Breaking News
Time: 2:43

Pekerja Indonesia Beri Kontribusi di Proyek Akademi Kepolisian Terbesar Afrika

Monday, 28 March 2016 09:11
Para pekerja Indonesia sedang berfoto bersama dengan Dubes Indonesia untuk Aljazair Safirah Machrusah (tengah berjilbab putih) Para pekerja Indonesia sedang berfoto bersama dengan Dubes Indonesia untuk Aljazair Safirah Machrusah (tengah berjilbab putih)

Aljazair, Expostnews.com – Akademi Kepolisian terbesar di Afrika, kini tengah dikebut pembangunannya. Menariknya, Indonesia ikut berkontribusi besar dalam pembangunan proyek besar diatas lahan 40 hektar tersebut.

“Selain tenaga kerja asing lainnya, di proyek itu ada 66 pekerja asal Indonesia yang ikut memberikan kontribusi besar,” kata Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Aljazair Safirah Machrusah, Senin (28/3/2016).

Menurutnya, para pekerja Indonesia yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut memiliki keahlian tukang dan buruh bangunan. Tenaga Indonesia yang baru tiba di Aljazair, 7 Maret 2016 itu dikontrak dalam masa kerja 2 tahun untuk menuntaskan proyek yang dibangun kontraktor asal Aljazair, Le Groupe Bourouag Construction (GBC).

“Para pekerja ini dipekerjakan untuk membangun Akademi Kepolisian. Kami juga berharap, kontraktor menambah rekrutmen tenaga dari Indonesia, jika melihat kinerja serta perilaku pekerja yang saat ini baik,” ungkapnya.

Safira berharap, para pekerja Indonesia tetap bisa bekerja dengan baik dan sesuai dengan keahlian serta aturan dalam proyek. Ia juga berpesan, agar para pekerja cepat beradaptasi dan memahami budaya setempat. “Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan kerugian bagi seluruh pekerja. Bagaimanapun juga, para pekerja membawa nama baik bangsa,” pintanya.

Meski demikian, Safira meyakinkan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Alger akan terus membangun komunikasi dan kerjasama dengan pihak GBC. Hal ini dilakukan untuk memastikan, agar hak-hak pekerja Indonesia terpenuhi dengan wajar sesuai kontrak kerja. “Jangan segan-segan melaporkan, jika merasa pihak kontraktor melakukan pelanggaran kontrak kerja,” harapnya saat meninjau lokasi proyek dan kamp pekerja migran asal indonesia di kota Gedyl, provinsi Oran, Aljazair, Jum'at (25/03/2016) lalu.

Sementara, Wahono, pekerja asal Jawa Tengah mengaku, hampir tidak ada kendala dalam bekerja membangun proyek Akademi Kepolisian terbesar di Afrika tersebut. Katanya, kontraktor GBC memperlakukan pekerja Indonesia dengan baik dan ditempatkan di kamp pekerja yang layak dengan akses kebutuhan sehari-hari yang memadai.

“Seperti makanan, air bersih dan kamar mandi. Ya, mudah-mudahan perlakuan ini akan terus dipertahankan. Cuma disini memang agak jauh kalau ingin belanja kebutuhan sehari-hari," tuturnya.

Menanggapi hal ini, Dubes Safira mengaku, sudah meminta pihak GBC menunjuk beberapa perwakilan pekerja untuk diantar ke kota sekali seminggu. Perwakilan pekerja ini bertujuan hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari pekerja. "Kami sudah koordinasi agar GBC mengantar perwakilan pekerja belanja kebutuhan sehari-harinya," tandas Safira. (mad/esp10)

Rate this item
(1 Vote)
Read 220 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS