Breaking News
Time: 4:56

Klaster Benih Kedelai Grobogan BI Jatim di Lamongan Gantikan Impor

Friday, 25 August 2017 13:37
Panen perdana penangkaran benih padi grobogan di Lamongan, Selasa (22/8/2017) Panen perdana penangkaran benih padi grobogan di Lamongan, Selasa (22/8/2017)

Lamongan, Expostnews.com – Kebutuhan kedelai di Kabupaten Lamongan, kini sudah tak lagi menggantungkan kedelai impor. Harapan kedepan ini menyusul panen kedelai varietas unggul dari penangkaran benih kedelai ‘grobogan’ hasil pengembangan klaster komoditas pangan strategis yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur.

“Penggunaan benih varietas kedelai unggul ‘grobogan’ ini akan mendorong produktivitas kedelai di Kabupaten Lamongan, dari sebelumnya 1,4 ton per hektare menjadi 2,7 ton per hektare. Sehingga, berpeluang untuk mensubsitusi kebutuhan kedelai impor,” tukas Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Herawanto, Jumat (25/8/2017).

Herawanto juga meyakini, selain mampu mendukung kebutuhan kedelai dari ketergantungan impor, upaya Bank Indonesia (BI) Jatim ini untuk meningkatkan produksi nasional melalui perbaikan dari sisi hulu. Dengan begitu, klaster penangkaran kedelai ‘grobogan’ yang dikembangkan di lahan seluas 4 hektare di Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan ini mampu mendukung program pengendalian inflasi daerah dengan target inflasi sebesar 4,1%.

“Pertanian kedelai di Lamongan ini memiliki lahan kedelai seluas 24.000 hektare dengan tingkat produktivitas yang relatif masih rendah,” ungkap Herawanto.

Dengan kondisi ini, lanjut Herawanto, BI Jatim memberikan pendampingan kepada petani-petani yang tergabung dalam klaster kedelai, salah satunya membangun demplot penangkaran untuk benih Varietas Grobogan. Pasca pendampingan dan bantuan teknis pada, Selasa, 22 Agustus 2017 di Desa Kedung Banjar, Kecamatan Sugio itu, kini sudah bisa dipanen hasilnya. “Selanjutnya, akan kami sertifikasi sebagai benih kedelai unggul untuk dikembangkan menjadi benih kedelai Lamongan,” jaminnya.

Lebih jauh dijelaskan, kebutuhan komoditas kedelai memang menjadi salah satu kontributor inflasi yang mencapai hitungan 2,2 juta/tahun secara nasional. Jumlah tersebut, selama ini sebagian pemenuhannya melalui impor.

“Kami komitmen untuk mengembangkan klaster kedelai di Lamongan, termasuk membantu sarana dan prasarana untuk produksi dan pasca panen kedelai,” aku Herawanto.

Bantuan yang telah diberikan berupa mesin-mesin pasca panen, pembangungan rumah kedelai yang memuat seed centre, maupun pembuatan olahan kedelai. BI Jatim juga membangunkan demplot budidaya kedelai di dua kecamatan. “Masing-masing di Kecamatan Sugio dan Kedungpring,” tuturnya.

Semua upaya tersebut, kata Herawanto, bertujuan untuk mendukung pengendalian harga bahan pangan, sekaligus subsitusi impor kedelai. Tujuan lainnya adalah pengembangan ekonomi daerah melalui peningkatan kapasitas dan kinerja UMKM sektor pertanian (agrobisnis) yang tergabung dalam klaster kedelai.

“Kami sangat mengapresiasi upaya Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur mengembangkan benih kedelai bersertifikat, guna mendorong produksi kedelai secara intensif di kawasan Lamongan,” tambah Bupati Lamongan, H. Fadeli didampingi Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati beserta jajaran Forpimda, Organisasi Perangkat Daerah, pimpinan perbankan Lamongan, serta petani yang tergabung dalam klaster kedelai Lamongan saat simbolisasi pada panen perdana benih kedelai ‘grobogan’, Selasa (22/8/2017) lalu. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 140 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS