menjembatani pengusaha serta usaha di Indonesia Timur berinvestasi di Jawa Timur,” tuturnya.

Di agenda tahunan IBT Center ini, Mulyadi mengungkapkan, lBT Expo tahun 2017 mampu mewujudkan sinergi yang baik antara IBT Center selaku penyelenggara dengan pemerintah setempat, seperti di Kementrian, Pemerintah Provinsi NTT dan Jawa Timur. Dengan harapan, bersama-sama memajukan produk unggulan dalam negeri. “Apa yang sudah kami siapkan ini semoga mampu menjadi ajang pertukaran informasi, promosi pariwisata, serta menghadirkan transaksi perdagangan dengan nilai investasi dan kontrak kerjasama yang diharapkan oleh semua pihak,” jelasnya didampingi Rahmi D Pris, Director of Sales & Marketing Garden Palace Hotel Surabaya.

Menurutnya, IBT Expo 2017 merupakan pusat informasi, promosi, perdagangan dan pariwisata Indonesia Timur yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas bisnis dan bertempat di Surabaya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki posisi strategis di pusat persimpangan jalur bisnis dan perdagangan.

“Surabaya menjadi pintu gerbang Indonesia Timur dengan infrastruktur bisnis, perdagangan dan industri yang matang dan terus berkembang hingga saat ini. Dengan keunggulan posisi di Surabaya ini, IBT Center dirancang sebagai sentra Indonesia Timur untuk menjadi Pusat Perwakilan di Surabaya menuju pasar nasional dan global,” ulasnya.

Serupa penyelenggaraan tahun 2016, gelar kedua pameran potensi produk unggulan Kawasan Indonesia Timur tahun ini masih mengusung tema sama, ‘When East Java Meets Eastern Indonesia Part 2’. Menariknya, IBT Expo 2017 tidak hanya menggandeng Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), namun juga Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai tuan rumah.

“Ragam acara menarik juga dipersiapkan untuk mensukseskan tujuan bersama dalam rangka memberi kesempatan bagi pelaku bisnis dan stakeholder terkait memperluas jaringan, memperkenalkan produk unggulannya serta memperkuat potensi perdagangan, investasi dan pariwisata, terutama di Kawasan Indonesia Timur,” tambah Rahmi.

Seperti diketahui, Indonesia Bagian Timur dan Jawa Timur memiliki potensi kekayaan alam dan produk unggulan dengan nilai jual lebih dan dikenal masyarakat luas. Potensi inilah yang ditampilkan pada IBT Expo 2017 melalui sejumlah produk unggulan berkualitas terbaik, seperti tenun, aksesoris, potensi wisata, produk olahan hasil laut, agro, makanan dan minuman, craft, beauty & kosmetik, ukm, serta masih banyak lagi yang lainnya.

“Di pameran IBT 2017 juga disuguhkan ajang talkshow, workshop komunitas & asosiasi, forum bisnis serta investasi, business matching, talent competition. Yang pasti, IBT Expo 2017 untuk memperkuat interaksi Dagang, investasi dan pariwisata Kawasan Timur,” katanya. (sa/hum/gpl)

Surabaya, Expostnews.com – Secara bertahap hingga tahun 2020, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III menjanjikan tambahan peralatan pendukung di pelabuhan dengan investasi senilai Rp 2,42 triliun. Dukungan peralatan tersebut sebagai upaya menetapkan standarisasi pelayanan, terutama pelayanan peti kemas.

“Saat ini, Pelindo III telah menyiapkan 41 unit CC, 28 unit HMC dan 75 RTG. Nantinya, secara bertahap sampai tahun 2020, akan kami tambah lagi peralatan baru,” janji CEO Pelindo III, IG. N. Askhara Danadlputra, Senin (20/11/2017).

Diungkapkan, tahapan penambahan peralatan baru dan fasilitas pendukung yang disiapkan Pelindo III hingga tahun 2020 itu mencapai 45 unit untuk 3 jenis alat berat yang berbeda. Masing-masing adalah 15 unit Container Crane (CC), 10 Harbour Mobile Crane (HMC), dan 20 unit Rubber Tyred Gantry (RTG).

“Pelindo III terus berupaya memberikan layanan yang cepat dan aman bagi pengguna jasa dengan kekuatan alat produksi yang saat ini. Yang pasti, ke depannya, produktivitas dan peremajaan alat akan terus dilakukan,” jamin Ari Askhara, sapaannya.

Lebih jauh Ari menjelaskan, selain menekan biaya maintenance, pembelian alat baru tersebut ditujukan untuk meningkatkan reabilitas dan availability diatas angka 90%. Artinya, alat beroperasi dalam kondisi ‘sehat’ dan siap bekerja. “Ini merupakan komitmen Pelindo III untuk menekan biaya logistik nasional, yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,” katanya.
 
Ari juga mengatakan, sebagai BUMN yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, Pelindo III berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik nasional. Hal ini dapat dilihat dari upaya peningkatan aksesibilitas dan konektivitas antar pelabuhan, termasuk dengan pelabuhan di luar wilayah kerja Pelindo III. “Salah satunya adalah melalui pola windows system,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, lanjut Ari, pengguna jasa mempunyai kepastian kapalnya akan bersandar. Sudah barang tentu, akan mendapatkan pelayanan bongkar muat tanpa waktu tunggu kapal (zero waiting time), disamping produktivitas bongkar muat yang diberikan Pelindo III semakin meningkat.

“Dengan begitu, biaya operasional kapal akan semakin berkurang, dan pada akhirnya akan menurunkan biaya logistik (nasional),” ulasnya.

Menanggapi ini, Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens H. Lesawengan mengaku, produktivitas kinerja Pelindo III saat ini sudah mencapai 30 an lebih boks/jam. Menurutnya, kondisi ini jauh berbeda dengan sebelumnya. “Lima tahun lalu, untuk mencapai kinerja box crane per hour 25 boks/jam sangat sulit. Apalagi, dengan kehadiran Terminal teluk Lamong bisa mencapai 40 boks/jam, itu sudah sangat sesuai dengan keinginan kami sebagai pengguna jasa,” akunya.

Stenvens juga mengapresiasi, pembenahan yang dilakukan Pelindo III yang tidak hanya terpaku pada perbaikan fisik atau infrastruktur. Pelindo III juga melakukan perbaikan ‘non-fisik’, seperti peningkatan nilai-nilai integritas dalam bekerja melalui no tipping pelayanan pandu.

“Betul. Perbaikan sudah dilakukan Pelindo III, termasuk standarisasi pelayanan. Tapi, perlu juga dikembangkan integrasi sistem dan informasi itu dengan instansi terkait, seperti dengan Balai Karantina dan Bea Cukai. Selain itu, perlu adanya penyeragaman pelaksanaan Verified Gross Mass (VGM) untuk meningkatkan safety operasional,” tambah Hengky Pratoko, Ketua DPW ALFI/ILFA Jatim. (sa/hum)

Jakarta, Expostnews.com – PT Holcim Indonesia, sebagai salah satu produsen semen nasional turut terimbas berlebihnya pasokan semen nasional yang hingga kini belum teratasi. Praktis, kondisi tersebut sangat mengganggu dan memengaruhi kinerja kinerja industri semen di Indonesia, termasuk Holcim Indonesia yang mengalami penurunan penjualan.

“Untuk periode sembilan bulan pertama tahun ini (belum diaudit), Holcim secara kinerja turun sebesar -0.4 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Gary Schutz, Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk, Selasa (31/10/2017).

Diakui, meski volume penjualan semen naik sebesar 5.6% menjadi 7 juta ton, namun kondisi pasokan berlebih memberikan tekanan pada harga di pasar. Terlepas dari upaya-upaya efisiensi yang terus dilakukan perusahaan, kondisi pasar sungguh berdampak pada kerugian. “Mencapai  Rp 647 miliar yang dialami perusahaan,” tutur Gary.

Menurutnya, setelah Lebaran, sektor konstruksi dan infrastruktur mulai mengalami peningkatan. Hal ini seiring percepatan realisasi belanja Pemerintah untuk pembangunan jalan tol, jembatan, bendungan dan pembangkit listrik. “Pembangunan yang dilakukan Pemerintah itu telah mendorong pertumbuhan konsumsi semen yang mencapai 47 juta ton hingga akhir September 2017,” jelasnya.

Gary sangat mengapresiasi langkah Pemerintah yang melakukan percepatan pembangunan di seluruh Indonesia. Pembangunan ini, kata Gary, akan menciptakan peluang untuk meningkatkan perekonomian berkelanjutan. “Kami (Holcim Indonesia, red) sangat siap menjadi bagian dari solusi pembangunan tersebut, khususnya proyek-proyek besar serta pembangunan infrastruktur dan perumahan,” ucap Gary dalam siaran pers pengumuman kinerja Holcim selama periode sembilan bulan tahun 2017.

Sementara, merespon kebutuhan pelanggan yang beragam, Holcim Indonesia memperkenalkan Semen Holcim Serbaguna dengan Micro Filler Particle. Produk hasil penyempurnaan ini memudahkan pengerjaan bangunan untuk hasil konstruksi yang lebih kuat, permukaan yang lebih halus, dan sebaran yang lebih luas.

“Selain itu, Holcim juga meluncurkan disain kantong semen baru yang menampilkan tanda Micro Filler Particle. Sekarang sudah tersedia hampir di seluruh wilayah pasar Holcim sejak bulan Juni 2017,” tambah Gary.

Menurut Gary, Holcim sangat memahami dan memperhatikan kendala yang kerap dijumpai saat membangun atau merenovasi rumah, seperti timbulnya retakan, perlunya material tambahan dan biaya yang tinggi untuk pemeliharaan. Semen Holcim Serbaguna dengan Micro Filler Particle membantu pemilik bangunan untuk mendapatkan bangunan yang tahan lama dan berkualitas. “Sehingga mereka bisa menghemat biaya pemeliharaan,” jelasnya.

Selain kualitas semen, Holcim menekankan keunggulan produknya dengan memperkenalkan slogan ‘Yang Pasti Aja’. Slogan ini untuk membedakan produk Semen Holcim Serbaguna dengan produk kompetitor. “Kami memberikan sebagai produk pilihan pasti untuk setiap konstruksi dan perencanaan bangunan,” jamin Gary. (hum/ind/sa)

Jakarta, Expostnews.com – Beragamnya pembangunan di Indonesia yang disertai tingginya kebutuhan pelanggan terhadap produk semen, memunculkan sebuah keidakpastian dari hasil pembangunan tersebut. Hal ini memaksa produsen semen nasional, PT Holcim Indonesia memberikan solusi jitu dari sebuah ketidakpastian dari proses pembangunan tersebut menjadi sesuatu yang pasti.

“Kami sudah sediakan di pasaran sebuah produk pasti, yaitu semen Holcim dengan Micro Filler Particle,” ujar Dhamayanti Suhita, Direktur Marketing Holcim Indonesia, Kamis (19/10/2017).

Dhamayanti mengatakan, saat ini distribusi kemasan terbaru Semen Holcim sudah mulai dilakukan secara bertahap. Menurutnya, tahapan distribusi Semen Holcim dengan Micro Filler Particle tersebut masih di Pulau Jawa. “Tapi, secara terus-menerus dan bergulir, distribusi Semen Holcim dengan Micro Filler Particle hingga ke wilayah lainnya di Indonesia,” jelasnya.

Dhamayanti juga mengungkapkan, Semen Holcim dengan Micro Filler Particle yang sudah mulai tersedia di pasar ini, merupakan pengembangan dari produk sebelumnya. Micro Filler Particle, lanjut Dhamayanti, mampu mengisi rongga dengan sempurna dan memberikan kekuatan dari dalam. “Sehingga, hasil akhir pasti kuat, pasti halus dan pasti berkualitas,” jaminnya.

Ditambahkan, untuk mendukung pengembangan, perusahaan melakukan penyegaran pada desain kemasan Semen Holcim dengan menambahkan logo Micro Filler Particle pada bagian depan kantong. Formula dan kemasan baru ini merupakan komitmen Holcim untuk memberikan nilai tambah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Selain fokus pada pengembangan produk, Holcim juga gencar berpromosi,” katanya.

Promosi tersebut, kata Dhamayanti, untuk mengenalkan beragam solusi melalui berbagai media, termasuk iklan televisi terbaru dan media sosial Holcim. Sebab, Holcim memahami, bahwa audio visual dan media daring, saat ini menjadi media yang sangat diandalkan konsumen sebagai sumber informasi. “Karena itu, masyarakat bisa dengan mudah mengunjungi laman internet dan akun media sosial resmi kami di Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube untuk mengeksplor keunggulan, inovasi, dan solusi dari Holcim,” tuturnya.

Lantas bagaimana cara mengaksesnya? Dhamayanti menjelaskan, untuk mengakses informasi di media sosial, pelanggan dapat memasukkan kata kunci “Solusi Holcim”.  Selain itu, aplikasi pembelian produk dan layanan lainnya juga tersedia untuk pengguna telepon genggam Android.

“Aplikasi dengan fasilitas akses pembiayaan dari CIMB Niaga ini bisa diunduh di Google Playstore dengan nama Solusi RumahKu. Aplikasi Solusi RumahKu sementara ini tersedia untuk melayani pelanggan di wilayah Jabodetabek dan secara bertahap akan diimplementasikan untuk wilayah lainnya,” papar Dhamayanti. (ind/sa/ms)

Surabaya, Expostnews.com – Pasaran Legi dalam penanggalan Jawa, apalagi jatuh di hari Jumat, diyakini menjadi hari baik bagi seseorang atau lembaga memulai aktifitas kegiatan yang bersentuhan dengan momen tertentu. Ini yang kemudian menjadi dasar PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III rela merogoh Rp 550 miliar untuk memulai proyek gedung 23 lantai yang kali pertama dibangun di zonasi Surabaya Utara, kawasan Pelabuhan Tanjung Perak.

“Ini Jumat Legi tanggal 13, bukan karena ultah saya. Karena Jumat Legi, kalau menurut hitungan Jawa dan Bali adalah hari terbaik. Makanya, kami pilih sebagai hari untuk peletakan batu pertama pembangunan Pelindo III Office Center atau Pelindo Place,” ujar CEO Pelindo III, IG. N. Askhara Danadlputra disela Groundbreaking Ceremony Office Center Pelindo Place yang bertema, ‘Beyond Building to Reach Dream of the Future’ di Jalan Tanjung Perak Timur, Surabaya, Jumat (13/10/2017).

Menurutnya, proyek infrastruktur tersentral yang dijadwal selesai pembangunannya tahun 2020 itu dimaksimalkan untuk mendukung kelancaran bisnis bagi para pengguna jasa kepelabuhanan di sekitar Tanjung Perak. Karenanya, Pelindo III merancang dan membangun fasilitas berkelas untuk dapat digunakan secara maksimal guna meningkatkan pelayanan. “Ini sudah menjadi komitmen perusahaan. Dengan harapan, semakin memperlancar keglatan kepelabuhanan,” ujar orang ‘nomor satu’ di Pelindo III yang akrab disapa Arl Askhara ini.

Selain itu, lanjut Ari, bangunan gedung setinggi 121 meter tersebut dalam rangka penataan lingkungan di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak secara menyeluruh. Sedangkan, lahan-lahan yang ada sebelumnya, difungsikan sebagai tempat untuk peningkatan pelayanan barang. “Sehingga dengan lancamya proses kegiatan layanan di pelabuhan diharapkan dapat menekan atau menurunkan biaya logistik naslonal,” katanya.

Sementara, Corporate Secretary Pelindo III, Faruq Hidayat menambahkan, pembangunan gedung di area seluas 1,1 hektare dengan luas bangunan 60 ribu meter persegi itu dikonsep dengan desain modern dan elegan. Gedung perkantoran baru yang diklaim ramah lingkungan inl disertai dengan kelengkapan fasilitas lifestyle commercial area.

“Dirancang dengan konsep hemat energi dan kualitas terbaik. Sehingga menghadlrkan suatu workplace yang representatif dan memiliki fasilitas penunjang bisnis yang lengkap,” tuturnya di acara yang juga dihadiri Commercial and Operational Director Pelindo III, Mohammad Iqbal sekallgus sebagai Komisaris Utama PPl, Direktur Utama PPI, Kokok Susanto dan GM Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Joko Noerhudha serta seluruh jajaran direksl Pellndo III, jajaran komisaris dan stakeholders Pelabuhan Tanjung Perak.

Faruq juga meyakini, kekuatan image Pelindo III dengan proyek Office Center tersebut akan menjadi ikon baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat urban Surabaya, khususnya di area Tanjung Perak. Adanya Pelindo Place Office Tower ini, diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam kelancaran berbisnis bagi seluruh pengguna jasa, stakeholder dan unsur yang berkecimpung dalam usaha kepelabuhanan.

“Nantinya, gedung perkantoran ini tidak hanya diperuntukkan bagi Pelindo III, tapi juga seluruh anak usaha, afiliasi serta pengguna jasa kepelabuhanan,” katanya. (sa/ms/men)

Perkuat Jaringan Kemitraan Agro Industri

Jakarta, Expostnews.com - Teknologi dan praktik terbaik di bidang pertanian dikenalkan PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) kepada para petani, khususnya petani tembakau. Perusahaan tembakau terkemuka di Indonesia ini mengenalkan, teknik pembakaran dengan sistem Rocket Barn serta aplikasi penghambat tunas.

“Teknik pertanian berteknologi seperti sistem Rocket Barn ini mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 16 persen. Begitu juga dengan alat aplikasi penghambat tunas yang mampu menghemat waktu pengerjaan hingga lebih dari 60 persen,” papar Presiden Direktur (Presdir) PT HM Sampoerna Tbk, Mindaugas Trumpaitis, Kamis (12/10/2017).

Menurutnya, para petani yang tergabung dalam program Sistem Produksi Terpadu tersebut, sebenarnya sudah pernah dikenalkan kepada sejumlah petani di beberapa daerah penghasil tembakau di Indonesia, seperti Rembang, Lombok, Wonogiri, Malang, Jember, Blitar dan Lumajang. Selain teknologi, para petani mitra juga akan mendapatkan pendampingan sistem pertanian yang baik, akses permodalan, sarana dan prasarana pertanian serta akses pasar yang terjamin bagi hasil produksi para petani.

“Dengan berasaskan prinsip saling menguntungkan, program Sistem Produksi Terpadu akan membantu peningkatan kesejahteraan para petani tembakau di Indonesia. Kami berharap, program ini terus mendapat dukungan dari pemerintah,” jelas Mindaugas Trumpaitis.

Dengan begitu, lanjut Mindaugas Trumpaitis, kesejahteraan petani tembakau akan terus bisa meningkat, dan secara bersamaan turut meningkatkan pasokan tembakau dalam negeri untuk keperluan industri. “Dalam pelaksanaannya, Sistem Produksi Terpadu ini melibatkan tiga komponen utama, yakni petani, pemasok, dan pabrikan. Secara otomatis, Sampoerna sebagai pabrikan akan mendapatkan jaminan pasokan tembakau dengan tingkat kualitas dan mutu terbaik sesuai standar yang ditetapkan,” ulasnya.

Disisi lain, melalui program ini akan memberikan peningkatan pendapatan petani sebagai hasil dari produksi dengan mutu yang lebih tinggi, hingga jaminan pasar yang baik. Pencapaian tersebut, kata Mindaugas, didapatkan melalui pemberian akses kepada mekanisasi pertanian yang memungkinkan dengan biaya produksi yang lebih rendah.

“Sekaligus, memberikan solusi bagi masalah kekurangan tenaga kerja, serta memungkinkan penggarapan lahan yang lebih luas,” katanya.

Dijelaskan, program Sistem Produksi Terpadu itu menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP) sebagai bentuk pendidikan kepada petani. Dengan harapan, petani mampu memproduksi tembakau secara produktif, efisien dan bersaing, serta berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Dalam hal ini, prinsip keberlanjutan tidak hanya mencakup aspek teknis dari pertanian, melainkan juga terkait praktik pekerja pertanian,” tuturnya.

Mindaugas menegaskan, program tersebut membuktikan komitmen Sampoerna mendukung pemerintah dalam mendorong pertumbuhan daya saing industri dan investasi berkelanjutan. Dikatakan, Sampoerna terus berinovasi dalam upaya meningkatkan daya saing sektor agro industri nasional dalam bentuk program kemitraan.

“Sistem Produksi Terpadu ini, selain bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas tembakau di Indonesia, para petani juga dapat bersaing dalam rantai pasar nasional maupun global. Program yang penuh dengan ragam inovasi ini dilakukan Sampoerna sejak 2009 dan telah melibatkan 27.500 petani dengan luas lahan 24.500 hektar,” urainya.

Mindaugas mengaku, sangat bangga dapat memiliki peran penting dan strategis dalam meningkatkan daya saing industri serta kontribusi sektor agro industri. Katanya, ini merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi negara. “Komitmen ini juga terus kami perkuat, agar kontribusi perusahaan kepada masyarakat dan negara dapat tersampaikan secara luas,” kata Mindaugas.

Program yang digelar Sampoerna ini sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan inovasi di sektor pertanian, sehingga memberikan kesejahteraan kepada petani. Para petani yang mengikuti program Sistem Produksi Terpadu akan mampu meningkatkan produktivitas mereka hingga 25%. “Dengan demikian, Program Sistem Produksi Terpadu ikut mendukung salah satu program Nawacita, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis, dalam hal ini pertanian,” ulasnya. (sya/ms)

Alirkan Tegangan 500 kV Tahun 2019

Banyuwangi, Expostnews.com – Tinggi Menara Eiffel di Paris, Perancis, dipastikan jauh dibawah ketinggian, atau tidak melebihi tinggi dua tower yang dibangun PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN di Banyuwangi, Jawa Timur dan Pulau Bali. Dipastikan, menara berjuluk ‘Tower Java Bali Crossing’ dengan tinggi masing-masing 376 meter ini akan menghubungkan dua pulau, Jawa dan Bali melalui sambungan listrik bertegangan 500 kV.

“Dalam pengembangannya, menara PLN ini akan menjadi ikon wisata baru di dua wilayah, yakni Banyuwangi dan Bali. Tower tegangan tinggi ini akan menjadi menara tertinggi di dunia, karena melebihi ketinggian Menara Eiffel di Paris, Perancis,” jelas Manajer Unit Proyek Jaringan II JBTB I, Indra Yoga Suharto, Selasa (26/9/2017).

Menurut Yoga, bentangan tower yang penyelesaian dan pengoperasiannya direncanakan tuntas pada 2019 itu mencapai tinggi 70 meter di atas permukaan air laut. Dengan ketinggian yang diyakini melebihi Menara Eiffel ini, Yoga menjamin, tidak akan mengganggu perlintasan jalur kapal yang hilir-mudik di bawahnya. “Masih melampaui rata-rata ketinggian kapal yang melintas di Selat Bali. Kami jamin, tower ini aman, meski jalur yang dilintasi merupakan jalur padat kapal,” tambah Yoga.

Terkait izin dan proses perencanaan pembangunan? Yoga yang ditemui saat menilik patok beton pancang di Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (23/9/2017) itu mengaku, sudah tidak ada masalah berarti. Alasannya, beberapa perizinan sudah dikantongi, termasuk penyediaan lahan seluas satu hektare di masing-masing sisi sudah dilakukan pembebasan lahannya.

“Saat ini, proses perencanaan pembangunannya sudah final. Begitu juga dengan perizinan yang sudah memasuki tahap akhir. Lahan di dua titik lokasi pembangunan menara juga sudah siap,” aku Yoga.

Kantongi Izin

Disebutkan, beberapa perizinan yang sudah keluar terkait proses pembangunan antara lain dari Kementerian Kehutanan untuk permohonan izin pinjam pakai dan izin kolaborasi untuk pembangunan SUTET 500 kV Jawa Bali Crossing S 24/Menhut-IV/2012 16 Januari 2012. Lalu, izin Kementerian Lingkungan Hidup terkait lingkungan kegiatan pembangunan SUTET 500 kV Paiton-Antosari dan SUTT 150 kV Antosari-Kapal di Provinsi Jawa Timur serta Prov Bali Oleh PT PLN (Persero) UIP JJB No.: 121 11 April 2013.

“Selanjutkan, izin Kemenhub dan Dirjen Perhubungan Laut terkait pembangunan jaringan transmisi interkoneksi Jawa Bali melalui Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV (Jawa Bali Crossing) melintasi perairan Selat Bali BX-28/KL303 27 Januari 2017,” ungkapnya.

Bukan hanya itu. Yoga juga menyatakan, telah mengantongi izin Kemenhub, Ditjen Perhubungan Laut, Adpel Tanjung Wangi Rekomendasi Tehnis Pembangunan Transmisi (SUTET) 500 kV Jawa Bali Crossing GM.770/01/02/AD.TG.WI-11 21 Februari 2011. Kemudian, izin Pemkab Banyuwangi Dishubkominfo Rekomendasi KKOP Tower SUTET 500 kV Jawa Bali Crossing 551/2274/429.107/20 Agustus 2011.

“Ditambah beberapa izin lainnya, seperti dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo terkait Penetapan Lokasi Pembangunan SUTET 500 kV Paiton-Watudodol Wilayah Kabupaten Banyuwangi Propins iJawa Timur 188/284/KPTS/013/2017 22 Mei 2017,” sambung Yoga.

Namun demikian, Yoga mengakui, masih menemui sejumlah kendala diluar perizinan yang sudah dikantongi tersebut. Salah satunya, adanya penolakan dan keberatan dari Pemerintah Daerah Buleleng, Bali yang beralasan masalah alam serta keberadaan tempat ibadah di Bali. “Termasuk juga penolakan dari beberapa pemangku kebijakan wilayah itu (Buleleng, red). Tapi, hal itu kami anggap suatu kewajaran. Yang pasti, sampai saat ini, kami terus melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah, agar target sambungan pada 2019 bisa terpasang,” tukasnya.

Dengan tersambungnya dua menara tersebut, lanjut Yoga, akan menambah pasokan daya listrik sekitar 2.800 MW. Hal ini juga mendukung visi misi bersih dan hijau di wilayah Bali. “Tentu saja, pengoperasian sambungan dua menara ini akan mengurai bauran energi batu bara,” tambahnya. (sa/ms)

Berikut perizinan proyek Tower Java Bali Crossing :

1.    Kementerian Kehutanan untuk permohonan izin pinjam pakai dan izin kolaborasi untuk pembangunan SUTET 500 kV Jawa Bali Crossing S 24/Menhut-IV/2012 16 Januari 2012. Lalu, izin Kementerian Lingkungan Hidup terkait lingkungan kegiatan pembangunan SUTET 500 kV Paiton-Antosari dan SUTT 150 kV Antosari-Kapal di Provinsi Jawa Timur serta Prov Bali Oleh PT PLN (Persero) UIP JJB No.: 121 11 April 2013.

2.    Izin Kemenhub dan Dirjen Perhubungan Laut terkait pembangunan jaringan transmisi interkoneksi Jawa Bali melalui Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV (Jawa Bali Crossing) melintasi perairan Selat Bali BX-28/KL303 27 Januari 2017.

3.    Izin Kemenhub, Ditjen Perhubungan Laut, Adpel Tanjung Wangi Rekomendasi Tehnis Pembangunan Transmisi (SUTET) 500 kV Jawa Bali Crossing GM.770/01/02/AD.TG.WI-11 21 Februari 2011.

4.    Izin Pemkab Banyuwangi Dishubkominfo Rekomendasi KKOP Tower SUTET 500 kV Jawa Bali Crossing 551/2274/429.107/20 Agustus 2011.

5.    Izin Gubernur Jawa Timur Soekarwo terkait Penetapan Lokasi Pembangunan SUTET 500 kV Paiton-Watudodol Wilayah Kabupaten Banyuwangi Propins iJawa Timur 188/284/KPTS/013/2017 22 Mei 2017.

 

Probolinggo, Expostnews.com – Omzet penjualan hasil pertanian yang selama ini diperoleh petani di Probolinggo, Jawa Timur dibawah rata-rata, kini mulai terlihat peningkatannya. Naiknya omzet tersebut tak lepas dari peran PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) yang memfasilitasi dan melatih 72 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk bercocok tanam yang benar.

“Produk hasil pertanian kami mulai dikenal publik. Omzet penjualan hasil pertaninan kami juga meningkat,” aku Ketua Gapoktan Alam Hijau, Kecamatan Gondang, Kabupaten Probolinggo, Abdul Aziz.

Aziz yang ditemui, Jumat (22/9/2017) mengatakan, rata-rata dalam sehari, omzet penjualan hasil pertaniannya meningkat antara Rp 4-5 juta. Bahkan, katanya, omzet yang diterima para petani selama bercocok tanam di lahan yang difasilitasi PJB, sehari bisa mencapai Rp 40 juta. “PJB sangat membantu kami dalam pembuatan green house, rumah etalase dan pelatihan. Sehingga produk olahan kami semakin dikenal publik,” ujarnya.

Menurutnya, hasil produksinya dipajang bersama-sama di lokasi pameran. Karena, hasil pertanian ini menjadi daya tarik para pecinta makanan sehat dari Probolinggo dan sekitarnya. “Kami sekarang sedang berupaya agar area pameran yang sifatnya sementara ini, bisa dijadikan permanen,” harapnya.

Dengan luas lahan 0,5 hektar, lokasi pameran itu disewa Gapoktan Alam Hijau sebesar Rp 4 juta selama 4 bulan. Melihat respon pembeli yang sangat besar ini, ia berencana memiliki lokasi permanen sendiri. “Sekaligus, untuk pameran tanaman organik,” harapnya.

Sementara, Supervisor Umum dan CSR PJB Paiton, Sukirman Hadi Prayetno mengatakan, dalam program tersebut, sedikitnya ada 72 kelompok tani se-Kecamatan Gondang dibangunkan gedung etalase permanen yang berdekatan dengan lahan yang disewa petani untuk pameran. Sedangkan, kata Sukirman, petani menyediakan 50 jenis tanaman sayur dan buah organik untuk dikembangkan di lahan yang disediakan PJB.

“Kami memilih membagikan CSR ke Gapoktan Alam Hijau yang pro tanaman organik. Karena, kami melihat keseriusan usaha yang dilakukan para petani. PJB hanya membantu memperkuat usaha yang sudah dilakukan agar hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sukirman, PJB juga mempertimbangkan kondisi Probolinggo yang mayoritas penduduknya bercocok tanam atau sebagai petani. Ia melihat, banyak potensi yang bisa dikembangkan di Probolinggo, khususnya petani di Kecamatan Gondang. “Seperti kotoran ternak yang belum dimanfaatkan lebih maksimal oleh petani untuk pupuk,” katanya.

Untuk lebih mengoptimalkan kemampuan para petani, PJB tidak hanya membantu dalam bentuk infrastruktur seperti bangunan, maupun lokasi. Namun, kata Sukirman, PJB juga menyediakan pendampingan dan pelatihan, seperti mengajak kunjungan ke provinsi lain di Indonesia, agar wawasan para petani terkait tanaman organik bisa terbuka luas.

“Sesuai rencana, PJB akan memperbanyak ruang pamer, semacam green house yang jumlahnya ada 10 titik. Biaya pembangunan green house mencapai Rp 10 juta, belum termasuk biaya untuk studi banding yang nilainya Rp 50 juta. (ms/sa)

Page 1 of 28