Breaking News
Time: 6:50

Wujudkan Janji Ibu, PKL 'Jalur Gaza' Ini Sukses Biayai 6 Adiknya Hingga Sarjana

Friday, 21 April 2017 21:26
Fatkhul, PKL 'Jalur Gaza' yang sukses mewujudkan cita-cita ibunya Fatkhul, PKL 'Jalur Gaza' yang sukses mewujudkan cita-cita ibunya

Apa yang dihadapi di masa mendatang, memang tidak bisa diprediksi, atau diatur alur ceritanya. Namun, runtut kehidupan tersebut, hanya terbingkai dalam rencana yang tersusun sepanjang usia manusia.

Surabaya, Expostnews.com - Impian yang harus menjadi kenyataan itulah yang mendorong Fatkhul, untuk terus memiliki sebuah cita-cita arif untuk keluarga. Pria sederhana yang kesehariannya sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di gang sempit 'Surabaya Food Street' itu tak henti memompa semangat meraih asa.

Siapa sangka dan duga, penjaja dagangan diapitan antara Universitas Dr.Soetomo (Unitomo) dan Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag), Surabaya atau lebih dikenal dengan 'Jalur Gaza', menjulang cita-cita untuk keluarga. PKL berwajah lugu dengan 6 adik yang menjadi tanggung jawabnya itu meraih gelar sarjana di jenjang pendidikan tinggi.

Senyum serta canda ringan yang selalu melekat pada pria bertubuh kecil kelahiran Lamongan tersebut, sesekali sibuk melayani pembeli yang kebanyakan mahasiswa. Pasang surut usaha warung pinggir jalan sudah biasa dihadapi sejak 2002 silam. Fatkhul pun tak kenal lelah, meski tak jarang dagangannya utuh tak tersentuh dalam seharian berjualan.

“Semua ini saya lakukan karena tekat menghidupi keluarga. Saya ingin menyekolahkan adik-adik saya sampai S1 (sarjana, red),” ucapnya seraya mengenang perjuangan saat pertama kali ia harus 'babat alas' di kerasnya Kota Pahlawan.

Sekilas wajahnya terlihat lelah, kerutan yang mulai terlihat, namun semua itu tiada berarti, jika dibanding semangat serta harapannya yang tidak terhenti begitu saja. Fatkhul mengisahkan, awal perjuangannya menjejakkan kaki di Surabaya pada 1998 lalu untuk sekolah di Unitomo. Ia mengatakan, selepas belajar, bapak dua anak ini mengabdi sebagai takmir masjid di kampusnya. “Semua saya lakukan penuh keikhlasan untuk bertahan hidup dan membiayai pendidikan,” akunya.

Suatu ketika, pada pertengahan 2004, kabar buruk kepergian ibu di kampung menjadi pukulan berat yang tak disangka. Sekuat apapun, tak kuasa juga ia teteskan air mata.

“Saya bertekat menuntaskan kewajiban orang tua. Kemudian saya sholat tahajjud dan istikharah, untuk menyatukan niat baik saya dan orang tua,” kenang Sarjana Ekonomi Unitomo ini.

Sejak saat itu keinginan Fatkhul makin tak terbendung. Perlahan, uang hasil kerja ia kumpulkan sedikit demi sedikit demi menyongsong harapan di depan mata. Impiannya tak muluk-muluk, hanya foksu pada tujuan awal, yaitu nadzar menyelesaikan pendidikan keenam adiknya.

Seusai lulus sebagai Sarjana Ekonomi pada 2002, ia bertekad membuka usaha warung makan dengan menu khas kampung asalnya 'Penyetan Lamongan' di pinggir Unitomo. Berbarengan ketiga adiknya mulai masuk perguruan tinggi. “Saya keluar kerja karena banyak yang iri. Entah kenapa, tapi saya tetap sabar. Akhirnya, saya putuskan berjualan, apalagi saya merasa cocok dengan usaha ini,” kata Fatkhul polos.

Tak sia-sia. Usaha yang selama ini dilakukan berbuah manis. Fatkhul mampu memasukkan ketiga adiknya yang terakhir untuk menempuh pendidikan tinggi di tahun ketiga di Akademi Kebidanan Jombang dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Saya sadar dan yakin, bahwa dengan itikad baik kepada orang tua, menjadi berkah bagi saya,” tuturnya bijak.

Waktu terus berjalan. Memasuki tahun 2006, menjadi saat paling melegakan bagi Fatkhul. Pasalnya, enam adiknya berhasil meraih gelar Sarjana.

Baru kemudian ia berani memutuskan menikahi seorang gadis dari kampung yang sama. Sejak itu, ia mulai mengarahkan keenam adiknya merintis usaha bersama dengan membuka kos serta membuat kontrakan.

“Usaha ini (kos dan kontrakan, red) tidak akan lekang oleh waktu. Sekarang, saya dan adik saya punya beberapa rumah kos dan kontrakan sebagai penopang, selain bekerja di perusahaan dan penyetan kaki lima,” ungkap Fatkhul yang kemudian memutuskan menikahi seorang gadis dari kampung yang sama.

Hingga sekarang, Fatkhul masih tekun melanjutkan usaha berdagang di warung sederhananya. Ia mengaku, sangat bersyukur atas semua yang telah ia jalani, baik suka maupun duka dalam meraih cita-citanya tersebut. “Kuncinya, pelayanan serta mental untuk menghadapi pelanggan agar nyaman,” katanya. (lel/sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 64 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS