Breaking News
Time: 11:03

Tembakau Digilas, 'Mesin' Konversi Ratifikasi FCTC Ancaman Petani

Monday, 14 May 2018 01:29

Pamekasan, Expostnews.com - Cepat atau lambat, komoditas pertanian tembakau yang diusahakan petani, satu di antaranya di Indonesia, kian terancam keberadaannya. Potensi ancaman melalui ‘mesin penggilas’ konversi yang cenderung mematikan tersebut sudah terbentuk dalam ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Fenomena tersebut sungguh dikhawatirkan Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno. Saat di Pamekasan, Sabtu (12/5/2018), Soeseno mengaku, jika ratifikasi FCTC jadi ditandatangani, bukan mustahil Indonesia bisa berbalik menjadi importir tembakau. “Yang selama ini, Indonesia, termasuk negara pengekspor tembakau terbesar,” kata Soeseno.

Menurutnya, sangat beralasan, dampak ratifikasi FCTC terhadap keberadaan tembakau sebagai komoditi usaha petani itu sangat merugikan. Apalagi, ancaman Cina yang kini mengembangkan tembakau jenis Prancak asal Pamekasan, Madura.

“Bisa-bisa Prancak asal Pamekasan yang dikembangkan Cina itu masuk kembali ke Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan jika FCTC ditandatangani,” jelas Soeseno didampingi Samokrah, Ketua APTI Kabupaten Pamekasan.

Satu lagi dicontohkan Soeseno adalah Malaysia. Efek ratifikasi FCTC dengan konversi tanaman tembakau dengan lainnya itu memang sungguh memancing minat petani beralih menanam komoditas pertanian selain tembakau. “Di Malaysia misalnya. Sekarang telah mengonversi tanaman tembakau ke tanaman penghasil tikar. Ini kan bisa mengancam,” tukasnya.

Hal serupa juga disampaikan Samokrah. Selain berpengaruh, ratifikasi FCTC bisa mengganggu budaya masyarakat Madura, utamanya Pamekasan yang tidak pernah lepas dari menanam tembakau. “Tembakau sudah menjadi budaya di masyarakat kami,” aku Samokrah.

Namun demikian, Samokrah tidak mengelak, jika ratifikasi FCTC ditandatangani bisa mengalihkan tanaman tembakau ke produk pertanian lainnya. Hanya saja, ia meyakini, potensi konversi tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk memengaruhi budaya petani tembakau Pamekasan. “Memang ada yang menanam semangka, atau tanaman lainnya. Tapi kesadaran masyarakat untuk menanam tembakau masih tinggi,” jelasnya.

Dikatakan, budaya tersebut sangat sebanding dengan luas lahan di Pamekasan yang ditanami tembakau. Data yang dilansir menyebut, Pamekasan memiliki lahan tembakau seluas 30.794 hektar, dengan rata-rata produksi 0,6 – 0,7 ton per hektarnya.

“Dari total produksi tembakau di Madura, Pamekasan menyumbang sekitar 60 persen untuk Jatim. Begitu juga, tembakau seluruh Madura memberi kontribusi 60 persen dari produksi nasional,” ulas Samokrah usai meninjau penanaman bibit tembakau di persawahan Pamekasan.

Bahkan, lanjut Samokrah, kualitas dan kuantitas produksi tembakau di Pamekasan mampu menggoda industri rokok besar, seperti Djarum, Gudang Garam, Sampoerna, Bentoel, Sukun, Wismilak dan industri rokok lainnya. Masing-masing perusahaan saling berlomba untuk mendapatkan tembakau Pamekasan.

“Lebih meyakinkan lagi, Pamekasan tidak pernah over produksi, dan selalu diminati industri rokok mulai dari kecil hingga perusahaan besar,” akunya.

Mengomentari segala kemungkinan akibat ratifikasi FCTC terhadap tembakau, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Perindag) Kabupaten Pamekasan, Bambang Edi menganggap, hal tersebut tidak perlu dirisaukan. Mengapa demikian? Dikatakan, sebenarnya ancaman konversi tembakau ke tanaman lain bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

“Di Madura, khususnya di Pamekasan, tembakau bukan sekadar budidaya, melainkan sudah menjadi budaya,” katanya.

Bahkan, data yang dimilikinya menyebut, tembakau telah menyumbang 7,6% atau sekitar Rp 500 miliar terhadap PDRB Pamekasan. Selain itu, tembakau telah menyerap sekitar 80% tenaga kerja di sektor pertanian.

“Karena, tembakau bagi petani di Pamekasan bagaikan bercocok tanam emas hijau,” papar pejabat kelahiran Jogjakarta ini tanpa basa-basi.

Bertahannya petani tembakau Pamekasan dengan tetap meanaman dikarenakan, godaan break event point (BEP) tembakau. Terbilang, dalam tiga tahun, BEP tembakau terus meningkat drastis.

Tercatat, BEP tembakau tahun 2016 menuai besaran Rp 32.861/kg. Setahun kemudian, BEP tembakau mencapai kenaikan sebesar Rp36.978/kg dan di tahun 2018, BEP telah berada di posisi Rp 39.931/ kg.

“Dari data-data tadi, akan terlihat, bahwa kontribusi tembakau tidak kecil. Maka dari itu, saya kurang setuju apabila tembakau dikambinghitamkan melalui skem ratifikasi FCTC,” kritiknya. (sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 31 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS