Breaking News
Time: 5:05

Penyerangan Abu Sayyaf, Pangarmatim: Tunggu Perintah Masuk Filipina

Sunday, 10 April 2016 23:30
Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim), Laksamana Muda TNI Darwanto Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim), Laksamana Muda TNI Darwanto

Surabaya, Expostnews.com – Pasukan TNI, khususnya Angkatan Laut (AL) Indonesia sudah berada di perbatasan dekat Filipina. Keberadaan pasukan tersebut disiagakan dalam penyerangan kelompok pemberontak pimpinan Abu Sayyaf, penyandera 10 WNI.

“Kami tinggal menunggu perintah masuk Filipina,” aku Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim), Laksamana Muda TNI Darwanto, Minggu (10/4/2016).

Dijelaskan, untuk sementara, pasukan TNI AL yang telah berada di perbatasan Filipina itu telah terlatih dan terus melakukan latihan perang. Latihan di lokasi paling dekat dengan perbatasan Filipina tersebu bertujuan membantu pembebasan 10 WNI yang disandera separatis pimpinan Abu Sayyaf tersebut.

“Pasukan kami yang berlatih perang di dekat perbatasan Filipina, adalah pasukan terbaik. Hanya saja, sampai saat ini, kami belum diperbolehkan masuk oleh pemerintah Filipina,” ungkap Darwanto.

Dalam hal ini, kata Pangarmatim, pemerintah RI sangat menghormati kedaulatan Filipina yang memiliki aturan untuk masuk negaranya. Menurut Darwanto, selama belum mendapat izin masuk, pasukannya akan terus berlatih, sekaligus melakukan pengenalan lokasi di perbatasan.

“Kami sangat yakin, militer Filipina sudah terlatih dalam menangani pemberontak dan kelompok garis keras. Fungsi kami hanya membantu militer Filipina saja. Begitu diizinkan masuk, kami akan berupaya mengejar kelompok penyandera yang informasinya terus berpindah-pindah tempat itu,” paparnya disela memberikan penjelasan kepada wartawan terkait gugatan M. Sholeh yang menyoal tidak adanya kantor polisi di area Bandara Internasional Juanda kemarin.

Seperti diketahui, 10 WNI yang disandera merupakan awak kapal Brahma 12. Mereka disandera saat menarik batubara menuju Filipina pada, 26 Maret lalu. Informasi terakhir yang diperoleh, separatis penyandera WNI itu meminta uang tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar. (han/esp8)

Rate this item
(1 Vote)
Read 169 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS