Breaking News
Time: 2:50

Iwan Sunito: Orang Indonesia di Luar Negeri Lebih 'Indonesia'

Tuesday, 18 October 2016 21:42
Iwan Sunito, CEO dan Founder Crown Group saat berpidato di Forum Bisnis Diaspora Indonesia di Jakarta, Senin (10/10/2016) Iwan Sunito, CEO dan Founder Crown Group saat berpidato di Forum Bisnis Diaspora Indonesia di Jakarta, Senin (10/10/2016)

Jakarta, Expostnews.com – Patriotisme sudah tidak bisa lagi disamakan dengan ‘harus tinggal’ di tempat dimana sesorang dilahirkan. Tempat dimana tinggal secara fisik, tidak serta merta membuat justifikasi kadar komitmen dan rasa cinta terhadap negara asal.

“Saya bahkan banyak melihat orang Indonesia yang tinggal di luar negeri yang lebih ‘Indonesia’, dibandingkan dengan mereka yang tinggal ataupun berada di Indonesia. Perbedaan geografi tidak sama dengan identitas,” kata Iwan Sunito, CEO dan Founder Crown Group, Selasa (18/10/2016).

Ungkapan Iwan tersebut tampaknya tidak bisa dianggap sebelah mata terkait patriotisme terhadap negara asal saat seseorang berada jauh di negeri orang. Ia juga mengingatkan, tentang pentingnya redefinisi konsep patriotisme dalam cakupan yang lebih luas dan global.

“Saya yakin, bahwa abad ini merupakan abadnya Indonesia. Mari bersama kita bisa menjadi ‘pemimpin’ dan bukan ‘pengikut’. Kita bisa menjadi ‘inovator’ dan bukan ‘imitator’, dan menjadi memimpin dan bukan mengikuti,” tutur Iwan saat menutup pidatonya dalam acara Forum Bisnis Diaspora Indonesia yang juga dihadiri Dino Patti Djalal, Edward Wanandi serta Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagio dengan bahasan peluang penguatan peran diaspora Indonesia untuk pemerintah Republik Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta.

Sebelumnya, Iwan sempat mengutip, kata-kata mantan Perdana Menteri Jamaika, Portia Simpson Miller. Dikatakan, pentingnya meredifinisi konsep berbangsa yang saat ini bukanlah bersifat teritorial dan tidak terikat dengan ruang fisik. “Bangsa adalah sebuah konstruksi sosial dan politik. Di dalam dunia tanpa batasan, bangsa sudah tidak lagi terbatasi secara geografis,” ungkapnya menirukan ucapan Perdana Menteri Jamaika, Portia Simpson Miller saat memaparkan, pendapat dan pemikirannya guna memperkuat eksistensi Diaspora.

Pemenang penghargaan Australian Property Person of The Year 2015 ini mengungkapkan, harus ada perspektif baru tentang Diaspora kedepan. Menurutnya, Diaspora adalah aset nasional, dan bukan sekadar Diaspora Capital, melainkan sebagai Financial, Human dan Social Capital.

“Saya percaya bahwa tema ‘Pulang Kampung’ yang dicanangkan pada saat kongres Diaspora tahun 2012 di Jakarta, bukanlah semata hanya slogan, tapi sebuah gerakan baru yang saat ini sedang terjadi secara global,” ungkap lelaki yang lahir di Surabaya dan besar di Pangkalan Bun, Sulawesi Tengah ini.

Iwan melihat, peran Diaspora dalam keberhasilan Vietnam, Tiongkok, India dan Meksiko dalam mengembangkan negaranya merupakan peluang global membutuhkan jaringan global. Dengan begitu, sudah seharusnya Disapora terhubung dan berkolaborasi, bukan berkompetisi.

“investasi Diaspora di negara asal mereka cenderung untuk meningkatkan kewirausahaan lokal sehingga menciptakan lingkaran untuk pertumbuhan di masa depan. Investor tidak perlu harus membuat pilihan antara menetap di luar negeri atau pulang ke negara asalnya,” ulasnya.

Iwan menuturkan, seseorang dapat melakukan keduanya dan membantu negara-negara asalnya, selama masih terlibat dan terhubung di negara yang ditinggali. Berpindah ke negara lain tidak harus menjadikan Brain Drain, melainkan bisa menjadi ‘Brain Gain’ dan ‘Brain Exchange’.

“Kita bisa memasuki dunia baru yaitu ‘Dunia Global’. Karena, dunia lebih mengglobal, dan saling berhubungan serta saling ketergantungan dari sebelumnya. Jadi, Diaspora adalah jembatan pengetahuan, keahlian, sumber daya dan pasar bagi negara asal,” urai Iwan. (sa/ms/gus)

Rate this item
(1 Vote)
Read 125 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS