Apresiasi Grounded 11 Boeing 737 MAX 8 Indonesia, Bambang Haryo: Lanjut Penyelidikan

0
10

Boeing Rugi Rp71 Triliun

Jakarta, Expostnews.com – Pelarangan terbang (grounded) terhadap 11 pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai penerbangan Indonesia disambut baik Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono. Hanya saja, apresiasi Bambang Haryo tersebut tidak berhenti pada pelarangan terbang sampai batas waktu tidak ditentukan (temporary grounded) yang diberikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) saja, melainkan berlanjut pada proses penyelidikan.

“Tidak diperbolehkannya beroperasi sementara pasca kejadian pesawat Lion Air tahun lalu itu, sampai adanya penyelidikan,” tandas Bambang Haryo, Kamis (14/3/2019).

Namun sebaiknya, ingat Bambang Haryo, penyelidikan yang dilakukan tidak hanya melibatkan otoritas yang ada di Indonesia. Melainkan turut menyertakan produsen pesawat yang bermarkas di Renton, Washington Amerika Serikat tersebut. “Kalau perlu, si pembuat pesawat juga diikutkan (penyelidikan, red),” tukas politisi Partai Gerindra asal Surabaya ini.

Selain itu, Bambang Haryo juga meminta, keterlibatan Federal Aviation Administration (FAA) dalam proses penyelidikan insiden pesawat yang dibanderol per unitnya Rp 830 miliar tersebut. Menurutnya, FAA, selaku pemberi rekomendasi keamanan dan kelayakan terbang sebuah pesawat di Negeri Paman Sam itu, perlu disandingkan dengan keikutsertaan otoritas penerbangan Amerika Serikat.

“Bagaimanapun juga ikut bertanggung jawab dan menilai, bahwa pesawat-pesawat yang akan dijual ke luar negeri, dan dipakai rakyat di seluruh dunia harus dipastikan dalam keadaan aman,” ulas pengusaha kapal yang mencalonkan lagi untuk legislatif DPR RI di Daerah Pemilihan Jatim (Surabaya-Sidoarjo) tersebut.

Bambang menyarankan, lebih baik mencegah, karena beberapa negara di dunia juga sudah melarang maskapai di negaranya menerbangkan Boeing 737 MAX 8. Tujuannya, tidak lain adalah menyelamatkan nyawa publik, maupun pengguna jasa penerbangan pesawat yang berkapasitas 180 penumpang itu.

“Nyawa publik itu tidak bisa dibeli, sekalipun nyawa itu dihargai dua ribu triliun. Lebih baik tidak dapat uang daripada harus kehilangan nyawa atau mati. Karena, itu prinsip seseorang yang harus dihargai. Yang pasti, saya menyambut baik kebijakan pelarangan seperti ini (grounded, red),” tegas mantan Dirut PT Dharma Lautan Utama (DLU) ini.

Selama proses penyelidikan berlangsung, Bambang Haryo juga mengajak untuk tetap menunggu informasi publik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sebab, mekanisme informasi KNKT harus melalui Presiden atau langsung kepada public. “Saya rasa nggak ada masalah. Karena KNKT sangat berkompeten menyampaikan hal-hal semacam itu,” tuturnya.

Sementara, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana Banguningsih mengatakan, ada 11 pesawat Boeing 737 MAX 8 di Indonesia yang dilarang terbang dalam waktu yang tidak ditentukan hingga ada keputusan. Mengutip wawancara di sebuah media televisi nasional, Polan menyebut, pelarangan terbang ini sebagai bagian dari jaminan keselamatan penerbangan.

“Kami inspeksi dengan mengecek kelaikanudara pesawat melalui tindakan temporary grounded terhadap 10 pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dimiliki maskapai Lion Air dan satu unit milik Garuda Indonesia,” katanya.

Menurutnya, pelarangan tersebut juga berkaca pada peristiwa jatuhnya pesawat Lion JT 610 pada Oktober 2018 lalu dengan puncaknya, Minggu (10/3/2019) lalu saat Boeing 737 Max 8 yang dioperatori Ethiopian Airlines jatuh di Ethiopia dan menewaskan 157 penumpang.

Sekadar tahu, keputusan larangan terbang (grounded) sementara untuk semua pesawat Boeing 737 MAX berpotensi merugikan pabrikan Boeing hingga miliaran dolar AS. Apalagi setelah FAA merekomendasikan penghentian sementara operasi dari semua pesawat Boeing 737 MAX.

Dikutip dari berbagai sumber, sebuah perusahaan riset di Wall Street, Melius Research and Jefferies memperkirakan, biaya untuk grounded semua pesawat Boeing 737 MAX bisa menembus bilangan USD1 miliar – USD5 miliar atau setara Rp71 triliun (kurs: Rp14.200 per USD).

Perkiraan tersebut didasarkan pada penerbangan selama tiga bulan. Tercatat, Boeing dapat menanggung biaya dan membukukan rekor pendapatan berkisar USD101 miliar dan laba mencapai USD10.6 miliar pada tahun lalu. (sa/don/kmp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here