Cegah Jebakan Investasi Bodong dan Fintech Ilegal, OJK Ingatkan 2L Beserta 5 Prinsip Inklusi

0
21

Solo, Expostnews.com – Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan di Jawa Timur tergolong tinggi. Dalam rangka menjaga tingkat kepercayaan masyarakat ini, OJK Kantor Regional 4 (OJK KR4) Jawa Timur terus menjalankan fungsi perlindungan konsumen agar tidak terjerat investasi bodong dan Fintech ilegal.

Tercatat, ada 1.598 pengaduan nasabah, pemberian pelayanan SLIK kepada masyarakat sebanyak 5.132 pemohon dan peningkatan peran Tim Kerja Satgas Waspada Investasi Jawa Timur dalam merespon maraknya penawaran investasi ilegal di berbagai daerah.

“Tingkat inklusi di Jatim memang tinggi sampai 73 persen, padahal tingkat literasinya hanya 35 persen, sehingga seringkali ada miss di sana,” ungkap Heru di Media Gathering Tahun 2019 yang bertempat di Hotel Novotel Solo, Jumat (11/10/2019).

Sebenarnya, lanjut Heru, kepercayaan masyarakat ke lembaga keuangan cenderung bagus, sayangnya tanpa diikuti pemahaman. Iming-iming return tinggi mengakibatkan masyarakat tidak well literate dan seringkaili terjebak investasi ilegal.

“Ada 2L, yakni Logis dan Legal. Ini kunci agar tidak terjebak investasi bodong,” katanya.

Akibat ketidaktahuan masyarakat pada investasi bodong, kerugian yang dialami masyarakat juga tidak sedikit. Secara nasional, tercatat kerugjan masyarakat hingga Agustus 2019, mencapai Rp100 triliun.

“Ada lima prinsip yang harus dipahami, agar tidak terjadi sengketa dan saling merugikan,” sambung Mulyanto Direktur Jasa Pengawasan 2, Satgas Investasi OJK KR4 Jawa Timur di acara Cangkrukan Media-OJK KR 4 Jawa Timur yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah tersebut.

Lima prinsip itu, di antaranya, transparansi, perlakuan yang adil, penanganan pengaduan serta penyelesaian sengketa konsumen secara sederhana, cepat dan biaya terjangkau. Keempat, kerahasiaan dan keamanan data/informasi konsumen, termasuk prinsip yang kelima adalah keandalan.

“Hak dan kewajiban kreditur harus dijelaskan secara transparan oleh bank atau lembaga jasa keuangan. Begitu juga tentang manfaat dan risikonya harus dijelaskan. Tidak boleh ada syarat dan ketentuan berlaku, tapi harus dijelaskan semuanya agar tidak ada yang dirugikan,” pintanya di acara yang melibatkan narasumber dari PT Pasar Dana Pinjaman (Danamas) sebagai pelaku industri Fintech Peer to Peer Lending dan Pimpinan Redaksi Jawa Pos Jawa Timur.

Sementara, dari tingkat kinerja, hingga triwulan 3 tahun 2019, OJK KR4 mencatat, Industri Jasa Keuangan di Jawa Timur ditunjukkan dengan meningkatnya total aset 403 bank sebesar 8,78%. Selain penyaluran kredit yang turut meningkat 6,90%, kondisi tersebut juga diperkuat intermediasi perbankan dengan LDR sebesar 84,59% dan NPL yang masih terjaga dikisaran 3,75%.

“Kinerja positif ini seiring dengan tumbuhnya perekonomian di Jawa Timur,” kata Kepala OJK Kantor Regional 4 (OJK KR4) Jawa Timur, Heru Cahyono.

Dalam laporan yang dituangkan dalam Media Gathering Tahun 2019 di Solo, Jumat (11/10/2019), Heru menyebut, kinerja positif Pasar Modal di Jawa Timur juga meningkat. Indikator ini terlihat dari jumlah investor saham yang mencapai 58,75% atau lebih tinggi dibanding angka nasional sebesar 52,66%.

“Jumlah investor saham di Jawa Timur sebesar 13,40 persen dari total investor saham secara nasional,” kata Heru.

Kinerja yang baik ini, lanjut Heru, ditunjukkan Industri Keuangan Non Bank di Jawa Timur yang mengalami pertumbuhan Pendapatan Premi Asuransi sebesar 2,69%. Hal yang sama juga tampak pada pertumbuhan Piutang Perusahaan Pembiayaan yang berada di 6,88% dengan NPF yang terjaga dengan baik sebesar1,86%.

“Selain itu, perkembangan Dana Pensiun juga baik. Ini tercermin dari pertumbuhan asset bersih dan investasi masing-masing sebesar 11,7 persen dan 11 persen,” aku Heru.

Dijelaskan, OJK KR4 Jawa Timur telah melakukan upaya masif dan intensif untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Jawa Timur. Upaya tersebut berupa Edukasi dan Perlindungan Konsumen serta optimalisasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) kepada masyarakat melalui 138 kegiatan sosialisasi dengan peserta 21.075 orang. “Mereka terdiri dari berbagai profesi, pelaku UMKM, pegawai, pelajar, akademisi dan ibu rumah tangga,” jelasnya.

Untuk upaya peningkatan inklusi di Jawa Timur sampai dengan triwulan 3 tahun 2019, OJK KR4 Jatim telah melakukan pendirian 15 LKMS Bank Wakaf Mikro (BWM) di beberapa lokasi pondok pesantren. Kata Heru, hal tersebut untuk memberdayakan ekonomi masyarakat miskin di sekitar Pondok Pesantren dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada rentenir.

“Yang kedua adalah, perluasan Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Program LAKU PANDAI) yang mengalami peningkatan sebesar 53,84% dengan jumlah agen sebanyak 204.087 agen,” katanya.

Selain itu, OJK KR4 juga meningkatkan pemberdayaan UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mencapai Rp17,9 triliun. Angka tersebut menempatkan peringkat ke 2 terbesar dalam penyaluran KUR secara nasional. “Dengan NPL hanya sebesar 0,02 persen,” aku Heru. (sa/ms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here