Breaking News
Time: 11:01

Dipersangkakan Mark Up Rp 500 Juta, Ketua I Koperasi TKBM Perak Siapkan Praperadilan

Thursday, 26 April 2018 19:41
Ketua I Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak, Akhmad Kholiq Ketua I Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak, Akhmad Kholiq

Surabaya, Expostnews.com - Perkara dugaan mark up dana Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (KTKBM) Usaha Karya Tanjung Perak Surabaya senilai Rp 500 juta terus menggelinding. Bak ‘bola liar’, kasus yang mencuat tahun 2010 lalu itu, kembali menetapkan 3 orang sebagai tersangka baru, menyusul 2 orang sebelumnya yang telah dipenjarakan.

“Saya sudah menyiapkan pengacara untuk mengajukan praperadilan atas kasus yang disangkakan kepada saya,” tandas Ketua I Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak, Akhmad Kholiq, Kamis (26/4/2018).

Kholiq mengaku, upaya praperadilan tersebut merupakan langkah awal untuk meng-counter tuduhan miring yang membuahkan penetapan dirinya sebagai tersangka. Alasan didaftarkannya praperadilan itu, karena ia memiliki Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Nomor : SPP. Sidik/138/X/2016/Reskrim tertanggal 5 Oktober 2016 yang telah ditandatangani dengan keputusan tidak terdapat bukti.

“Apalagi, pelaporan kasusnya tidak memiliki kekuatan bukti atas perbuatan yang tidak pernah saya lakukan,” akunya dikonfirmasi.

Selain tidak cukup bukti, lanjut Kholiq, pelaporan perkara yang ditangani Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya itu, tidak diketahui status pelapor, dan lebih bermuatan politis. Menurutnya, persangkaan yang menjurus pencemaran nama baik itu sungguh tidak menyenangkan dan mengganggu kredibilitasnya sebagai Ketua I Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak.

“Pelapornya ini sebagai apa? Lalu, di tahun 2010 itu, saya menjadi apa? Waktu itu, saya masih Ketua III dan belum terlibat sebagai pemegang policy dalam setiap pengambilan keputusan,” ingatnya.

Apakah akan melaporkan balik? Dengan diplomatis, Kholiq mengatakan, tidak akan melakukan hal tersebut selama opsi keputusan praperadilan berjalan sesuai mekanismenya. Namun, tidak menutup kemungkinan upaya lapor balik tetap ditindaklanjuti dengan indikasi pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.

“Untuk sementara, saya fokus praperadilan. Selanjutnya, saya koordinasi dulu dengan pengacara. Setelah itu, baru mengambil langkah, apakah lapor balik atau tidak. Tunggu saja,” tuturnya.

Seperti diberitakan, kasus penggelapan dana Koperasi TKBM dari pengurusan sertifikat rumah anggota di Perumahan Usaha Karya (UKA) Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, Kota Surabaya menggelembung hingga Rp 500 juta. Sumber di lapangan menyebut, tiga orang yang dibidik dan ditetapkan sebagai tersangka itu, masing-masing berinisial AK, IS dan ME.

Sampai berita ini ditulis, AK masih menduduki posisi Ketua I Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak. Sedangkan, IS menjabat Sekretaris, dan ME sebagai Bendahara Koperasi TKBM Usaha Karya Tanjung Perak. Kini, berkas dari pelaporan dugaan mark up yang mengindikasikan 3 tersangka itu telah dilimpahkan penyidik Tindak Pidana Umum (Tipidum) Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak, Rabu (18/4/2018). Pelimpahan berkas yang diyakini sudah P21 alias sempurna itu, diharapkan tidak dikembalikan Kejari Tanjung Perak ke penyidik Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Sebelumnya, kasus yang menggelinding sejak 2010 lalu itu diawali dari laporan H. Kambali ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dari proses pelaporan hingga persidangan, dua orang dijebloskan ke penjara dengan vonis masing-masing 1,5 tahun kurungan. Dua terpenjara tersebut adalah Yanuar, yang kala itu menjabat Wakil Ketua Koperasi TKBM, serta eks Ketua Koperasi TKBM, Buchori yang disebut-sebut turut serta menikmati uang sebesar Rp 500 juta dari dugaan bengkaknya dana koperasi tersebut. (sa/ms/smb/pkr)

Rate this item
(3 votes)
Read 235 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS