Breaking News
Time: 2:42

Terluas, Klaster Organik BI Jatim di Banyuwangi Panen Perdana Padi Merah

Thursday, 27 April 2017 00:00
Panen perdana padi merah organik klaster BI Jatim di Banyuwangi, Rabu (26/4/2017) Panen perdana padi merah organik klaster BI Jatim di Banyuwangi, Rabu (26/4/2017)

Banyuwangi, Expostnews.com - Dipilihnya lahan persawahan di Banyuwangi untuk mengembangkan tanaman padi, khususnya padi merah organik memang sudah tepat. Selain dinilai potensial, lahan tanam padi merah organik di Banyuwangi tergolong luas dibanding lahan persawahan organik lainnya di Indonesia.

"Di Banyuwangi ini juga, kami panen perdana padi merah organik di lahan yang luas ini," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jatim, Difi Ahmad Johansyah saat memanen perdana padi merah organik di klaster lahan sawah organik Desa/Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (26/4/2017).

Menurut Difi, panen perdana padi merah organik di lahan seluas 0,8 hektar itu merupakan klaster Bank Indonesia Jember yang dikembangkan petani setempat. Klaster persawahan di Banyuwangi ini, kata Difi, telah disediakan luasan 42 hektar lahan yang khusus untuk penanaman padi organik.

"Persawahan organik seluas 42 hektar yang telah dikembangkan di Banyuwangi ini adalah yang terluas, dari seluruh lahan organik di Indonesia, selain di Jawa Tengah yang juga memiliki lahan organik luas," aku Difi.

Apa pertimbangan memilih lahan di Banyuwangi? Difi mengakui, lahan persawahan di Banyuwangi cukup potensial untuk mengembangkan padi organik. Belum lagi, lanjut Difi, produksi padi di Banyuwangi terbilang tinggi, hingga menjadi salah satu lumbung padi di Jawa Timur.

"Selain untuk pengendalian inflasi, upaya BI membuka klaster organik untuk area tanam padi ini, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan, stok pangan dan surplus pangan di Jawa Timur," yakinnya.

Namun demikian, Difi tetap berharap, pembukaan klaster sawah organik tersebut ikut berkontribusi mengubah paradigma bercocok tanam dari yang selama ini dilakukan petani. Alasannya, jika cara bercocok tanam secara organik tersebut diterapkan, dampaknya pada pengetahuan petani dan peningkatan hasil pertanian.

“Tapi, mengubah mindset petani untuk bercocoktanam cara organik memang tidak mudah. Selain merepotkan, ancaman hama juga akan terjadi. Setidaknya, ada upaya mengembalikan alam ke bentuk semula. Biarkan alam yang mengurus alam sendiri. Yang dari tanah, kembalinya juga ke tanah,” ujarnya.

Pada saat bersamaan, Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, perlu proses panjang untuk mengembalikan lahan pertanian organik. Setidaknya, petani harus menunggu hingga 4 tahun, sebelum dinyatakan benar-benar masuk kategori organik yang bersertifikasi.

“Awalnya memang mahal biayanya. Tapi, setelahnya, efisiensi dari biaya dan tekstur tanah menjadi lebih baik dengan PH yang normal,” kata Arief.

Pastinya, upaya menanam cara organik tetap harus berkelanjutan dan simultan penerapannya. Sebaliknya, jika penerapannya hanya berkala, hasilnya juga tak akan maksimal dan tidak akan pernah ada perubahan.

“Sekarang, di Banyuwangi ada 42 hektar lahan penanaman organik telah bersertifikasi. Sedangkan, 100 hektar masih dalam proses konfersi lahan, dan lainnya masih tahap awal. Kami menarget, tahun 2020 sudah tercapai 200 hektar lahan organik di Banyuwangi,” harapnya. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 65 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS