Breaking News
Time: 11:04

Tarif Handling Transhipment Tanjung Perak Dipatok 65%

Monday, 14 January 2019 23:12
Direktur Keuangan Pelindo 4 Yon Irawan, Direktur Operasi dan Komersial Pelindo 4 Riman S. Duyo, Direktur Utama Pelindo III Doso Agung, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah, Wakil Ketua DPP INSA Darmansyah Tanamas, dan Ketua DPP ALFI/ILFA Yuki Nugraha Hanafi, berbincang usai acara pertemuan antara Pelindo III dan pengguna jasa, di Surabaya, Senin (14/1/2019) Direktur Keuangan Pelindo 4 Yon Irawan, Direktur Operasi dan Komersial Pelindo 4 Riman S. Duyo, Direktur Utama Pelindo III Doso Agung, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah, Wakil Ketua DPP INSA Darmansyah Tanamas, dan Ketua DPP ALFI/ILFA Yuki Nugraha Hanafi, berbincang usai acara pertemuan antara Pelindo III dan pengguna jasa, di Surabaya, Senin (14/1/2019)

Stenvens INSA: Mereduksi Biaya Logistik

Surabaya, Expostnews.com - Biaya handling (penanganan) transhipment peti kemas domestik antarterminal yang diberlakukan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya telah 'digedok’ sebesar 65%. Meski tidak menyebut bilangan rupiah tertentu untuk pengenaan tarif khusus dari tarif normal (paket handling peti kemas domestik), Pelindo III mengklaim mampu menekan biaya logistik nasional.

“Dengan kata lain, perusahaan pelayaran mendapat diskon handling peti kemas transhipment sebesar 35 persen. Logistic cost bisa diturunkan hingga 20 persen," tukas Direktur Utama (Dirut) Pelindo III, Doso Agung saat acara ‘Kerjasama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dengan Perusahaan Pelayaran dalam Memperkuat Konektivitas dan Penyederhanaan Sistem Pembayaran (Single Billing) di Surabaya, Senin (14/1/2019).

Doso mengungkapkan, pengenaan tarif khusus tersebut baru diberlakukan di lingkungan Pelindo III, atau bisa dikatakan sebagai yang pertama di pelabuhan Indonesia. Dikatakan, pemangkasan tarif ini sebagai bentuk komitmen Pelindo III dalam upaya menekan biaya logistik nasional, sekaligus pemenuhan tugas sebagai agen pembangunan.

“Apalagi, pelabuhan Tanjung Perak, saat ini mengemban peran sebagai penghubung antara wilayah barat serta wilayah timur Indonesia, dan merupakan domestik transhipment port peti kemas,” urai Doso kepada wartawan dalam konferensi pers usai berlangsungnya acara.

Dijelaskan, peti kemas transhipment di Pelabuhan Tanjung Perak berasal dari wilayah Sumatera, Jakarta, dan sekitarnya, termasuk juga dari Kalimantan. Selanjutnya, peti kemas tersebut diangkut ke berbagai wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Papua, dan sebaliknya.

“Dengan meningkatnya arus peti kemas transhipment domestik, Pelabuhan Tanjung Perak semakin mengukuhkan posisinya sebagai penghubung wilayah Indonesia bagian barat dan timur, dengan didukung sekitar 72 rute pelayaran peti kemas domestik,” katanya.

Sedangkan, beberapa perusahaan pelayaran domestik yang melayani rute transhipment di antaranya Meratus, Tanto, Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), Tempuran Emas (Temas), Mentari Sejati Perkasa, dan Perusahaan Pelayaran Nusantara Panurjwan. Selain itu, pelayanan peti kemas domestik juga dilayani seluruh terminal di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Termasuk juga yang dioperatori anak perusahaan Pelindo III, seperti Terminal Petikemas Surabaya, BJTI Port, dan Terminal Teluk Lamong,” tuturnya.

Berdasar data yang dilansir selama tiga tahun terakhir, arus peti kemas transhipment di Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan tren positif. Pelindo III mencatat, tahun 2016 arus peti kemas transhipment mencapai 33.374 boks, dan tahun 2017 tumbuh menjadi 35.131 boks. “Kemudian, di tahun 2018 terbukukan 36.980 boks,” urainya.

Terpisah, Ketua DPC Asosiasi Pemilik Kapal Nasional (INSA) Stenvens Lesawengen menyambut baik langkah penerapan tarif transhipment peti kemas domestik antarterminal sebesar 65 persen dari tarif normal handling peti kemas yang diberlakukan di wilayah Pelindo III. Dengan diskon tarif paket handling peti kemas sebesar 35% per boks peti kemas di terminal bongkar, maupun di terminal muat) dapat mereduksi biaya logistik yang ditanggung oleh pengguna jasa (perusahaan pelayaran). “Ini hal baik yang dilakukan di tahun baru 2019,” ujar Stenvens.

Ia mengakui, pemerintah memang tengah menggenjot pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang volume kargonya luar biasa. Untuk itu, pemberian diskon tarif paket handling peti kemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak merupakan langkah tepat.

“Karena Tanjung Perak merupakan loading port atau pelabuhan muat bagi banyak kargo ke arah KTI. Ke depan akan lebih banyak lagi terobosan dalam rangka penurunan biaya logistik dan peningkatan arus pertumbuhan barang (peti kemas, red),” harapnya.

Sementara, Direktur Operasi dan Komersial Pelindo III Putut Sri Muljanto menambahkan, Pelindo III saat ini tengah memperkuat konektivitas antara pelabuhan di Indonesia melalui sistem Window Connectivity. Sistem tersebut dinilai mampu mengintegrasikan sistem informasi antar pelabuhan yang dapat meningkatkan efektivitas pelayanan bagi para pengguna jasa.

“Sistem ini dapat memberikan kepastian sandar bagi perusahaan pelayaran, standardisasi operasional di terminal dan proses bongkar muat barang yang berdampak pada turn round voyage (TRV) kapal,” ulasnya saat memapar dalam acara yang berlangsung di Hotel Sheraton Surabaya tersebut.

Melalui sistem Window Connectivity, rute Surabaya-Samarinda-Surabaya yang sebelumnya ditempuh 8 hari, kini bisa menjadi 7 hari. Dengan TRV yang pendek, jumlah voyage/trip dapat ditingkatkan dari 45 voyage menjadi 52 voyage. “Penerapan sistem ini (Windows Connectivity, red), dibutuhkan komitmen antar operator pelabuhan dan operator pelayaran. Karena, menyangkut pertukaran data dan informasi,” harap Putut.

Tahap awal, lanjut Putut, seluruh pelabuhan di lingkungan Pelindo III akan terhubung dengan window system mulai tanggal 15 Januari 2019.  Selanjutnya, pada 1 Februari 2019, sistem tersebut akan terhubung dengan Pelindo IV. “Kami berharap dapat dikembangkan juga di wilayah Pelindo I dan IPC/Pelindo II. Dengan begitu, seluruh pelabuhan di Indonesia akan terhubung dengan sistem ini,” yakinnya. (ms/sa)

Rate this item
(1 Vote)
Read 110 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS