Breaking News
Time: 7:23

Marak, Vapor Diawasi BNNK Surabaya

Monday, 09 April 2018 23:51
Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti

Surabaya, Expostnews.com – Selama setahun berjalan di tahun 2018 ini, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya mulai fokus mengawasi peredaran vapor. Pasalnya, keprihatinan terhadap penggunaan rokok liquid dengan aroma khas itu telah membuat kecanduan para penikmatnya.

“Saat ini, kami juga tengah fokus mengawasi peredaran vapor yang bisa membuat para pelajar kecanduan,” tukas Kepala BNNK Surabaya, AKBP Suparti, Senin (9/4/2018).

Atas temuan yang mengungkap kecanduan para pelajar terhadap rokok elektrik itu, Suparti akan meningkatkan sosialisasi secara intens di sejumlah sekolah di Surabaya. Sosialisasi tersebut, juga diperuntukan bagi pelajar yang kedapatan marak menggunakan pil koplo.

“Kami sangat prihatin dan khawatir atas temuan itu, selain juga peredaran pil koplo dan narkoba juga tetap kami pantau dan ditindak,” ingat Suparti di sela ungkap data edar dan penggunaan pil koplo di kalangan pelajar yang meningkat tajam dari tahun 2016 hingga Oktober 2017.

Lebih jauh dikatakan, sosialisasi terhadap pelajar di sejumlah sekolah di Surabaya itu, merupakan upaya BNNK Surabaya menekan angka pelajar yang terjebak dalam pusaran pil koplo maupun narkoba. Dari data BNNK Surabaya tertera, tahun 2016 ada 84 pelajar yang direhab karena kecanduan pil koplo. “Angka itu terus meningkat hingga memasuki Oktober 2017. “Ada 101 pelajar yang tercatat per Oktober 2017,“ urai Suparti.

Bilangan yang meningkat per Oktober 2017 itu menyebut, ada 4 pelajar di tingkat SD, 63 pelajar SMP dan 34 pelajar dari tingkatan SMA. Rata-rata, para pelajar yang kecanduan itu mengonsumsi pil koplo berbagai jenis dan narkoba jenis sabu-sabu. “Kami akan bongkar jaringannya. Karena, sampai saat ini, belum terbongkar jaringan pengedar yang mendistribusikan pil koplo ke Jawa Timur, khususnya Surabaya,” aku Suparti.

Berdasarkan data tersebut, BNNK Surabaya menganalisis keterkaitan para pelajar dengan narkoba. Analisis tersebut mengungkap, kebanyakan pelajar yang terjerumus narkoba adalah pengguna pemula. “Awalnya ingin tahu. Karena ada yang mengenalkan, lalu mereka coba-coba pil koplo dan narkoba,” tutur mantan Kassubag Humas Polrestabes Surabaya ini.

Selain coba-coba, lanjut Suparti, penyebab lainnya adalah, karena buruknya lingkungan pergaulan di luar sekolah. Alhasil, para pelajar itu mengonsumsi pil koplo maupun narkoba di dekat tempat tinggalnya.

"Memakainya di kampung, lalu ketahuan saat kami menggelar tes urine di sekolah. Mereka juga punya komunitas di luar sekolah,” tambahnya.

Berkaca pada data tersebut, BNNK Surabaya berharap, semua pihak turut bekerja sama, termasuk para orang tua dan masyarakat di sekitar lingkungan rumah. Sebab para orang tua para pelajar yang tersandung pil koplo dan narkoba ini terlambat mendeteksi pergaulan anaknya. “Ini karena kurangnya perhatian. Apalagi, mereka rata-rata berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Jadi, solusinya adalah perhatian,” jelasnya.

Menyambung tes urine, BNNK Surabaya selalu berkordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Setiap seminggu sekali, rutin menyambangi sekolah-sekolah secara acak. “Sekolah-sekolah di kawasan Surabaya Utara menjadi penyumbang terbanyak, pelajar yang terjerat pil koplo maupun narkoba,” paparnya. (zai/sa/ms)

Rate this item
(1 Vote)
Read 46 times



 

 

                          

      FACEBOOK       TWITTER         GPLUS