Breaking News
Time: 4:58

Dua Alat Bukti Naikkan Status Bekas Perawat National Hospital Peremas Payudara

Saturday, 27 January 2018 20:16
Zunaidi Abdilah (bertopeng), kini berstatus tersangka peremas payudara pasien operasi di National Hospital Surabaya, Widyanti alias Widya (30) di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/1/2018),  Zunaidi Abdilah (bertopeng), kini berstatus tersangka peremas payudara pasien operasi di National Hospital Surabaya, Widyanti alias Widya (30) di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/1/2018),

Surabaya, Expostnews.com – Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya tampaknya tak ingin berlama-lama membiarkan Zunaidi Abdilah terkatung-katung dengan status saksi yang disandangnya usai menikmati payudara dan puting pasien operasi di National Hospital, Selasa (23/1/2018) lalu. Kini, status saksi yang disematkan Polisi terhadap terduga pelaku pelecehan seksual asal Jl Bebekan Jagalan Sidoarjo  tersebut ‘naik kelas’.

“Ya, minimal dua alat bukti, cukup untuk menaikkan status ZA menjadi tersangka,” tandas Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran dan jajaran Satreskrim Unit PPA di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (27/1/2018).

Hanya saja, Rudi enggan menyebut, dua alat bukti yang dijadikan dasar menaikkan status oknum pecatan perawat National Hospital Surabaya tersebut. Rudi mengatakan, petunjuk dan keterangan saksi sudah cukup sebagai alat bukti beserta pengakuan pelaku yang membenarkan telah melakukan aksi asusila tersebut.

“Tapi, kami tetap memaksimalkan kelengkapan alat bukti pendukung lainnya sebagai penguat ke persidangan, selain dua alat bukti yang kami miliki,” tukasnya.

Rudi menuturkan, sebelum penetapan status tersangka, pihaknya mengawali dengan gelar perkara dari kasus yang dialami korban yang juga pasien operasi National Hospital Surabaya, Widyanti alias Widya (30). Usai memeriksa pelaku pada, Jumat (26/1/2018) malam, Polisi mendapati kesimpulan yang meyakinkan, bahwa Zunaidi Abdilah sebagai tersangka pencabulan bisa dijerat Pasal 290 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 7 tahun penjara. “Mencabuli orang dalam keadaan tidak sadar atau pingsan,” katanya.

Sementara, Zunaidi Abdilah dihadapan wartawan menyesali perbuatannya. Dengan terbata-bata dan diselingi isak, lelaki berusia 30 tahun tersebut meminta maaf atas perbuatan asusilanya terhadap korban. “Mohon maaf kepada rekan-rekan perawat seluruh Indonesia, istri saya dan terutama kepada ibu saya,” tuturnya menunduk.

Seperti diberitakan, kasus peremasan payudara yang dilakukan oknum perawat National Hospital Surabaya berinisial ZA pada, Selasa (23/1/2018), sempat membuat geger dengan beredarnya viral video klarifikasi pelecehan seksual. Polisi pun merespon viral video MP4 berdurasi kurang dari satu menit tersebut dengan melakukan pengecekan hingga memastikan peristiwa tindak asusila yang dialami Widyanti yang akrab disapa Widya itu terjadi di National Hospital Surabaya.

Berdasar Laporan Polisi Nomor : LP/B/78/I/2018/Spkt/Jatim/Restabes Sby tanggal 25 Januari 2018 atas nama pelapor Widyanti disebutkan, setelah selesai dilakukan tindakan operasi terhadap korban di kamar operasi rumah sakit National Hospital, Zunaidi Abdilah membawa korban yang masih dalam keadaan tidak berdaya ke ruang pulih sadar. Antara kamar operasi dengan ruang pulih sadar berjarak sekitar 7 meter. Selanjutnya, Zunaidi Abdilah memasukkan tangannya dibalik baju pasien/korban yang kemudian melakukan aksi peremasan payudara serta memegang puting korban selama kurang lebih 2 menit hingga korban merasa kesakitan.

Kemudian, korban yang masih tidak berdaya itu berusaha memberontak dengan menggerakkan tubuhnya. Seketika itu, pelaku melepaskan dan mengeluarkan tangannya dari dalam baju korban. Membaca rilis kasus tersebut, pelaku masih juga tidak menghentikan aksinya, melainkan mengulangi perbuatan yang sama kepada korban untuk yang kedua kalinya selama kurang lebih 1 menit. (sa/ms/pul)

Rate this item
(1 Vote)
Read 79 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS