Dua Pemicu Ini Dicurigai Hilangkan Tata Krama Generasi Milenial

0
161

Surabaya, Expostnews.com – Sopan santun, atau budaya tata krama, perlahan namun pasti kian sirna tergerus zaman. Bahkan, dugaan hilangnya etika santun dalam pergaulan tersebut makin menguat menjangkiti masyarakat, utamanya generasi di masa milenial ini.

“Generasi milenial saat ini banyak kehilangan tata krama kepada orang yang lebih tua, seperti kepada orang tuanya sendiri, bahkan guru di sekolah,” ingat pemerhati anak, Yuliati Umrah ditemui, Sabtu (7/9/2019).

Menurutnya, faktor hilangnya tata krama ini karena dipicu pola asuh yang salah dalam dua lingkungan yang berbeda. Yuliati menyebut, dua hal tersebut adalah pola asuh di rumah dan di luar rumah. “Memang banyak faktor penyebab, tapi salah satunya adalah, faktor pengasuhan selama di rumah, serta pola asuh di luar rumah,” jelas Yuliati.

Dikatakan, faktor pengasuhan di rumah, ditengarai banyak orang tua terutama di perkotaan, memiliki jam kerja relatif panjang hingga waktu pertemuan dengan anak tidak maksimal. Hal ini acap kali membuat para orang tua saat pulang kantor dan sampai di rumah, hanya menemukan anak-anaknya yang sudah terlelap tidur.

“Sebaliknya, saat anak-anak berangkat sekolah, orang tua masih disibukkan dengan urusan pribadi atau urusan kerjaan kantor. Di sini, dialog antara orang tua dan anak akhirnya jarang terjadi,” cetus aktivis perlindungan anak, Equality for All Children ALIT Surabaya ini.

Yuliati juga menyinggung, orang tua ketika pulang kerja dalam keadaan lelah dan beban pekerjaan yang terlampau berat. “Yang muncul adalah amarah saat berdialog dengan anak,” tuturnya.

Pemicu lain dari sirnanya budaya tata krama di masa kini, tambah Yuliati, adalah kegiatan di sekolah pada hari Sabtu-Minggu yang mewajibkan anak datang di ekstrakurikuler (ekskul). Praktis, interaksi antara orang tua dengan anak makin berkurang temponya.

“Alhasil, nilai-nilai tata krama jarang tersampaikan. Kalau zaman dahulu masih ada waktu untuk pamit dan didoakan hingga cium tangan, dan dialog ketika makan malam di rumah. Tapi, di era saat ini hampir tidak ada. Padahal, waktu tersebut merupakan internalisasi tata krama di dalam rumah,” urainya.

Sedangkan, pola asuh kedua yang dicurigai turut menjadi penyebab musnahnya tata krama, kata Yuliati, adalah dari sekolah. Dijelaskan, sisi luar rumah atau sekolah ini terbentuk karena durasi sekolah yang semakin panjang. Ia mengamati, interval waktu yang cukup panjang di sekolah ini sangat tidak efektif dalam menumbuhkan budaya tata krama. “Bayangkan, mulai setengah 7 pagi, sampai jam 3 sore. Sangat tidak efektif,” ulasnya.

Lantas, bagaimana nilai tata krama itu bisa tersampaikan, jika guru mulai jarang berdialog dengan siswa? Yuliati menyebut, pada jam kosong, guru justru sibuk di ruang guru untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai hingga berbagai pelatihan dan akreditasi.

“Akibatnya, terlalu banyak beban yang dialami para guru. Belum lagi jam kerja guru disamakan dengan industri, yakni 40 jam seminggu,” jelasnya.

Problematika ini tak lepas dari kerapnya anak-anak dibebani dengan pekerjaan tugas di kelas. Artinya, dialog yang terjadi hanya pelajaran, bukan tentang masalah yang dialami anak. Yuliati juga memandang, ketersediaan fasilitas di sekolah sangat tidak memungkinkan bagi anak-anak melakukan interaksi di luar kelas.

“Meski ada ekskul dan pembinaan mental, tapi hanya normatif. Seperti ekskul baca Quran dan sholat Dhuha. Tapi, bagaimana hubungan itu berlangsung baik antara pendidik dan muridnya, juga belum terbukti,” kritiknya.

Lebih lanjut Yuliati menambahkan, saat ini juga banyak kasus pelaku kekerasan seksual pada anak yang dilakukan guru menduduki rating tertinggi. Ini yang terkadang membuat anak-anak mengalami distrust (ketidakpercayaan) yang menghilangkan kepercayaan dirinya.

“Ujungnya, sopan santun yang diharapkan, hanya menjadi angin lalu. Fakta-fakta ini yang harusnya mulai dievaluasi orang tua maupun guru di sekolah,” tutupnya. (krs/ms/sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here