Breaking News
Time: 11:01

Ditpolair Polda Jatim Bekuk 23 Penyelundup 31 Ribu Benur Bernilai Rp 6,3 Miliar

Monday, 07 May 2018 23:37

Surabaya, Expostnews.com – Puluhan ribu benur, alias benih udang yang berhasil diselamatkan dari tangan pelaku dan perusak kelestarian biota laut sedianya diselundupkan ke luar negeri. Dari 31 ribu ekor benur yang telah diamankan Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Jatim dari 23 penyelundupan itu nilai jualnya ditaksir bisa mencapai angka fantastis, sebesar Rp 6,3 miliar.

“Cara menangkap benurnya sudah ilegal, kemudian para pelaku ini juga berencana menyelundupkan benih udang itu ke luar negeri,” ungkap Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera saat merilis dua kasus pencurian benur dan bom ikan di Mako Ditpolair Polda Jatim, Senin (7/5/2018).‎

Benur-benur yang mampu bertahan hidup meski disimpan di kulkas tersebut, lanjut Frans, memiliki pasar utama di Singapura dan Vietnam. Akibat ulahnya, para tersangka dijerat pasal 92 juncto pasal 100 Undang-Undang 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, juncto pasal 55 ayat 1 KUHP. “Ancamannya bisa delapan tahun penjara dan denda Rp 1,05 miliar,” kata Frans.‎

Sebelumnya, Polisi mengamankan 4 orang, masing-masing berinisial FS, S, FF, dan M. Keempatnya memiliki peran sebagai pengepul benur. “Sekarang, kasusnya masih kami kembangkan,” tambah Dirpolair Polda Jatim Kombes Pol Agusli Rasyid.‎

Diungkapkan, para pelaku menangkap benur di perairan Jawa bagian Selatan yang membentang mulai Banyuwangi, Jember hingga Pacitan. Setelah ditangkap, benur-benur ilegal tersebut dibawa ke Surabaya dan ditampung pengepul.

“Setelah itu benur dipindahkan ke dalam botol, dan dimasukkan ke dalam koper untuk dipaketkan lewat jalur udara. Botol-botol benur itu ditempatkan di bawah, dan ditutup pakaian,” sambung Kasubdit Gakkum Dirpolair Polda Jatim AKBP Darman.

Menurutnya, selama dua minggu, polisi berusaha membongkar modus para pelaku tersebut. Hasilnya, fakta menunjukkan benur-benur ilegal tersebut dijual ke luar negeri lewat udara dengan menggunakan pesawat.

“Mulai Mei sampai dengan Juni memang masa panen benur di lautan. Para pengepul ini membayar para nelayan untuk mencari benur. Cara menangkapnya juga masih tradisional, dengan jaring yang dipasangi lampu. Selanjutnya, benur akan akan berdatangan dengan sendirinya kalau ada cahaya,” papar Darman.

Selanjutnya, polisi dengan dua melati di pundak itu mengatakan, benur-benur tersebut dibudidayakan kembali setibanya di Singapura dan Vietnam. Ketika usianya sudah menginjak dewasa, baru bisa dikonsumsi. “Di sana (Singapura dan Vietnam, red), kan nggak ada benur. Makanya, mereka mencuri dari laut kita yang kaya. Agar cepat dikonsumsi, mereka punya teknologi untuk mempercepat pertumbuhan benur,” paparnya. (za/sa/ms)

Rate this item
(0 votes)
Read 26 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS