Breaking News
Time: 7:07

Ini Satu-satunya Perempuan Pertama Pimpin Pangkalan PLP

Tuesday, 22 November 2016 23:42
Juliana Sumampouw, Kepala Pangkalan PLP Tanjung Perak Surabaya (kiri berkacamata) saat melakukan koordinasi internal dengan anggotanya Juliana Sumampouw, Kepala Pangkalan PLP Tanjung Perak Surabaya (kiri berkacamata) saat melakukan koordinasi internal dengan anggotanya

Surabaya, Expostnews.com - Mengawali karier sebagai pegawai aparatur negara tahun 1979, sosok Juliana Sumampouw memang tak muda lagi. Namun, postur tegap pejabat berkacamata ini sepertinya tak lekang oleh waktu, meski dua anak laki-laki dan perempuannya telah memberinya lima cucu.

Masa karier kepegawaian perempuan yang akrab disapa Juliana ini, tak lepas dari dunia maritim, khususnya di Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP). Bahkan, selama kariernya di KPLP, yang kini berkembang menjadi Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP), Juliana tercatat sebagai perempuan pertama dan satu-satunya perempuan di puncak posisi sebagai pengendali dan komandan organisasi di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI tersebut.

“Ya. Bu Juliana ini, satu-satunya perempuan dan termasuk perempuan pertama yang dipercaya memangku jabatan sebagai Kepala atau komandan di kesatuan kami, termasuk di Pangkalan PLP Tanjung Perak Surabaya,” tutur Bambang Setiabudi, analis program di Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Perak Surabaya saat ditanya sosok komandannya, Selasa (22/11/2016).

Apa yang dikatakan pegawai mahir melukis ini, tampaknya tak mampu ditepis Juliana. Ketika dikonfirmasikan hal ini, pejabat kelahiran Manado ini mengaku, sejak tahun 2013, memang dipercaya sebagai komandan alias Kepala Pangkalan PLP Bitung, Sulawesi Utara (Sulut). “Hingga memasuki tahun 2016, tepatnya tiga bulan lalu, saya ditempatkan pada posisi yang sama seperti jabatan saya di Bitung, sebagai Kepala Pangkalan PLP Tanjung Perak Surabaya,” tukasnya.

Perempuan yang memilih slogan ‘Kerja…Kerja…’Kerja’ sebagai penyemangat anggota dalam bertugas itu, tetap menerapkan metode kebersamaan dalam pembinaan dan koordinasi. Juliana pun tak ingin ada perbedaan dan pembatas yang sesungguhnya akan menjadi penghalang dirinya menyelami anggota/personel yang dipimpinnya.

“Begitu juga dengan stakeholder serta jajaran samping di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak dan cakupan wilayah kerja Pangkalan PLP Tanjung Perak ini,” ulasnya.

Juliana juga menuturkan, kondisi kekinian saat menduduki jabatan penting dan strategis di Pangkalan PLP Tanjung Perak Surabaya. Di institusi yang dipimpinnya tersebut, Juliana juga menggunakan pola pembinaan dalam setiap peristiwa yang menuntut kinerja di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran. “Kami bina dahulu dengan pengertian yang membawa kesadaran setiap pelanggaran. Tapi, kami juga tegas menindak, apabila pembinaan yang kami lakukan terhadap pelanggaran tetap diabaikan dengan acuan UU 17/2008 tantang Pelayaran,” tandas pejabat yang akan mengakhiri masa tugasnya di Pangkalan PLP, Agustus tahun depan.

Namun, sebagai bagian dari 115 negara anggota International Maritime Organization (IMO) dalam Sea and Coast Guard, Pangkalan PLP Tanjung Perak yang dibawahinya, tetap mengedepankan penanganan terhadap insiden keselamatan dan keamanan pelayaran. Ini terbukti, Pangkalan PLP Tanjung Perak turut menurunkan personel beserta kapalnya untuk memberikan pertolongan kepada korban saat peristiwa kecelakaan laut.

“Jumlah personel kami memang terbatas dengan 5 unit kapal yang kami punya. Tapi, semua kami maksimalkan. Seperti saat insiden di Gresik tiga bulan lalu, kami menurunkan personel dengan Kapal Negara KNP 371. Kemudian, kami libatkan juga 17 personel dengan kapal KNP 211 Grantin untuk evakuasi korban saat kecelakaan kapal di perairan Tuban,” jelasnya. (sa/ms)

Rate this item
(0 votes)
Read 173 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS