Breaking News
Time: 11:00

Salim Himawan Saputra Tegaskan Kesaksian, Ketua Majelis: Tahan Leny

Tuesday, 27 March 2018 20:34
Salim Himawan Saputra, selaku saksi korban saat memberikan kesaksiannya di PN Surabaya, Selasa (27/3/2018) Salim Himawan Saputra, selaku saksi korban saat memberikan kesaksiannya di PN Surabaya, Selasa (27/3/2018)

Surabaya, Expostnews.com - Jaksa Penuntut umum (JPU), Darwis, menghadirkan saksi korban Salim Himawan Saputra, selaku Direktur  Utama (Dirut) PT Guna Karya Pembangunan untuk memberikan kesaksian dalam sidang perkara penipuan Rp 300 juta yang dilakukan Bos CV Lem Indo Solution Surabaya, Leny Anggreini sebagai terdakwa, Selasa (27/3/2018). Dalam sidang kesaksian tersebut, terdakwa dinyatakan Majelis Hakim tetap ditahan hingga meteri persidangan dilanjutkan kembali pekan depan.

Di hadapan majelis hakim, saksi Salim Himawan Saputra dengan tegas menjelaskan, perkara ini bermula pada saat saksi korban membutuhkan dana sekitar Rp 750 juta sampai Rp 1 miliar yang akan digunakan untuk keperluan proyeknya.

“Terdakwa menawarkan pinjaman Rp 500 juta. Katanya, uang Rp 500 juta yang dia (terdakwa, red) pinjamkan kepada saya adalah DP dari hasil penjualan rumahnya,” ujar saksi korban menjawab pertanyaan JPU.

Namun, kata Salim, sebelum menawarkan pinjaman dari uangnya sendiri, terdakwa yang mengaku sebagai konsultan pajak itu mengatakan, banyak mengenal orang perbankan yang bisa membantu dalam urusan pinjam-meminjam. Lantas, saksi korban meminta untuk dikenalkan dengan bank-bank yang dimaksud kenalan terdakwa tersebut.

“Setelah akhirnya, tidak ada fasilitas kredit dari bank. Nah, dari situlah terdakwa menawarkan untuk meminjamkan Rp 500 juta dengan cara ditransfer pada tanggal, 20 Juni 2016. Uang transferan itu diakui milik terdakwa,” ulas saksi korban, Salim Himawan.

Beberapa lama kemudian, tepatnya,12 Oktober 2016, terdakwa meminta pembayaran pinjaman Rp 500 juta, dengan alasan kebutuhan mendesak. Lalu, saksi korban mengembalikan sebagian jumlah uang pinjaman dari terdakwa sebesar Rp 300 juta. “Saya bayarkan dalam bentuk Bilyet Giro (BG) Bank BII Mybank,” tambah Salim.

Anehnya, setelah besaran uang Rp 300 juta berhasil dicairkan terdakwa, tiba-tiba saksi Salim Himawan Saputra menerima surat tagihan dari terdakwa. Tagihan secara berturut-turut itu terjadi pada, 15 Desember 2016 dengan No Surat : 001/X/2016, dan 16 Desember 2016 dengan No Surat : 001/X/2016 REVISI.

“Yang isinya tertulis tagihan pembayaran konsultan pajak serta pembayaran pemakaian kantor dengan total rincian Rp 300 juta,” ungkap Salim.

Bukan hanya itu. Pada hari yang sama, Elizabeth juga melayangkan surat somasi kepada saksi korban. Isinya, meminta pengembalian uang titipan senilai Rp 500 juta. “Padahal awalnya saya tidak tahu kalau uang tersebut ditransfer Elizabeth. Akhirnya saya meminta print out rekening koran dari Bank BCA,” jelas Salim.

Ternyata, kata saksi korban, dari print out rekening koran tersebur menunjukkan, bahwa uang sudah dikembalikan sebesar Rp 300 juta dalam bentuk BG kepada terdakwa Leny. Namun, terdakwa tidak membayarkan uang yang ditransfer saksi korban kepada Elizabeth,

“Tapi, semua itu sudah saya klarifikasi, termasuk melalui Surat Jawaban Somasi saya kepada Leny Anggreini dan Elizabeth,” tukas Salim dihadapan majelis hakim.

Diakhir kesaksian korban, terdakwa Leny Anggreini membantah, jika pernyataan dari kesaksian yang diberikan saksi Salim Himawan Saputra sebagian tidak benar. Leny juga mengaku, tidak pernah melayangkan nota tagihan tersebut kepada Salim.

“Tolong perlihatkan buktinya kalau saya pernah mengirimkan surat tagihan. Saya tidak pernah merasa mengirimkan surat tagihan itu kepada Salim melalui kantor pos,” kelit terdakwa, Leny Anggreini.

Menanggapi bantahan tersebut, saksi Salim Himawan Saputra pun memperlihatkan seluruh bukti nota tagihan beserta amplop surat dengan tulisan tangan yang dikirimkan Leny kepadanya ke majelis hakim.

"Ini bukti nota tagihannya,” kata Salim sembari menunjukkan surat yang dimaksud kepada majelis hakim.

Dalam amplop surat tersebut, lanjut Salim, terdapat tulisan tangan terdakwa Leny. Tulisan isi suratnya adalah Nota Tagihan, berikut stempel pengiriman Express dari Kantor Pos. “Bisa dicek di Kantor Pos. Bila perlu, silakan di tes di lab (laboratorium, red), bahwa ini semua adalah benar tulisan tangan terdakwa Leny,” ungkap saksi korban, Salim.

Selanjutnya, diakhir sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya itu, JPU Darwis meminta, majelis hakim agar waktu persidangan dalam perkara ini dipercepat. Atas permintaan JPU tersebut, Ketua Majelis (KM) Anne Rosiana dan Hakim Anggota sepakat untuk mempercepat jalannya sidang terkait perkara tersebut pada, Senin (2/4/2018) pekan depan.

“Sidang ditunda hingga Senin depan, dan terdakwa tetap ditahan,” kata Anne Rosiana sambil mengetok palu sidang, yang sekaligus mengakhiri sesi persidangan hari ini. (sa/ms/rah)

Rate this item
(0 votes)
Read 52 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS