Breaking News
Time: 6:49

Anwar, Protolan SMP Yang Sukses Bergelut di Kalimas

Tuesday, 14 March 2017 11:26
Muhammad Anwar (berkaos) saat sedang memantau kinerja karyawannya didampingi Matroeji, kakaknya di dermaga Kalimas Surabaya Muhammad Anwar (berkaos) saat sedang memantau kinerja karyawannya didampingi Matroeji, kakaknya di dermaga Kalimas Surabaya

Surabaya, Expostnews.com – Jerih serta kemauan penuh tekat dari sosok tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini bisa menginspirasi sebuah dedikasi yang mengantarkan sukses dengan kemandirian. Kisah inspiratif dari secuil pengalaman ini bisa menjadi bagian dari dorongan meniti asa untuk menguak kemampuan diri dari sebuah ketidakmungkinan.
 
Saat itu, terik tiada terkira selalu memayungi langkah Muhammad Anwar menyusuri panjangnya dermaga bongkar muat kapal rakyat di pelabuhan tradisional, Kalimas Surabaya. Panas udara yang tiada jera memapar setiap hari itu adalah hal biasa bagi seorang Anwar kecil yang terus bergelut dengan kesibukan bongkar muat di Kalimas. “Saya diberi upah waktu itu hanya Rp 1000 untuk satu kali antar barang dari Gudang 604 yang dijaga bapak,” aku Anwar, sapaan akrabnya.
 
Kisah masa kecil itu, ia lakukan setiap kali pulang sekolah untuk membantu sang ayah. Dengan suka cita, Anwar mengantarkan beragam barang pesanan yang baru saja turun dari kapal. “Macam-macam. Ada sembako, dan ada juga barang kebutuhan lainnya,” kata Anwar.
 
Sengatan matahari yang hampir ia rasakan di hamparan dermaga Kalimas Surabaya kala itu, hanya bagian kecil dari aktivitas yang sudah digelutinya sejak kecil bersama orangtuanya. Terhitung, lebih dari 20 tahun semenjak HM. Bahri, ayahnya wafat, Anwar harus bersusah-payah memajukan usaha dengan kemampuan minimnya tentang manajerial dagang.
 
“Sebisa saya, bagaimana usaha rintisan ini bisa berkembang besar, setelah bapak meninggal,” ujarnya lirih.
 
Anwar yang dikaruniai anak lelaki semata wayang ini sempat mengisahkan, kegalauannya sejak orangtuanya meninggalkan dunia fana. Ia hanya bisa pasrah, dan tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya yang bingung itu pun diliputi banyak pertanyaan besar, antara memutuskan untuk meneruskan usaha orangtuanya, atau menguburnya dalam-dalam. “Apa boleh buat, saya harus memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah saya,” tutur usahawan muda kelahiran 1976 ini.
 
Menurutnya, keputusan berhenti dari sekolah adalah yang terbaik. Alasannya sederhana, Anwar tidak ingin menjadi beban orang tua perempuannya dengan biaya sekolah yang terus bertambah. “Saya harus bisa berdiri sendiri, tanpa harus menyusahkan orang tua. Apalagi, saya sempat down, setelah gagal masuk tentara (TNI Angkatan Darat, red), karena badan saya kurang tinggi,” ingat pemilik Gudang 604 di pelabuhan Kalimas ini.
 
Seiring waktu yang berjalan, Anwar yang sudah tidak lagi sekolah dan ditinggal orang tuanya itu belum juga mendapat jawaban pasti atas keputusan yang diambilnya kelak. Namun, tekat dan kemauan atas kebingungan protolan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini menjadi dasar pengambilan keputusan yang dianggap tepat dan bijak.
 
“Saya terdorong harus meneruskan usaha ayah saya. Karena, saya yakin, meski pendidikan saya hanya sampai SMP, saya bisa mengembangkan lebih besar dan maju usaha ayah saya ini,” yakin Anwar yang juga mengaku menjadikan pengalaman kecilnya sebagai pijakan meniti sukses menjadi juragan besar di lingkungan pelabuhan Kalimas Surabaya.
 
Jatuh dan bangun, adalah biasa bagi seorang Anwar. Beruntung, karena keuletan, usaha meneruskan yang pernah dirintis orangtuanya itu berjalan tanpa hambatan. Sepertinya, ketekunan yang ulet menjadi kata kunci paling tepat untuk menggambarkan kesuksesan lelaki berdarah Madura ini. “Tepatnya, tahun 1995, saya mulai merintis dan mengelola usaha yang sebelumnya dikendalikan almarhum bapak saya,” tukas Anwar didampingi Matroeji, sang kakak.
 
Berkat kegigihannya, kini Anwar yang mulai mengembangkan bisnis besi tua di Ternate, Maluku Utara telah memiliki 8 kapal, dari sebelumnya hanya 4 kapal untuk sarana angkut barang dari dan ke tujuan. Kapal-kapal layar besi yang sandar menyirip dan selalu sibuk di pelabuhan Kalimas Surabaya tersebut kebanyakan memiliki rute Indonesia Timur menuju Surabaya.
 
“Dulu, kapal-kapal ini adalah kapal kayu, tapi sekarang sudah ganti menjadi kapal besi. Angkutannya juga bermacam-macam, seperti sembako dan kebutuhan lainnya,” aku pemilik PT Surabaya Maju Bersama yang membawahi lebih dari 50 buruh bongkar muat dan 6 karyawan tetap. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 250 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS