Disemati ‘R’, Film Ini Terlarang Bagi Anak-anak Indonesia

0
76

Surabaya, Expostnews.com – Umpatan bernada kotor dan jorok, hingga unsur kekerasan yang menjurus sadis, memaksa film Joker yang dibintangi Arthur Fleck disemati ‘R’ di Indonesia. Rating dengan kategori Restricted tersebut menandakan, film produksi sineas Hollywood tersebut terlarang untuk ditonton anak-anak.

“Sekalipun itu didampingi orang tua,” ujar Imam Wahyudianta, pemerhati film Surabaya saat mengomentari booming film Joker di bioskop-bisokop Indonesia, Selasa (8/10/2019).

Menurutnya, tontonan hiburan semacam film yang mengandung unsur-unsur kekerasan, dan dipenuhi kata-kata jorok maupun kesadisan memang tidak diperkenankan dikonsumsi anak-anak. Artinya, film dengan tayangan yang cenderung menyuguhkan unsur tersebut hanya layak ditonton untuk mereka yang sudah berusia lebih dari 17 tahun.

“Setiap orang bebas berpendapat tentang film Joker. Semua tergantung persepsinya masing-masing. Yang pasti, film Joker ini mendapat rating ‘R’ atau Restricted di Indonesia,” jelasnya.

Namun, Imam tak mampu mengelak, kendati dilarang karena unsur-unsur tersebut, film Negeri Paman Sam berlebel ‘R’ ini bisa disaksikan di versi sosial media (sosmed). Sebab, tidak menutup kemungkinan film atau trailer Joker dapat ‘dipelototi’ siapapun di facebook, instagram ataupun channel youtube.

“Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting untuk bagaimana caranya menjauhkan anak-anak dari film seperti ini (rating R, red),” ingatnya.

Lebih lanjut Imam menambahkan, terhadap film Joker ini, banyak warga maupun netizen beranggapan, bahwa orang jahat itu adalah orang baik yang tersakiti. Sepertinya, kata Imam, kekerasan bukan menjadi jawaban atas segala sesuatu. “Orang juga cenderung harus melihat orang lain dengan toleransi,” ulas lelaki yang juga jurnalis ini.

Di film Joker ini, Arthur Fleck sebenarnya adalah orang yang baik, namun dia banyak mendapat tekanan, mulai dari perlakuan ibunya, perlakuan pacar ibunya hingga dia menderita gangguan mental, yang orang lain tidak tahu tentang kondisinya tersebut. Tekanan yang dialami Arthur Fleck dalam film Joker itu dirasakannya sejak kecil hingga dewasa.

“Di situlah justru Arthur Fleck dijadikan objek bercandaan, jadi objek bullying atau bahkan dia sering mengalami kekerasan di dalamnya,” analisanya.

Hal itulah, lanjut Imam, yang mungkin menjadi sebab mengapa Joker muncul. Bisa mungkin, orang punya kesabaran, tapi ada batasnya. Apa yang dilakukan Joker mungkin lebih dari kesabaran yang dimilikinya. “Sehingga, dia melakukan sesuatu yang dianggap orang lain adalah gila. Tetapi, Joker justru amat menikmatinya,” urainya. (krs/ms/sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here