Breaking News
Time: 6:35

PHE WMO Manfaatkan Biopori Benahi Lingkungan dan Air Bersih

Friday, 01 May 2015 23:38
Logo PHE WMO Logo PHE WMO

Surabaya, Exspost.com – Besarnya menfaat konservasi sumber daya air melalui  metode Biopori benar-benar direalisasikan. Metode menjaga resapan air tersebut, kini dikembangkan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) dalam upayanya ikut menjaga kelestarian lingkungan di pedesaan.

“Ini menyusul suksesnya program air bersih yang dilakukan PHE WMO di Desa Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan Madura melalui program air bersih beberapa waktu lalu,” tutur Ulika Triyoga, East Area HR Ops & Comdev Team Leader Lead PT PHE WMO, Jumat (1/5/2014).

Saat ditemui di Surabaya, Ulika mengatakan, lubang resapan Biopori merupakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Biopori ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya resapan air dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. “Dengan begitu, air tanah akan tetap terjaga baik. Metode Biopori ini, juga bisa mengatasi banjir,” kata Ulika.

Pencanangan program konservasi sumber daya air melalui Biopori ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pengajian akbar untuk memperingati 10 tahun terbentuknya Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPAM) di Desa Bandangdajah. “Kami juga melibatkan semua unsur untuk program Biopori ini,” katanya.

Baca: Biopori, Teknologi Sederhana Lenyapkan Banjir
 
Selain melibatkan HIPAM dan anggota masyarakat pemakai air lainya, dalam program Biopori tersebut, PHE WMO bekerja sama dengan Pusat Studi Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Univesitas Trunojoyo Madura (PS2EKP – FP UTM). Dalam kegiatan ini, pihaknya juga menanam 160 bibit buah-buahan. “Seperti jambu citra, jambu degus, durian, manggis dan mangga, serta tanaman keluarga seperti cabai, rosella, terong, selada. Termasuk bibit pohon mahoni juga telah ditanam,” urainya.
 
Guna memastikan semua berjalan sesuai rencana, PHE WMO bersama Tim PS2EKP – FP UTM melakukan pendampingan dan pemeliharaan Biopori bagi warga Desa Bandangdaja. Pembuat lubang Biopori menggunakan 3 bor mesin dan 3 bor manual. “Alat itu selanjutnya diserahkan ke Kelompok HIPAM, agar kelompok dan warga dapat membuat lubang Biopori secara mandiri,” paparnya.

Dijelaskan, program HIPAM di Desa Bandangdajah yang telah dikelola secara mandiri oleh warga ini, bisa melayani kebutuhan 400 kepala keluarga (KK). Program tersebut, kini sudah menyebar ke dua desa lainnya, masing-masing Desa Tanjungbumi dan Desa Telaga Biru di Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan.
 
“Biopori dapat meningkatkan  peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, serta dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air, seperti timbulnya penyakit, semacam demam berdarah. Tentu saja, program ini sangat cocok untuk masyarakat,” yakinnya.
 
Hadir pada kegiatan ini Dandim 0829 Bangkalan Letkol (Inf) Sunardi Istanto, S.H, Rektor Universitas Trunojoyo Madura Dr. Moh. Syarif, dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Dr. Ir. Slamet Subari, M.Si. “Perlakuannya memang tidak bisa parsial dan insidental, melainkan harus secara komprehensif dan berkesinambungan,” ingat Ulika. (red/esp1)


Editor : Syarif Ab

Rate this item
(0 votes)
Read 206 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS