Breaking News
Time: 2:19

Akhirnya, Alur Pelayaran Barat Surabaya Dipindah

Monday, 22 May 2017 12:30
Kepala Kantor Distrik Navigasi (Kadisnav) Kelas I Surabaya, Supardi saat menjelaskan konsep jadi pemindahan APBS Kepala Kantor Distrik Navigasi (Kadisnav) Kelas I Surabaya, Supardi saat menjelaskan konsep jadi pemindahan APBS

Disnav Surabaya Telah Siapkan Konsep

Surabaya, Expostnews.com - Jalur perlintasan pelayaran di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dipastikan pindah dari lokasi semula. Pengalihan alur tersebut menyusul temuan dua sumur yang menjadi sumber minyak lepas pantai milik anak usaha PT Pertamina (Persero), yang berada tepat di mulut APBS.

"Ya. Konsep pemindahan alur yang kami buat sudah jadi, dan tercetak" cetus Kepala Kantor Distrik Navigasi (Kadisnav) Kelas I Surabaya, Supardi, Senin (22/5/2017).

Hanya saja, ingat Supardi, penggeseran APBS dari posisi semula itu masih harus ditindasi dengan aturan baru yang menguatkan pemindahan alur. Menurutnya, pijakan tersebut tetap merujuk Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor: KP 455/2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal Sesuai Dengan Kepentingannya di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

"Aturan itu harus direvisi. Kalau tidak direvisi, pembuatan alur baru tidak bisa dilaksanakan. Jadi, sekarang, tinggal menunggu revisi aturannya," aku Supardi.

Sementara, rencana pengalihan APBS dari koordinat sebelumnya ke titik alur baru diketahui menyerong ke kiri, atau jika dilihat dari arah utara penjuru mata angin alur baru tersebut bergeser ke barat. Pergeseran atau pengalihan tersebut tampak dibuat untuk menghindari dua anjungan lepas pantai yang berada tepat di pintu masuk-keluar jalur pelayaran APBS. “Yang baru ini (alur APBS, red), lebih panjang dan lebih dalam,” tukas Supardi saat dikonfirmasi terkait perambuan di wilayah tugas Distrik Navigasi yang berkantor di Tanjung Perak tersebut.

Mengutip cetakan rencana pemindahan alur baru APBS yang dibuat Kantor Disnav Kelas I Surabaya tertera jarak serong yang ditarik dari titik Merah Putih Melajur Tegak (MPMT) eksisting ke rencana alur APBS baru lebarnya mencapai 5 NM atau setara dengan 9 kilometer ke MPMT rencana. Sedangkan, panjang APBS baru yang ditarik dari titik MPMT rencana ke buoy satu mencapai 28,8 kilometer atau 16 nautical miles (NM).

“Jadi, alur APBS baru lebih panjang dibanding alur lama. Kedalamannya juga lebih dalam dengan kondisi air laut surut paling surut yang mencapai rata-rata 40 - 52 Low Water Spring (LWS). Bagaimana kalau normal? Apalagi kondisi laut pasang, jelas jauh lebih dalam. Kapal-kapal dengan generasi 8-9 juga bisa masuk di lintasan alur baru,” paparnya.

Bagaimana dengan perambuannya? Supardi mengatakan, Disnav Kelas I Surabaya akan memasang 26 rambu di sepanjang alur baru dengan tambahan 4 pasang lampu yang berkemampuan sorot lebih dari 5 NM. Keempat lampu berwarna hijau dan kuning itu akan dipasang di kiri dan kanan alur dua arah. “Sebelah kiri kami pasang warna merah atau genap, dan kanan dalam pembacaan kami adalah ganjil, akan kami pasang rambu warna hijau,” jelas Supardi.

Seperti diketahui, expostnews.com pernah mengulas polemik dua anjungan di lepas pantai dekat APBS tersebut. Berita yang diunggah di alamat http://expostnews.com/component/k2/item/2671-dua-kekuatan-besar-ini-adu-klaim-pemilik-kepentingan-nasional ini mengungkapkan, PT Pertamina (Persero) melalui mekanisme usahanya, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) telah menetapkan rencana pembangunan dua buah anjungan minyak lepas pantai. Dua anjungan yang bersinggungan dengan mulut APBS tersebut adalah disiapkan aktivasi fabrikasinya pada, September 2017 dengan gelar pipa dasar laut di instalasi anjungan pada, Oktober 2018.

Kedua proyek prestisius Pertamina di lepas pantai yang diberi nama PHE-7 dan PHE-48 itu merupakan bagian dari pengembangan lapangan PT PHE WMO untuk produksi migas. Sesuai rencana, produksi dari dua anjungan tersebut akan dialirkan ke fasilitas eksisting PHE WMO.

Klaim dari dua anjungan minyak lepas pantai di rute masuk APBS ini akan memberi kontribusi minyak nasional sekitar 4.900 BOPD. Masing-masing dari proyeksi penambahan produksi minyak tersebut, terdiri dari PHE-7 mampu mendulang 2.400 BOPD dan PHE-48 diprediksi bisa menambang 2.500 BOPD. (sa/ms/red)

Rate this item
(5 votes)
Read 298 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS