Breaking News
Time: 8:35

Banyak Waralaba Tak Terdaftar

Friday, 13 May 2016 20:42
Ilustrasi Ilustrasi

Surabaya, Expostnews.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mendorong pelaku usaha waralaba untuk segera mendaftarkan diri. Dengan begitu, pelaku usaha akan banyak diuntungkan karena memiliki surat tanda pendaftaran waralaba (STPW).

“Belum semua pelaku usaha waralaba mendaftarkan diri,” aku Direktur Bina Usaha Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag RI, Fetnayeti, Jumat (13/5/2016).

Diakui, hingga saat ini, jumlah usaha waralaba yang terdaftar sebanyak 664 usaha. Ia menarget, minimal ada 30 usaha waralaba yang mendaftarkan diri tiap tahunnya. “Data yang dirangkum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), secara nasional ada sekitar 2.000 usaha yang termasuk kategori business opportunity (BO),” ujarnya.

Untuk itu, Fetnayeti mendorong agar usaha waralaba bisa terangkat kelasnya dari BO menjadi usaha waralaba. Namun, salah satunya melalui penyelenggaraan penghargaan bagi usaha waralaba pada akhir tahun nanti.

“Syarat untuk memiliki STPW, minimal usahanya harus sudah berjalan dua tahun,” ingatnya disela Info Franchise dan Business Concept 2016.

Dengan demikian, akan menunjukkan bahwa usaha tersebut mampu bertahan dan bisa memberikan keuntungan bagi pembeli franchise. Pendaftaran STPW sendiri juga untuk menyaring usaha yang memang sudah bisa disebut waralaba.

“Keuntungan kalau sudah mendaftar, bisa memperoleh fasilitas dari pemerintah untuk mengikuti pameran. Selain itu, masuk dalam daftar rekomendasi ketika ada investor baik dalam maupun luar negeri yang tertarik dan kemudahan mendapatkan hak paten. Kemudian, dari segi akses permodalan juga lebih gampang, dan tidak bisa dijiplak,” urainya.

Sementara, dari total 664 itu, sebanyak 60% diantaranya waralaba lokal, dan selebihnya asing. Dikatakan, tren waralaba asing masuk ke Indonesia terus meningkat tiap tahun sejalan dengan alasan pasar yang terbuka. “Sebenarnya, tidak mudah bagi waralaba asing masuk. Agar bisa masuk ke Indonesia, mereka harus menunjuk perusahaan lokal sebagai master franchise-nya,” tutur Fetnayeti.

Namun demikian, Fetnayeti juga tidak bisa menghalangi usaha waralaba global masuk ke Indonesia. Asalkan, waralaba asing itu memenuhi syarat yang ditetapkan dalam aturan perundang-undangan.

“Salah satunya penunjukkan master franchise dari perusahaan lokal. Kemudian untuk kategori kuliner, maksimal gerai yang dimiliki 250 gerai, selebihnya harus dimiliki oleh mitra,” paparnya.

Terpisah, Ketua AFI Anang Sukandar menambahkan, usaha BO masih mendominasi daripada waralaba. Pasalnya, untuk membangun bisnis waralaba tidak bisa mudah dan cepat. Meski sebagian besar diantaranya menginginkan yang instan. “Padahal untuk bisa menjadi waralaba, usaha tersebut harus matang dulu. Peluang bisnis ketika sah menjadi usaha waralaba salah satunya ekspansi ke luar negeri. Kalau dibandingkan franchise luar, bisnis franchise lokal tidak kalah kok,” ungkap Anang. (es/esp4)

Rate this item
(0 votes)
Read 155 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS