Breaking News
Time: 7:20
Redaksi

Redaksi

Jakarta, Expostnews.com – Susu Kental Manis dengan Krimer Kental Manis, merupakan dua produk yang nyaris serupa, namun memiliki banyak perbedaan. Lantas, apa yang membedakan antara Susu Kental Manis dengan Krimer Kental Manis? Bagaimana pula dari segi kelayakan konsumsinya?  

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), susu kental manis (SKM) merupakan produk yang mengandung susu dan aman untuk dikonsumsi. Bahkan, Kepala Badan POM RI Penny Lukito menyatakan, susu kental manis merupakan produk susu yang sesuai dengan kategori pangan. “Jadi, SKM itu, aman untuk dikonsumsi,” tutur Penny, Senin (16/7/2018).

Menyoal ini, juga dijelaskan dalam Perka BPOM No. 21/2016. Dalam aturan tersebut terinci, ada 9 jenis yang masuk subkategori Susu Kental, yaitu susu evaporasi, susu skim evaporasi, susu lemak nabati evaporasi, susu kental manis dan susu kental manis lemak nabati. “Lalu ada jenis susu skim kental manis, krim kental manis, krimer kental manis, dan khoa,” katanya.

Sebelumnya, dalam konferensi pers yang digelar di Aula Gedung C BPOM, Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/7/2018) lalu, Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru, Tetty Helfery Sihombing juga menegaskan, krimer kental manis bisa mengandung krim maupun susu.

“Susu kental manis  adalah produk yang mengandung susu . Ada juga krimer kental manis (KKM) yang memasukkan susu, tapi kandungan susunya lebih kecil dari pada di susu kental manis. Artinya, krimer kental manis bisa mengandung krim maupun susu,” tukas Tetty.

Meruntut awal kemunculannya, kata Tetty, susu kental manis diharuskan mengandung kandungan susu, seperti yang termaktup dalam Peraturan BPOM No. 21/2016 yang menyebut, definisi dari susu kental manis. Dijelaskan, susu kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu.

“Atau, merupakan hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula, dengan atau tanpa penambahan bahan lain,” papar Tetty.

Khusus untuk susu kental manis, dibuat dari susu sapi dengan campuran gula dan air, serta memiliki padatan susu sekitar 20%. Selain padatan ini, lanjut Tetty, dalam SKM terdapat protein, vitamin, mineral, dan lemak. “Adapun, karakteristik dasar dari susu kental manis adalah memiliki kadar lemak susu, tidak kurang dari 8 persen dan kadar protein tidak kurang dari 6,5 persen (untuk plain),” ulasnya.

Sementara, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKGK FKM UI), Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD dihubungi terpisah memberikan pandangannya mengenai susu kental manis. Ia menyebut, susu kental manis memiliki kadar protein yang relatif lebih tinggi dibanding jenis lainnya dalam kategori Susu Kental.

“Susu kental manis juga mempunyai kualitas gizi yang hampir setara dengan susu lainnya. Yang membedakan antara susu kental manis dengan produk susu lainnya, seperti susu cair maupun susu bubuk, hanya pada jumlah kandungan susunya. Sama saja dari segi kualitas, meskipun secara jumlah kandungan susu juga berbeda,” jelas Syafiq.

Namun, Syafiq mengingatkan, semua jenis makanan saling melengkapi, dan tidak ada makanan atau minuman tunggal yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Menurutnya, siapa saja boleh mengonsumsi susu kental manis dalam jumlah tidak berlebihan.

“Tapi, susu kental manis tidak cocok untuk bayi. Yang perlu juga diperhatikan adalah kebutuhan pertumbuhan anak perlu konsumsi protein hewani yang cukup. Sehingga, diperlukan asupan protein dari sumber hewani,” urai Syafiq.

Ia menegaskan, gula dalam susu kental manis bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Gula dalam susu kental manis dibutuhkan untuk mencegah kerusakan produk, karena produk dipasteurisasi dikemas secara kedap (hermetis). “Dalam proses pembuatannya, air dari susu diuapkan, lalu ditambahkan gula yang juga berfungsi sebagai pengawet. Jadi, gula memang dibutuhkan dalam produk susu kental manis,” tukasnya.

Menyikapi kebingungan masyarakat terkait susu kental manis, Syafiq mengatakan, pemerintah harus terus meningkatkan upaya peningkatan literasi gizi masyarakat, serta terus melaksanakan upaya menyusun kebijakan berbasis evidens. Di sisi lain, ia juga menyarankan agar masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan kehebohan.

“Pemerintah diharapkan memberikan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tidak resah dan kebingungan dengan informasi yang beredar. Masyarakat perlu bijak dalam menyikapi kehebohan, tidak panik dan meningkatkan pengetahuannya mengenai gizi seimbang, serta kebutuhan maupun kecukupan gizi. Kita harus mau mencari informasi dari ahli gizi yang kompeten,” ingat Syafiq.

Menukil catatan, kehadiran produk susu kental manis di Indonesia dapat dirunut sampai pada masa pra-kemerdekaan. Susu kental manis masuk ke Indonesia pada tahun 1873, yaitu melalui impor susu kental manis merek Milkmaid oleh Nestlé, yang dikenal dengan nama Cap Nona. Selanjutnya, tahun 1922 oleh De Cooperatve Condensfabriek Friesland yang sekarang dikenal dengan PT Frisian Flag Indonesia dengan produknya Friesche Vlag.

Pada akhir tahun 1967, Indonesia mulai memproduksi susu kental manis pertama kalinya melalui PT Australian Indonesian Milk atau kini dikenal dengan nama PT Indolakto, diikuti oleh PT Frisian Flag Indonesia pada tahun 1971 dengan pabriknya di Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan diikuti PT Nestlé Indonesia pada tahun 1973 yang produknya dibuat di pabrik di Provinsi Jawa Timur, hingga sampai saat ini industri susu kental manis terus berkembang.

Catatan lain menyebut, Kementerian Perindustrian melaporkan, industri susu kental terus tumbuh berkembang seiring dengan konsumsi produk susu kental manis yang terus naik. Saat ini, kapasitas produksi pabrik susu kental manis di dalam negeri mencapai 812 ribu ton/tahun. Adapun, nilai investasi di sektor usaha ini menembus bilangan Rp 5,4 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 6.652 orang. (sa/mal/ms)

Surabaya, Expostnews.com – Menyambut gelaran final Piala Dunia 2018 di laga Perancis kontra Kroasia di Rusia, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim) menggelar sepak bola mini. Gelaran sepak bola mini ini sebagai rangkaian merekatkan silaturrahim antara jaksa dan jurnalis, sekaligus pembukaan Pekan Olah Raga, Hari Bhakti Adhyaksa ke 58 tahun.

“Temanya, junjung tinggi sportifitas untuk mewujudkan soliditas dan integritas diri. Ini dalam rangka membangun kebersamaan. Nanti, pada malam Senin, kami nobar Piala Dunia 2018 di lantai 8. Mulai jam 8 malam, kami siapin organ tuggal, sambil nyanyi juga,” ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kajati Jatim), Sunarya, Jumat (13/7/2018).

Sementara, dalam pertandingan sepakboal mini ini, tim Kejati Jatim terpaksa menyerah terhadap jurnalis yang tergabung dalam tim Komunitas Media Pengadilan Kejaksaan (Kompak). Tim jurnalis yang biasa melakukan peliputan di Pengadilan/Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Negeri itu mampu menghempaskan tim Kejati Jatim dengan skor 4-3.

Selain itu, acara dimeriahkan tarian modern dari ibu ibu kejaksaan, dengan mengenakan jersye kontestan Piala Dunia 2018 Rusia. Ibu ibu yang biasa menangani  berbagai perkara hukum di Pengadilan ini,  terlihat enerjik dan gemulai mengikuti irama musik.

Acara yang digelar itu sebangai bentuk menjunjung tinggi sportifitas, solidaritas serta membangun integritas diri. Caranya, dengan mengisi berbagai rangkaian kegiatan positif untuk menunjukkan kreatifitas, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. “Saya tidak memiliki tim jagoan, tapi saya memilih Perancis sebagai calon juara,” tukas Kajati Jatim. (tr/sa/ms)

Surabaya, Expostnews.com - Kalahnya tim nasional Indonesia usia 19 tahun (Timnas U19) saat kontra laga dengan timnas Malaysia di babak semifinal Piala AFF U19 masih mengiangkan bekas mendalam di benak pecinta sepak bola nasional. Apalagi, kekecewaan tersebut ditambah peristiwa listrik lampu sorot stadion mati mendadak saat jelang usainya pertandingan di babak kedua perebutan Piala AFF U19 di Gelora Delta Sidoarjo.

“Itu (padamnya lampu, red) bukan dikarenakan listrik PLN,” tukas Dwi Suryo Abdullah, Manajer Komunikasi Hukum dan Administrasi PLN Distribusi Jawa Timur, Jumat (13/7/2018).

Klarifikasi yang disampaikan tersebut, sekaligus bantahan PLN yang merasa dikambinghitamkan atas kejadian padamnya listrik lampu sorot di dalam stadion yang menerangi pertandingan rivalitas timnas kedua negara tersebut. PLN, dalam hal ini PLN Disjatim mengaku, bukan sebagai pihak penyebab padamnya lampu sorot hingga akhirnya timnas Indonesia ditekuk Malaysia pada adu penalti dengan skor 2-3, setelah 90 menit bermain imbang 1-1 di pertandingan yang berlangsung, 1 Juli 2018 lalu.

“Pihak pengelola gelora hanya memanfaatkan listrik dari PLN untuk kepentingan penerangan di luar stadion,” aku Dwi.

Tak ingin jadi bulan-bulanan dan dipersalahkan, Dwi kembali menjelaskan, sebelum penyelenggaraan AFF, PLN telah menawarkan layanan khusus, untuk mem-back up pasokan listrik ke lampu sorot, atau bahkan digunakan sebagai pasokan utama. Namun, pihak pengelola Gelora Delta Sidoarjo lebih memilih listrik dari PLN yang berdaya sambung 41,5 kVA hanya untuk penerangan di luar lampu sorot.

“Jadi, saat kejadian padamnya lampu sorot di Gelora Delta Sidoarjo, pasokan listrik PLN dalam keadaan normal atau tidak terganggu,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, PLN Distribusi Jawa Timur sangat menyesalkan, keputusan yang diambil pengelola Gelora Delta Sidoarjo menggunakan genset berkekuatan 600 kW untuk menyalakan lampu sorot. Praktis, apabila sewaktu-waktu genset terganggu, lampu sorot sudah pasti akan padam karena tidak ada cadangan listrik dari PLN.

“Apalagi, tidak dihubungkan ke lampu sorot, mengingat kapasitas listrik PLN hanya 41,5 kVA,” ingatnya. (sa/ms/cw7)

Surabaya, Expostnews.com – Memasuki tahun keenam, PT Bumi Suksesindo (BSI), telah melampaui tiga fase penambangan, yaitu eksplorasi, konstruksi dan saat ini merupakan tahun kedua fase produksi. Seiring dengan fase produksi, operator tambang emas di Tumpang Pitu Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi ini terus meningkatkan program-program sosialnya, melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

“Program sosial yang terus kami gulirkan ini, bertujuan untuk meningkatkan dampak positif dari kehadiran perusahaan kepada masyarakat, sekaligus mendukung kemandirian masyarakat secara sosial-ekonomi. Karena, kehadiran BSI tidak selamanya ada di Sumberagung,” tutur Presiden Direktur PT BSI, Adi Adriansyah Sjoekri, Kamis (12/7/2018).
 
Ia juga memastikan, program-program sosial yang dilakukan PT BSI tetap berjalan lancar dan tidak tumpang tindih dengan program-program pemerintah. Sebab, selama ini, BSI selalu berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan program sosialnya tidak berbenturan dengan program pemerintah.

“Secara formal, PT BSI juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai pelaksanaan CSR bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi antara Direktur PT BSI, Cahyono Seto dan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas pada Kamis (12/4/2018) lalu,” katanya.

Sebagai aset Pemkab Banyuwangi, BSI memiliki komitmen untuk terus mengambil inisiatif dan berkontribusi secara langsung dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. Besarnya dukungan dan kerjasama dengan Pemerintah serta masyarakat Banyuwangi ini menjadi kunci keberhasilan PT BSI. “Sehingga, BSI beroperasi secara optimal di tambang  emas Tujuh Bukit,” jelas Seto saat itu.

Selain penandatanganan MoU CSR, pada semester I/2018, PT BSI telah merealisasikan program-program lainnya, seperti infrastruktur pendidikan di 17 lembaga pendidikan TK dan SD di wilayah Kecamatan Pesanggaran, pengoperasian 4 unit bus sekolah, dan 180 beasiswa untuk tingkat SD, SMP, SMA dan Strata-1.

Di bidang pendidikan, Mobil Layanan Kesehatan (MLK) juga telah beroperasi dan menjangkau daerah-daerah yang masih sulit mengakses fasilitas serta layanan kesehatan. Pengoperasian MLK ini, bekerjasama dengan Puskesmas Pesanggaran, Sumberagung dan Siliragung sebagai representasi pemerintah di bidang kesehatan.

Bahkan, saat ini PT BSI tengah menyelesaikan proyek pembangunan jalan sepanjang 3 kilometer di Desa Sumberagung untuk akses utama menuju pantai wisata Pulau Merah dan Pancer. Dengan selesainya pembangunan jalan ini, diharapkan dapat mendorong peningkatan pengunjung wisata. “Apalagi, jalan yang sudah kami bangun ini bagus,” ungkap Adi.

Di sisi lain, PT BSI juga mengembangkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti pendampingan petani padi dengan penerapan metode System of Rice Intensification (SRI), dan pendampingan petani kopi serta pendampingan usaha kecil menengah (UKM). (ms/sa)

Page 1 of 797



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS