Anggaran Pencegahan Pneumonia di Indonesia Tak Sebanding Ancaman Kematian

0
32

Surabaya, Expostnews.com – Ancaman serangan Pneumonia di Jawa Timur perlu diwaspadai sedini mungkin. Alasannya, penyakit yang kerap hinggap di balita ini tergolong penyakit mematikan kedua setelah diare.

“Rentang usia balita yang paling banyak diserang Pneumonia adalah di bawah lima tahun,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jatim, dr Kohar Hari Santoso dalam Diskusi Media, Jurnalis Sahabat Anak di Hotel Kampi Surabaya, Rabu (28/8/2019).

Namun, kata Kohar, sebenarnya banyak faktor yang menjadi pemicu serangan Pneumonia terhadap balita. Selain lingkungan, faktor kesadaran masyarakat turut mempengaruhi timbulnya penyakit yang akrab disebut paru-paru basah tersebut. “Terutama, pemahaman pada upaya preventif yang harus ditingkatkan,” sambung Kohar.

Menukil data di Dinkes Jatim, Kohar mengatakan, sepanjang 2018, kasus Pneumonia untuk penderita di bawah usia lima tahun yang terjadi di Jatim mencapai 92.913 orang, dan penderita di atas usia lima tahun berjumlah 32.910 orang. Dari data tersebut ditemukan, penderita Pneumonia tertinggi ada di bulan Maret, dengan jumlah 9.116 orang. “Kemudian, disusul bulan Februari sebanyak 8.392 orang, dan bulan Januari ada 8.195 pasien,” rincinya.

Pada kesempatan yang sama, pakar Epidomologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Muhammad Attoillah Isfandiari, dr, M.Kes menyebut, untuk menekan angka serangan Pneumonia, perlu adanya upaya preventif secara masif. Melalui upaya preventif tersebut, akan berimbas pada pengeluaran biaya pengobatan yang jauh lebih murah. “Tentu saja, tetap membiasakan hidup sehat,” katanya.

Apabila, serangan Pneumonia itu terjadi, biaya pengobatan yang dikeluarkan seseorang bisa mencapai puluhan juta. Salah satu cara yang bisa dilakukan semua pihak adalah dengan imunisasi. “Polusi yang terjadi di sebuah daerah juga berpengaruh pada serangan Pneumonia,” sambungnya.

Dalam persoalan Penumonia ini, Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa, Tubagus Arie Rukmantara mengatakan, pemerintah harus hadir dengan mengalokasikan anggaran untuk pencegahan penyakit menular semacam Pneumonia. Hanya saja, saat ini alokasi anggaran untuk upaya preventif Pneumonia tersebut masih relatif kecil dan tidak sebandng dengan upaya pengobatannya.

“Baik itu dilakukan dengan membeli obat secara langsung, atau menggunakan asuransi swasta, maupun yang dijamin pemerintah melalui program BPJS. Kalau dibandingkan dengan ketika sudah sakit dan hatus diobati, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien akan jauh lebih besar. Maka dari itu tindakan pencegahan ini akan sangat tepat,” ulasnya.

Hal senada juga diungkapkan Dr. dr. Dominicus Husada SpA.K. Dalam ulasannya di Diskusi Media bertema ‘Menebar Aksi Melawan Pneumonia’ tersebut. Ia juga menyoroti masih minimnya dukungan pemerintah dalam upaya pencegahan penyakit menular ini. “Kalau dibanding dengan membayar BPJS, untuk mengobati yang sudah sakit,” ingat Domi, panggilan akrab anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur ini.

Dikatakan, pencegahan itu hasilnya memang tidak terlihat. Padahal untuk investasi di masa depan, nilai anak-anak yang kebal serangan penyakit menular ini, jauh lebih menguntungkan dibanding dengan anggaran yang dikeluarkan untuk BPJS. Namun demikian, pemerintah tengah berupaya menambah satu jenis imunisasi untuk penyakit menular di Indonesia tersebut.

“Kalau saat ini menang belum diputuskan, apakah imunisasi itu untuk diare atau Pneumonia. Karena, kedua penyakit penyebab kematian tertinggi anak di Indonesia ini masih alot dan tarik ulur,” tutupnya. (sa/ms/yoe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here