Breaking News
Time: 10:57

Moleknya Watukarung di Barat Daya Pacitan

Monday, 22 August 2016 23:22
Pantai di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan Pantai di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan

Pacitan, Expostnews.com – Menguak potensi Indonesia, khususnya Jawa Timur, tak lepas dari Kabupaten Pacitan yang menyimpan keunggulan tiada tara dan menakjubkan. Sebut saja Watukarung. Desa di Kecamatan Pringkuku ini kesohor dengan kemolekannya yang mulai dikenal dunia.

“Benar. Desa ini (Watukarung, red) memang menyimpan banyak potensi unggulan yang sangat menonjol. Kemolekan Watukarung menjadi bagian dari destinasi wisata menakjubkan di Kabupaten Pacitan,” aku Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pacitan, Wasi Prayitno.

Ungkapan penuh optimis dari Wasi ini, tampaknya bukan sesuatu yang mengada-ada atau melebih-lebihkan dari fakta sesungguhnya. Desa pesisir pantai di barat daya Kabupaten Pacitan ini bak bentangan surga yang tercipta indah di Pulau Jawa.

“Kaitan dengan potensi, khususnya wisata, kami yakin, keberadaan Desa Watukarung bisa mendukung dan lebih menguatkan Pacitan sebagai Paradise of Java,” ujar Wiwid Pheni Dwiantari, selaku Kepala Desa Watukarung saat ditemui terpisah.

Selain keindahan pantai berpanorama indah dan deburan ombaknya, Desa Watukarung juga memiliki kawasan wisata yang layak disinggahi. Wiwid menyebut, ada dua area wisata perkemahan yang cukup lapang dengan nuansa pegunungan dan pemandangan pantai, termasuk potensi alam lain seperti hutan rakyat dan hutan pantai, pertanian serta perikanan dan perkebunan kelapa.

“Kerajinan batik tulis, yang merupakan potensi ekonomi penduduk Desa Watukarung, adalah salah satu produk dari 7 dusun di Desa Watukarung. Batik tulis ini perpaduan khas motif batik Pacitan (pace), dan karakter kelautan Watukarung berupa binatang/satwa laut. Begitu juga dengan karawitan yang diprakarsai ibu-ibu PKK nelayan di pesisir dan ketoprak anak-anak di usia SD,” paparnya.

Tak henti, Wiwid terus memoles kecantikan Watukarung dengan semua kemolekannya itu melalui program pengembangan potensi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Dengan pengelolaan segala potensi dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dilakukan Wiwid di desa yang merupakan bagian dari 13 desa di Kecamatan Pringkuku ini pun menuai hasil.

“Dalam dua-tiga tahun ini, kunjungan wisata di Desa Watukarung naik 75 persen dari sebelumnya. Apalagi, di Desa Watukarung ini juga didukung keberadaan homestay milik warga. Harganya, mulai Rp 50 ribu-Rp 8 juta sehari semalam dengan fasilitas kolam renang dan makan tiga kali,” kata Wiwid yang juga mengaku tak menutup diri terhadap saran dan nasehat dalam pengembangan sektor pariwisata. “Karena, kami ingin menjadikan Desa Watukarung sebagai desa wisata dengan masyarakatnya yang bermartabat,” sambungnya saat menyambut kedatangan rombongan jurnalis Surabaya bersama jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim yang dipimpin Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata (PSDP) Disbudpar Jatim, Rosmiati di aula Balai Desa Watukarung, Jumat (19/8/2016).

Dalam paparannya, Wiwid juga mengungkapkan, banyak wisatawan mancanegara, seperti Amerika Serikat, Australia, Norwegia, China dan Perancis kerap meluangkan waktunya untuk berlibur di Desa Watukarung. Tak jarang, para wisatawan tersebut menetap dan menginap hingga berminggu-minggu di desa yang berada pada ketinggian 75 meter diatas permukaan air laut ini.

“Mereka (wisatawan, red) datang hanya untuk menikmati pantai dan panoramanya. Karena, pantai kami terkenal dengan pasir putihnya yang halus, dengan deburan ombak paling bagus untuk bermain selancar, utamanya bagi peselancar profesional,” tutur Wiwid yang mengenakan gaun batik tulis berkarakter Watukarung dan khas Pacitan dengan corak kekuning-kuningan.

Konon, lanjut Wiwid, gulungan ombak di pantai Watukarung adalah paling bagus dan terbaik nomor 3 se-Asia. Bahkan, selain ombak yang sesuai untuk bermain surfing (selancar), panorama sekeliling pantai juga menjadi magnet bagi siapapun yang menyaksikan karya Ilahi paling menakjubkan tersebut.

“Kami memiliki 4 spot bagus di Watukarung, seperti Spot Alur Ombo dengan 6 titik terindah, yang salah satunya kami sebut Puteri Samudera. Ada juga tiga titik terindah di Spot Kali Cokel, Spot Pantai Kasap dengan 4 titik yang terkenal dengan batu hitam dan pasir lebih putih dibanding Spot Alur Ombo. Kemudian ada juga Spot Pantai Mblosok dengan 4 titik yang terkenal dengan Putera Samuderanya,” papar Kades yang baru 4 tahun dalam satu periode ini memimpin dan membuka keterisolasian Desa Watukarung melalui pengembangan potensi tersembunyinya.


Gayung Sambut

Upaya pengembangan kawasan wisata di Desa Watukarung, bergayung sambut. Rudi, yang juga warga setempat, mengaku terpaksa membongkar habis rumahnya untuk disulap menjadi homestay (rumah singgah). “Baru dua tahun ini kami buka,” kata suami Ismini ini.

Awalnya, lanjut lelaki usia 47 tahun itu, home stay yang diberi nama ‘Sackstone’ ini hanya sebuah rumah biasa dengan dua kamar yang ditinggali bersama keluarganya. Dalam perjalanannya, dua kamar yang disewakan itu tak mampu menampung silih bergantinya wisatawan mancanegara (wisman) dan domestik yang ingin menginap sementara di Desa Watukarung.

“Akhirnya, kami putuskan membongkar rumah dan kami jadikan 4 kamar. Sekarang, kami punya 9 kamar,” jelas orang tua Candra Isdian Sukmana Saputra ini selaku pengelola ‘Sackstone’ yang merupakan satu dari 21 homestay milik penduduk yang terdata di Desa Watukarung.

Dijelaskan, kamar yang disewakan harganya cukup bervariasi antara Rp 200 ribu-Rp 300 ribu/kamar. Namun, harga tersebut disesuaikan dengan fasilitas yang diberikan untuk memberikan kenyamanan penyewa. “Sewanya, Rp 300 ribu untuk kamar ber-AC, dan Rp 200 ribu untuk kamar non AC per hari per malam. Rata-rata yang menyewa homestay kami adalah wisatawan dari Perancis, Inggris, Chili, Spanyol, Australia dan Jepang,” akunya. (sa/ms)

Rate this item
(2 votes)
Read 553 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS