Breaking News
Time: 5:49

Air Balas Kapal Sebarkan Spesies Asing Berbahaya

Friday, 08 September 2017 22:51
Petugas BKI melakukan survei air balas kapal Petugas BKI melakukan survei air balas kapal

BKI Survei Mulai Hari Ini

Jakarta, Expostnews.com – Air balas yang dibawa kapal dan terbuang ke laut diduga bisa menyebabkan munculnya biota laut asing yang berbahaya bagi lingkungan. Mendasari hal ini, PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero)/BKI mulai melakukan survei dan sertifikasi manajemen air balas kapal.

“Upaya BKI ini sudah sesuai aturan IMO, dan diberlakukan efektif mulai hari ini,” jelas Direktur Utama (Dirut) BKI, Rudiyanto, Jumat (8/9/2017).

Menurut Rudiyanto, ketetapan International Maritime Organization (IMO) dalam Ballast Water Management Convention (BWMC) tersebut telah diratifikasi Pemerintah Indonesia. Selain itu, regulasi terkait air balas ini juga sesuai perjanjian kerjasama IMO dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), atas nama Pemerintah Indonesia.

“Selain survey, kami juga melakukan proses sertifikasi manajemen air balas kapal,” ingat Rudiyanto.

Dijelaskan, survey ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut akibat perpindahan spesies/biota laut akibat pembuangan air balas yang dibawa kapal dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebab, munculnya biota laut asing yang berbahaya bagi lingkungan ini memiliki dampak pada ketidakseimbangan ekosistem laut. “Pembuangan air balas kapal ini juga berpengaruh buruk pada perkembangan biota laut,” papar Rudiyanto.

Dalam konvensi ini, kata Rudiyanto, seluruh kapal yang berlayar di jalur pelayaran internasional harus melakukan pengelolaaan air balas dan sedimen sesuai dengan persyaratan dalam konvensi. Dengan begitu, penyebaran organisme air yang berbahaya dari satu daerah ke daerah lain bisa dicegah dengan menetapkan standar serta prosedur pengelolahannya.

“Termasuk di dalamnya adalah pengendalian air dan sedimen balas kapal. Jadi, kami berharap shipowner bisa mengimplementasikan semua prosedur dan form catatan yang terkait manajemen air balas sesuai BWM Plan,” harapnya.

Rudiyanto mengungkapkan, penerapan Konvensi BWM di Indonesia tersebut sesuai hasil sidang MEPC 71 pada, 3 - 7 Juli 2017 lalu. Ia meminta, pemilik kapal yang dikenai aturan Konvensi BWM tersebut memperhatikan dan dapat melaksanakan sesuai aturan yang berlaku.

“Untuk kapal-kapal bangunan baru yang peletakan lunasnya dilakukan pada atau setelah 8 September 2017, harus melakukan instalasi Ballast Water Management Treatment System (BWMTS) pada saat serah terima kapal,” ingat Rudiyanto.

Sedangkan, untuk kapal existing (bangunan jadi), melakukan instalasi BWMTS pada saat pembaharuan (renewal) sertifikasi IOPP. Ketentuan lebih lanjut bisa dilihat dan dipelajari melalui website BKI. "Alamatnya, di http://www.bki.co.id/pagestatis-106-water-ballast-management-lang-id.html," jelasnya. (sa/ms/bki)


Rate this item
(1 Vote)
Read 114 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS