Lakoni ‘Sawunggaling Arek Suroboyo’, Bambang Haryo Prihatin Gedung Kesenian THR

0
17

Surabaya, Expostnews.com – Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono mengelus dada saat melihat langsung pertunjukan seni tradisional, Ludruk di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, Minggu (31/3/2019). Bambang yang menyempatkan turut tampil di pentas berlakon ‘Sawunggaling Arek Suroboyo’ di Gedung Pringgodani THR ini juga merasa prihatin dengan kondisi seniman Ludruk.

“Termasuk tempat pertunjukannya yang lebih menyerupai gedung lama yang mangkrak dan tak terawat,” cetus Bambang Haryo usai melakoni Adipati Jayengrana bersama kelompok Ludruk Surabaya, Putra Taman Hirra pimpinan, Sugeng Rogo.

Untuk itu, ia mendorong, agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghidupkan kembali pertunjukan kesenian tradisional, seperti Ludruk di lingkungan THR. Alasannya, saat era berganti digital dan masyarakat mendapat kemudahan menikmati pertunjukan dan hiburan secara instan melalui telepon genggamnya, kesenian tradisional seperti Ludruk kian termarginalkan.

“Sejak saya masih kecil, THR sudah ada. Dulu, selain menjadi pusat mainan anak-anak, THR juga telah menjadi jujukan untuk menyaksikan pertunjukan tradisional. Kalau itu dihidupkan lagi, saya yakin bisa menarik wisatawan,” yakin legislator dari Partai Gerindra yang mencalonkan kembali untuk Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo) ini.

Namun demikian, Bambang Haryo menyambut positif upaya Pemkot Surabaya atas penyediaan fasilitas panggung pertunjukan gratis untuk para seniman tradisional, seperti Ludruk. Apresiasi Bambang Haryo tersebut juga menaruh harapan, agar Pemkot Surabaya lebih memperhatikan kelangsungan hidup seniman tradisional di Surabaya.

“Memang untuk melestarikan kebudayaan harus dimulai dari perhatian pemerintah daerah. Para seniman tradisional ini harus mendapat penghasilan, setara upah minimum regional,” ingat wakil rakyat yang juga pengusaha pelayaran ini.

Pada kesempatan yang sama, seniman ludruk Sugeng Rogo mengatakan, untuk mewadahi kreatifitas seniman Surabaya, Pemkot Surabaya telah menggratiskan penggunaan Gedung Pringgodani di kompleks THR Surabaya sejak 2010. Selama 9 tahun ini, lanjut Rogo, seniman yang menampilkan kesenian tradisional juga difasilitasi Pemkot Surabaya berupa perangkat gamelan dan pemain karawitannya.

“Semua ditanggung Pemkot Surabaya. Tapi, untuk harga tiketnya ditarik Rp 10 ribu per orang,” aku Rogo.

Sekadar tahu, lakon yang dimainkan dalam pentas Ludruk bersama Bambang Haryo itu berdasar nukilan cerita rakyat Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda, khususnya Surabaya yang memiliki legenda Sawunggaling, putra Dewi Sangkrah. Dikisahkan, Sawunggaling yang memiliki nama kecil Jaka Berek ini setiap hari diejek temannya dengan sebutan anak haram, lantaran tidak memiliki orang tua kandung laki-laki.

Singkat cerita, karena ejekan itu, Sawunggaling bertanya pada sang ibunda tentang siapa orang tua laki-lakinya. Setelah mendapat jawaban, Sawunggaling langsung mencari ayahnya yang bernama Jayengrana, yang seorang Adipati di Kadipaten Surabaya. Dalam pencarian ia pun bertemu dengan Adipati Jayengrana yang ternyata sudah menikah lagi dan memiliki anak seusianya. Namun, ibu tiri dan saudara tirinya tidak mengakui bahwa Jaka Berek atau Sawungggaling ini putra Jayengrana. Akhirnya, Jaka Berek menunjukkan bukti berupa kain peninggalan ayahnya pada masa ia masih bayi. Berdasar bukti tersebut, Jayengrana yang diperankan Bambang Haryo ini bersedia mengakui Jaka Berek adalah anak kandungnya sendiri. Pada saat itu juga, Jaka Berek alias Sawunggaling ini diminta membantu ayahnya merebut Kadipaten Surabaya dari kekuasaan penjajah Belanda melalui sayembara. (sa/ms/kul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here