Breaking News
Time: 11:50

Rambu Navigasi 'Tol’ APBS Disoal, Stenvens INSA: Nggak Gratis

Thursday, 28 March 2019 08:36
Ilustrasi Ilustrasi

Surabaya, Expostnews.com - Revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dari eksisting menjadi diusahakan telah mengubah bentuk kedalaman dan lebarannya. Hanya saja, alur alternatif berbayar ini masih menyimpan tanya terkait penyediaan dan pengaturan fasiitas pendukung keselamatan pelayaran.

Hal ini serupa dengan kegamangan pelaku usaha dan pengguna jasa terhadap ketersediaan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) di sepanjang APBS. Komentar pun mengembang, hingga memantik Ketua Dewan Pimpinan Cabang Indonesian National Shipowners' Association (DPC INSA) Surabaya, Stenvens H Lesawengan angkat bicara.

Menurutnya, perambuan/SBNP yang terpasang di sepanjang Alur Pelayaran Barat Surabaya, terutama rambu-rambu laut di lintasan yang diusahakan, selayaknya menyesuaikan alur bertarif mahal tersebut. Pertanyaan besar yang dituangkan Stenvens terhadap posisi perambuan di APBS itu, tidak bisa dianggap remeh dan mengada-ada.

“Posisi perambuan ini harus dipandang serius. Karena, korelasinya dengan tingkat keamanan dan kenyamanan kapal yang melintas di channel APBS,” tandasnya, Kamis (28/3/2019).

Ia menganggap, ketepatan posisi rambu dengan kondisi kekinian APBS, sangat diperlukan untuk memastikan jaminan keamanan dan keselamatan pelayaran. Alasannya, rambu laut yang menjadi domain Distrik Navigasi Kelas I Surabaya itu merupakan bagian dari sebuah fasilitas yang keberadaannya juga harus diperhatikan.

“Disesuaikan juga dengan perkembangan alur yang sudah berubah. Itu harus dipenuni, dan diperoleh pengguna jasa saat melewati ‘tol’ tersebut. Tidak sebatas mengecat dan ganti lampu saja. Posisinya juga harus menyesuaikan perubahan,” ingat Stenvens seraya menganalogi APBS yang diusahakan dengan infrastruktur jalan bebas hambatan beserta ketersediaan fasilitas penjamin keselamatan penggunanya.

Menyikapi kondisi perambuan yang dianalogi mirip rambu jalan tol ini, kata Stenvens, sudah seharusnya pemilik kewenangan melakukan upaya pembenahan terhadap pemasangan rambu-rambu laut, terlebih di alur APBS yang baru. Hanya saja, Stenvens tak ingin menuding, Distrik Navigasi Kelas I Surabaya, selaku pihak pengatur posisi rambu, terkesan acuh dan telah melakukan pembiaran.

“Untuk rambu ini kan sudah bertahun-tahun? Masak, APBS sudah berubah, rambunya tidak berubah posisinya,” tukas Ketua DPC INSA Surabaya tiga kali terpilih ini.

Pertanyaannya? Apakah dengan perubahan APBS dari yang eksisting menjadi diusahakan alias bertarif ini, posisi rambu masih sama seperti dengan puluhan tahun lalu? Lantas, kaitan dengan keselamatan pelayaran bagaimana? Bagaimana pula dengan fungsi rambu itu sendiri? “Karena, rambu itu sebagai tanda memandu, apakah kapal bisa lewat, atau tidak boleh dilalui. Kalau posisinya masih sama seperti yang dulu, bagaimana?” jelasnya dikonfirmasi.

Semestinya, lanjut Stenvens, posisi rambu dengan perubahan fungsi APBS sebagai ‘jalan tol’ yang bebas hambatan dan berbayar itu harus pula didukung kualitas perambuan yang andal. Alasannya, konsumen ‘tol’ APBS di Tanjung Perak sudah mengeluarkan kocek perambuan, disamping tarif APBS dan jasa pemanduan yang nilainya tidak sedikit.

“Harusnya, kami ini dapat pelayanan maksimal yang tidak mengurangi kenyamanan melewati APBS. Karena, kami ini juga bayar uang rambu. Bukan gratis. Masak, sudah membayar, rambunya tetap saja tidak berubah?” tanya lelaki kelahiran Menado yang akrab disapa Bro Steve ini tanpa menyebut detil nilai 'pungutan’ rambu di APBS.

Keberadaan SBNP/perambuan tersebut, seharusnya menjadi catatan penting Distrik Navigasi Kelas I Surabaya sebagai pihak yang berkompeten menyediakan pengaturan. Posisi perambuan, ingat Stenvens, selayaknya menyesuaikan perubahan APBS yang kedalamannya sudah mencapai 13 meter Low Water Spring (LWS) dengan lebar yang semula 100 meter menjadi 150 meter.

“Ketika APBS didalamkan dan dilebarkan, konsekuensi pertama yang harus dilakukan adalah perubahan posisi rambu. Ibaratnya, ketika jalannya dilebarkan, pasti ada perubahan rambu atau penunjuk jalan. Kalau yang dulu tidak ada, sekarang rambu itu ada,” tukasnya. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 35 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS