8 Kontainer Sampah Kertas B3 asal Australia Ditahan Bea Cukai Tanjung Perak

0
5

Surabaya, Expostnews.com – Kali kedua usai Amerika Serikat (AS) pada Juni 2019, kini importasi sampah kertas (waste paper) asal Australia ditahan Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya (BC Perak). Penindakan ini dilakukan setelah waste paper yang didatangkan dari Negeri Kangguru tersebut terkontaminasi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Barang impor berupa sampah kertas atau waste paper yang berisi 282 bundel seberat 210 ton dalam delapan kontainer itu diimpor PT MDI dari Australia,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak Basuki Suryanto dikonfirmasi, Selasa (9/7/2019).

Dikatakan, importasi pencemar lingkungan yang memiliki tingkat bahaya tinggi itu tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pada 12 Juni 2019, setelah dimuat dari pelabuhan asal, Pelabuhan Brisbane oleh Shipper Oceanic Multitrading. Menurut Basuki, PT MDI telah mengajukan pemberhentian impor barang (PIB) ke Bea Cukai pada, 17 Juni 2019 dengan dilengkapi izin dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupa surat persetujuan impor dan laporan surveyor. “Upaya penindakan kedua ini, untuk melindungi masyarakat dan lingkungan Indonesia, khususnya Jawa Timur, dari sampah-sampah B3 bekas impor,” ingatnya.

Di hadapan wartawan, Basuki mengatakan, penindakan terhadap importasi waste paper itu tak lepas dari jalannya fungsi pengawasan melalui nota hasil intelijen (NHI) dari Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Timur I. Tindak lanjutnya, Bea Cukai Tanjung Perak bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemeriksaan fisik 8 kontainer yang terkontaminasi berbagai macam sampah rumah tangga.

“Ada kaleng bekas, popok bayi bekas, kemasan oli bekas, sampah elektronik, botol plastik, dan alas kaki bekas,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, lanjut Basuki, barang impor tersebut terkontaminasi sampah spesifik atau limbah B3 dan sampah rumah tangga. KLHK merekomendasikan, barang impor waste paper itu direekspor ke negara asal. “PT MDI yang akan me-reeskpor ke Australia setelah proses administrasi pengajuannya selesai,” tutur Basuki.

Dijelaskan, Bea Cukai akan memberi sanksi dengan mewajibkan pihak pengimpor mengirim kembali (reekspor) ke negara asalnya dalam 90 hari setelah masuk ke Indonesia. Namun, Basuki mengingatkan, keputusan untuk reekspor berada ditangan KLHK. “Selain dari Australia, saat ini kami masih mengidentifikasi kontainer dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Jerman,” jelas Basuki.

Ia mengatakan, ada 38 kontainer dari Amerika yang sedang diproses, termasuk 20 kontainer barang impor Jerman. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor sampah maupun limbah dari berbagai negara.

“Setiap bulannya, bisa ada 10 ribu sampai 12 ribu kontainer yang masuk di seluruh Indonesia. Bulan Juni tinggal 600 sampai 700 kontainer, waste paper. Ada 18 perusahaan pengekspor yang dari Surabaya,” papar Basuki.

Ia mengatakan, ekspor sampah apalagi sampai terpapat limbah B3 merupakan tindakan melawan hukum yang melanggar UU nomor 23 tahun 2009 tentang pengelolan Lingkungan Hidup. Pasal 69 ayat 1 huruf b dan Pasal 105 UU nomor 32 Tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup. “Bisa diancam penjara paling tinggi 12 tahun, dengan denda maksimal Rp 12 miliar,” tukasnya. (sa/ms/pas/dtk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here