Breaking News
Time: 11:01

Satu Penganiaya di Jimmy's Club JW Marriott Disebut Anggota HIPMI Jatim

Saturday, 21 April 2018 22:08
Didampingi pengacara Peter Sosilo (berkacamata), dua korban penganiayaan, Handy dan Jimmy menunjukkan bukti laporan polisi, Kamis (19/4/2018) Didampingi pengacara Peter Sosilo (berkacamata), dua korban penganiayaan, Handy dan Jimmy menunjukkan bukti laporan polisi, Kamis (19/4/2018)

Pengacara: 5 Tersangka Ditetapkan

Surabaya, Expostnews.com - Seorang dari 5 pelaku dugaan penganiayaan terhadap dua korban di Jimmy’s Club & Lounge Surabaya, Januari 2018 lalu, belakangan diketahui merupakan tokoh pengusaha muda di Jawa Timur. GBK, demikian inisial pelaku tersebut, terbukti dipersangkakan telah menganiaya korban hingga memar dan babak belur.

Bahkan, pengacara korban, Peter Sosilo dari Garuda Muda Law Firm menyebut, penganiayaan yang dilakukan 5 tersangka, termasuk GBK sudah tergolong sadis. Akibat perlakuan di luar kemanusiaan dan kewajaran itu, lima tersangka yang terdiri, dua perempuan, serta 3 laki-laki dijerat Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan.

“Tersangka wanita yang berinisial DMAD dan JBAG ini adalah bersaudara. Sedangkan, 3 pelaku lainnya adalah laki-laki dengan inisial GBK, MR, dan MB,” ungkap Peter.

Menurutnya, sosok GBK, selain pengusaha muda, juga pernah menjabat periodesasi kepemimpinan di Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Jatim sebagai Ketua Umum. GBK, yang jabatannya digantikan Mufti Aimah Nurul Anam sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Jatim periode 2018-2021 itu, lanjut Peter, sungguh tidak bisa ditoleransi atas perbuatan keji yang dilakukan bersama 4 tersangka lainnya terhadap dua korban, Handy dan Jimmy pada, 21 Januari 2018 lalu.

“Ini adalah kasus penganiayaan yang sangat sadis. Tidak peduli siapapun yang melakukan harus dihukum sesuai prosedur,” sambung Tony saat memberikan keterangan pers, Kamis (19/4/2018) petang.

Terkait Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP), diakui sudah diterima dari kepolisian, dalam hal ini Polrestabes Surabaya. Hanya saja, tambah Peter, belum ada tindakan konkret dari penyidik untuk melakukan penahanan terhadap 5 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam penganiayaan tersebut.

“Bukti CCTV sudah ada, visum dari dokter pun juga ada di BAP, tapi kenapa kelimanya tidak ditahan. Sampai saat ini, lima tersangka masih berada di luar. Ada apa ini? Sepertinya, ada ketidaksempurnaan dalam penyidikan,” ungkapnya.

Ia merasa, penyidik belum memanggil saksi lainnya untuk dimintai keterangan saat peristiwa di Jimmy’s Club & Lounge di area JW Marriott Hotel, Jalan Embong Malang Surabaya pada dini hari lalu. Untuk itu, ia bersama tim pengacara korban tetap mendesak, agar secepatnya Polrestabes Surabaya melanjutkan proses hukum dari kasus kliennya ini.

“Kenapa hanya 2 CCTV yang dijadikan barang bukti, padahal ada 5 CCTV lainnya yang bisa mengungkap awal mula kejadian. Kemudian, penyidik belum memanggil saksi dari pelayan cafe yang secara langsung mengetahui kejadian pemukulan,” cetusnya.

Sekadar mengingat, peristiwa penganiayaan ini terjadi di sekitar pukul 02.30 Wib, Minggu (21/1/2018) di Jimmy’s Club & Lounge yang berada di Hotel JW Marriott Surabaya. Kala itu, dua korban, masing-masing Jimmy (32) dan Handy (25) masuk ke Jimmy’s Club. Pada saat bersamaan, sudah terjadi keributan antar dua kelompok di dalam cafe basement tersebut. “Saya dan Handy pilih keluar, karena ada keributan,” kata Jimmy saat menunjukkan berkas laporan polisi terkait penganiayaannya.

Saat melangkah keluar lorong pintu club, Jimmy bertanya pada Handy, tentang adanya keributan tersebut. Sayangnya, ucapan Jimmy terdengar perempuan berinisial DMAD yang terlibat dalam keributan. “Gak nyangka, perempuan itu malah marah dan mengejar saya. Lalu, Handy berusaha menghalangi perempuan yang mengejar saya. Tapi, si perempuan yang tidak saya kenal itu malah ganti mencekal kerah baju saya dengan ungkapan makian," sambung Handy sembari menirukan ujaran bernada miring dan beraroma SARA dari perempuan tersebut.

Anehnya, tutur kedua korban, perempuan yang diketahui berinisial DMAD mengaku kepada teman-temannya, telah dipukul Handy, hingga terjadi pengeroyokan. Oleh lima tersangka, Handy dan Jimmy dipukul dan ditendang tanpa ampun hingga bersimbah darah, terutama di bagian muka dan punggung.

Berdasarkan hasil visum RS SILOAM, Handy mengalami luka di bagian pelipis mata kanan dan kiri, leher serta punggung. Sedangkan, Jimmy luka di bagian wajah dan punggungnya. Tanpa menunggu lama, pagi harinya, Minggu (21/1/2018), kedua korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Tegalsari. Namun, Polsek Tegalsari melimpahkan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya. Ternyata, sejak pelimpahan dari Polsek Tegalsari, proses hukum korban tidak ditangani sebagaimanamestinya.

“Saya sangat menyesalkan, ketidakseriusan pihak kepolisian atas kasus ini. Saya ini ibu dari dua korban, dan sudah sewajarnya saya menuntut agar Polisi segera menangani kasus anak saya agar tidak berlarut-larut,” desak Mimie Lie. (sa/ms/po)

Rate this item
(1 Vote)
Read 75 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS