Breaking News
Time: 2:47

Integrasikan Sistem Transportasi Laut, Mulyono Sabet Gelar Doktor

Thursday, 26 January 2017 23:14
SVP Pertamina yang baru saja meraih gelar Doktor dari ITS sedang memresentasikan desertasinya, Kamis (26/1/2017) SVP Pertamina yang baru saja meraih gelar Doktor dari ITS sedang memresentasikan desertasinya, Kamis (26/1/2017)

Surabaya, Expostnews.com – Efektivitas dan produktivitas kinerja sistem transportasi laut dibutuhkan pengembangan model terintegrasi yang berbasis Theory of Constraints (TOC). Pasalnya, penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya masih terfokus pada optimalisasi komponen-komponen dari sistem pengangkutan laut secara terpisah, atau disebut local optimum.

“Jadi, belum ada yang mengintegrasikan antara variabel strategis dan operasional dari sistem transportasi laut secara komprehensif,” tutur Dr Ir Mulyono MT MM, Kamis (26/1/2017).

Desertasi yang dipaparkan pria kelahiran Bojonegoro, 11 September 1967 ini menyebut, konsep model terintegrasi berbasis TOC pada sistem transportasi laut tersebut meliputi integrasi komponen sistem, integrasi ukuran kinerja, integrasi Time Horizon, dan integrasi Output. Mulyono yang baru saja meraih gelar doktornya dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ini menambahkan, setiap sistem dalam sistem terbuka merupakan gabungan dari subsistem. “Dimana dalam satu subsistem yang berantai minimal ada satu konflik. Dengan begitu, output dari sistem bukan mengikuti yang kuat, tapi yang lemah,” urai Mulyono yang menjabat Senior Vice President (SVP) Shipping Pertamina dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Melalui disertasi yang dipromotori almarhum Prof Ir Djauhar Manfaat MSc PhD dengan co-promotor Ir Tri Achmadi PhD, ayah dua putri ini lantas melakukan penelitian untuk mendefinisikan dan merumuskan ulang tujuan dari sistem transportasi laut. Selain itu, ia juga melakukan penerjemahan beberapa terminologi TOC.

“TOC itu merupakan suatu tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah dimulai dari mendefinisikan goal sistem, kemudian menentukan ukuran kinerja pada TOC. Pada tahap ini, saya melakukan pendefinisian ulang untuk ukuran kinerja TOC, meliputi Throughput, Inventory, Operating Expense, Productivity, dan Net Benefit,” papar lelaki 57 tahun ini.

Tahapan selanjutnya, kata Mulyono, TOC mendefinisikan system’s constraint dengan tiga metode penelitian, yakni process map, identifikasi constraints berbasis uji statistik, dan identifikasi biaya constraint. Terkait penelitian constraint yang dilakukan Mulyono pada sistem transportasi laut di PT Pertamina adalah setelah constraint diidentifikasi dengan cara standarisasi satuan sistem menjadi KL/hari.

“Diketahui penyebab constraint adalah terbatasnya kapasitas jetty, cargo, pump, dan port draft. Apabila, kapasitas constraint tidak ditingkatkan, biaya congestion, deadfreight, dan slow pumping akan membebani kinerja perusahaan tersebut,” jelas suami Ir Primarini MT ini.

Solusinya, lanjut Mulyono, adalah solusi jangka pendek, dengan meningkatkan kapasitas jetty dari dua menjadi tiga unit. Kemudian, meningkatkan kapasitas draft dari 4,5 meter menjadi 6 meter, dan meningkatkan kapasitas cargo pump dari 500 KL per jam menjadi 550 KL per jam.

“Sedangkan, solusi jangka panjangnya, adalah dengan cara meningkatkan kapasitas jetty menjadi 5 unit, kapasitas draft menjadi 6 meter, dan cargo pump  menjadi 550 KL/jam,” tutur Mulyono yang resmi bergelar doktor dengan predikat sangat memuaskan dan tercatat sebagai doktor ke-35 dari Fakultas Teknologi Kelautan ITS. (sa/ms/hum)

Rate this item
(1 Vote)
Read 135 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS