Breaking News
Time: 11:02

Terdampak Tekanan Harga di Situasi Sulit, Paksa Holcim Merugi Rp 758 Miliar

Thursday, 26 April 2018 22:42
Ilustrasi Ilustrasi

Surabaya, Expostnews.com – Situasi pasokan semen yang berlebih di pasar domestik membawa dampak ikutan terhadap turunnya pendapatan perusahaan-perusahaan semen di Indonesia. Bahkan, imbas dari situasi sulit tersebut, turut menekan harga yang menggerus marjin pendapatan sepanjang lima tahun terakhir.  

“Tekanan harga sebagai dampak kelebihan pasokan semen ini, berimbas pada penurunan EBITDA. Holcim mencatat kerugian hingga Rp 758 miliar, karena situasi yang sulit di pasar, tekanan harga dan kewajiban-kewajiban keuangan perusahaan,” aku Diah Sasanawati, Corporate Communications Manager PT Holcim Indonesia Tbk, Kamis (26/4/2018).
 
Untuk itu, kata Anna, sapaan akrabnya, para pelaku industri semen di Indonesia dituntut mengambil langkah strategis dan inovatif. Upaya ini agar dapat memenangkan persaingan, yang kemudian menjadi pilihan pelanggan. “Tapi, di tengah situasi sulit itu, Holcim masih meraih peluang dari pelbagai aktivitas pembangunan di Indonesia sepanjang tahun 2017,” ingat Anna.

Data yang diperoleh menyebut, Holcim masih mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 7.8% dari sektor infrastruktur dan ritel. Penjualan bersih relatif stabil dari Rp 9.458 miliar di tahun 2016 menjadi Rp 9.382 miliar di tahun 2017. “Unit bisnis agregat dan beton turut mencatat pertumbuhan penjualan yang cukup kuat,” akunya.

Agregat tumbuh 33.84% dari Rp 107.49 miliar di tahun 2016 menjadi Rp 143.87 miliar di tahun 2017. Sedangkan, layanan konstruksi lainnya, lanjut Anna, tumbuh lebih dari dua kali lipat dari Rp 186.48 miliar di tahun 2016, menjadi Rp 384.25 miliar pada tahun 2017.

“Upaya-upaya optimalisasi dan efisiensi yang dilakukan perusahaan ikut memberi kontribusi pada peningkatan pendapatan operasional sebesar 6.3 persen dari Rp 206 miliar di tahun 2016, menjadi Rp 219 miliar di tahun 2017,” jelas Anna dalam rilisnya.

Menukil Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Anna menyebut, potensi lain yang memperparah kondisi produsen semen domestik adalah, munculnya Peraturan Menteri Perdagangan No.7/2018, tentang impor klinker dan semen. Alasannya, regulasi yang ditandatangani, 12 Januari 2018 tersebut kontradiktif dan bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang memprioritaskan produk dalam negeri.

“Untuk itu, produsen semen di Indonesia berharap dapat mengambil bagian dalam realisasi proyek pemerintah untuk mengurangi kondisi kelebihan pasokan di pasar domestik,” harapnya.

Berdasar laporan ASI, total penjualan semen di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 69,2 juta ton. Angka ini meningkat 9.5%, jika dibandingkan dengan data pada tahun 2016 yang hanya mencapai 63,2 juta ton. “Dari jumlah total penjualan, konsumsi untuk domestik mencapai 66,3 juta ton, atau meningkat 7.6 persen dari pencapaian tahun lalu sebesar 61,6 juta ton,” ungkap Anna.

Di sisi lain, selama tahun 2017, beberapa produk unggulan telah menjadikan Holcim Indonesia sebagai inovator dan pemimpin dalam bahan bangunan dengan teknologi terkini untuk peningkatan pasar Holcim. SpeedCrete, ThruCrete dan ApexCrete merupakan produk yang berhasil memberikan solusi perbaikan dan pembangunan jalan raya, jalur pejalan kaki, area taxiway di bandara dan area pergudangan dengan kekuatan struktur yang tinggi, di antara produk-produk unggulan lainnya.

“Komitmen Holcim dalam menyediakan solusi bernilai tambah melalui inovasi, ditandai dengan peluncuran beberapa produk berbasis aplikasi di tahun 2017, seperti, Solid Road, PowerMax dan WallMax,” jelas Anna.

Kehadiran PowerMax dan WallMax, kata Anna, diarahkan untuk mengubah kebiasaan pelanggan menggunakan produk semen umum ke produk berbasis aplikasi. PowerMax dengan Micro Filler Particle dan Strength Agent memberikan manfaat mengisi rongga dan menghindari keropos, lebih cepat keras, memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan beton biasa tanpa tambahan bahan lain.

“Sehingga, lebih hemat biaya perawatan dalam jangka panjang. WallMax dengan Micro Filler Particle dan Smooth Agent menghasilkan adukan yang lebih pulen dan lebih mudah diaplikasikan, warnanya lebih terang, lebih lekat, meminimalisasi retak rambut, dan hasil akhir yang lebih halus serta tahan lama,” ujar Anna.

Lantas, bagaimana peluang di tahun 2018? Anna mengatakan, para pendatang baru telah memperoleh pangsa pasar yang cukup besar sejak seluruh total kapasitas selesai pada tahun 2014-2015. Kehadiran dari para pemain baru juga mendorong persaingan harga yang semakin ketat, khususnya untuk lokasi di luar pulau Jawa. “Para pelanggan lebih mementingkan harga, ketimbang merek dagang yang lebih baik. Jika dilihat dari pasar geografis, penjualan semen di Indonesia masih berfokus di wilayah Jawa, diikuti dengan Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan,” ulas Anna.

Peluang lainnya adalah, peningkatan realisasi proyek infrastruktur pemerintah, seperti jalan tol, bandara, dan pengembangan pelabuhan, diharapkan mampu meningkatkan permintaan pasokan semen dan beton di tahun 2018. Selain itu, lanjut Anna, di tengah kondisi kelebihan pasokan, para pelaku industri semen di Indonesia memiliki peluang untuk melakukan ekspor ke negara tetangga yang masih mengalami kekurangan pasokan semen.

“Meskipun kinerja ekonomi, intervensi harga dan kekurangan poin penting dalam stimulus dan rencana infrastruktur. Holcim Indonesia telah siap untuk peningkatan kompetisi,” yakinnya.

Selain merespon kebutuhan pasar di Jawa dengan mengenalkan produk serta solusi inovatif, Holcim juga mengantisipasi potensi pertumbuhan pasar di Sumatera Selatan. Salah satunya dengan menyiapkan kehadiran terminal semen di Palembang yang diharapkan selesai pembangunannya di 2018. “Yang pasti, Holcim tetap berkomitmen, dan selalu melahirkan inovasi dengan nilai tambah,” tutupnya. (ms/sa/hum)

Rate this item
(0 votes)
Read 27 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS