Breaking News
Time: 8:29

BI Jatim Musnahkan 82.897 Lembar Upal, Temuan 2017 Beranjak Turun

Friday, 29 December 2017 21:58
Kegiatan pemusnahan uang rupiah palsu dengan alat penghancur kertas di BI Jatim, Jumat (29/12/2017) Kegiatan pemusnahan uang rupiah palsu dengan alat penghancur kertas di BI Jatim, Jumat (29/12/2017)

Surabaya, Expostnews.com – Sepanjang 2017, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (Bank Indonesia Jawa Timur/BI Jatim) menemukan, sedikitnya 27.652 lembar uang rupiah palsu (upal). Lembaran upal yang terhitung sampai November 2017 tersebut terbilang menurun 11,9 persen.
 
“Temuan itu, belum terhitung dengan uang palsu sebagai barang temuan bukan barang bukti selama periodesasi lima tahun, mulai tahun 2011. Tapi, untuk temuan di tahun 2017, memang terjadi penurunan dibanding temuan BI Jatim tahun 2016 lalu,” tutur Kepala Grup Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yudi Harymukti di Kantor BI Jatim, Jl Pahlawan Surabaya, Jumat (29/12/2017).

Menurutnya, upal temuan hasil klarifikasi BI Jatim mulai tahun 2011-2016 yang akhirnya dimusnahkan tersebut berjumlah 82.897 lembar. Berdasarkan jenis pecahannya, upal yang ditemukan hasil klarifikasi Bank Indonesia itu masih didominasi pecahan Rp 100.000, sebanyak 63.870 lembar atau sekitar 77,0%.

“Sedangkan, pecahan Rp 50.000 ada 13.420 lembar atau 16,2 persen, dan selebihnya pecahan Rp 20.000 ke bawah dengan jumlah temuan 5.607 lembar atau sebesar 6,8 persen,” urai Yudi didampingi pejabat dari Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Surabaya serta dihadiri pejabat Polda Jawa Timur.

Pemusnahan barang temuan uang rupiah palsu yang bukan barang bukti ini, kata Yudi, sudah mendapatkan Penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri Surabaya. Berdasar ketetapan tersebut, upal temuan BI Jatim itu bisa dimusnahkan secara terbuka dengan menggunakan mesin penghancur kertas. “Temuan ini (uang palsu, red) menjadi fokus Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur untuk terus memberantas peredarannya,” tandas Yudi yang diamini pejabat yang hadir menyaksikan pemusnahan.

Namun, ingat Yudi, BI Jatim tidak akan bisa menjalankan perannya tanpa melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya, khususnya dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal). Koordinasi intens untuk penanggulangan peredaran upal di masyarakat itu dilakukan bersama Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan Negeri dan Bank Indonesia.

“Koordinasi dan pengawasan bersama terus dilakukan, karena praktik pemalsuan uang rupiah bukan hanya merugikan masyarakat, melainkan juga merendahkan kehormatan Rupiah sebagai salah satu simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ini (pemusnahan, red) merupakan sikap nyata dari upaya Bank Indonesia dan Kepolisian untuk mencegah dan memerangi praktik pemalsuan uang rupiah,” ulasnya.  

Bagaimana pola sinergi BI Jatim dengan aparat penegak hukum dalam upaya memberantas pemalsuan uang rupiah? Yudi mengungkapkan, kerja sama yang dijalin, khususnya dengan
Bareskrim Polda Jatim tersebut dalam bentuk pemberian keterangan ahli Uang Rupiah dalam proses penyelidikan tindak pidana pemalsuan uang rupiah. “Sampai nanti ke tahap persidangan,” kata Yudi.

Selain itu, BI Jatim juga menyediakan laboratorium Counterfeit Analysis Centre (BI-CAC) untuk melakukan pemeriksaan laboratoris terhadap barang bukti uang rupiah yang diduga palsu. Berbagai upaya lainnya juga terus dilakukan BI Jatim dengan mengedukasi masyarakat terkait ciri ciri keaslian uang rupiah (CIKUR) melalui beragam kegiatan sosialisasi dan imbauan melalui iklan layanan masyarakat.

“Harapan kami, masyarakat semakin memahami untuk membedakan uang rupiah palsu dengan uang rupiah asli. Caranya, melalui 3D, Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Dengan begitu, peredaran uang rupiah palsu dapat diminimalisir,” jelasnya.

Disisi lain, BI Jatim tetap mengapresiasi kepedulian masyarakat dalam pengungkapan beberapa kasus uang palsu di daerah. Diharapkan, laporan dan peran aktif masyarakat dalam pemberantasan pemalsuan uang rupiah terus meningkat. “Laporkan saja kepada pihak yang berwenang, antara lain Bank Indonesia dan Kepolisian, apabila uang rupiah yang diterima dalam transaksi diragukan keasliannya. Karena masyarakat menjadi filter utama dan pertama dalam mengantisipasi peredaran uang palsu,” harapnya. (ms/sa/hum)

Rate this item
(1 Vote)
Read 76 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS