Pendapatan Intiland Triwulan I 2019 Meroket Rp 888 Miliar

0
12

Jakarta, Expostnews.com – Membandingkan kinerja keuangan triwulan I 2018 yang mencapai Rp 709,2 miliar, tahun ini di periode yang sama, capaian kinerja keuangan PT Intiland Development Tbk/Intiland naik sebesar25%. Meroketnya pendapatan usaha Intiland yang didasarkan hasil laporan keuangan yang berakhir 31 Maret 2018 itu, terbilang Rp 887,6 miliar.

“Pertumbuhan pendapatan usaha Intiland pada triwulan pertama tahun 2019 ini terutama berasal dari peningkatan pengakuan pendapatan dari segmen pengembangan mixed-use & high rise,” Archied Noto Pradono Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Selasa (30/4/2019).

Menurutnya, peningkatan tersebut seiring dengan progres penyelesaian sejumlah proyek mixed-use & high rise di Jakarta dan Surabaya, seperti Fifty Seven Promenade, Graha Golf, dan The Rosebay. Pembangunan beberapa proyek mixed-use &high rise tersebut akan selesai pada tahun ini. “Kami berharap pasar properti dapat tumbuh positif dan minat beli konsumen serta investor cepat kembali pulih,” harap Archied.

Dijelaskan, pendapatan usaha Intiland selama ini ditopang dari 4 segmen pengembangan, selain juga bersumber dari pengembangan mixed-use & high rise. Naiknya pendapatan usaha perseroan tersebut juga diperoleh dari kawasan perumahan, kawasan industri, serta properti investasi.

“Segmen pengembangan mixed-use & high rise ini tercatat sebagai kontributor pendapatan usaha terbesar Intiland yang mencapai Rp 523,4 miliar atau 59 persen dari keseluruhan. pendapatan usaha tersebut yang melonjak 165 persen dibandingkan triwulan I tahun lalu yang hanya Rp197,4 miliar,” papar Archied.

Selanjutnya, segmen properti investasi turut andil dengan kontribusi terbesar yang mencatatkan pendapatan usaha Rp 157,1 miliar atau 18% dari keseluruhan. Segmen yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (reccuring income) ini meningkat 13% dibandingkan triwulan I 2018 sebesar Rp 138,5 miliar.

“Dari segmen pengembangan kawasan perumahan, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 144,7 miliar, atau 16 persen dari keseluruhan. Perolehan dari segmen ini mengalami penurunan 61 persen dibandingkan Rp 373,3 miliar di periode yang sama tahun lalu,” ulasnya.
Archied juga memapar, pendapatan usaha berikutnya yang bersumber dari pengembangan kawasan industri dengan menyumbang nilai Rp 62,4 miliar atau 7% dari keseluruhan. Kontribusi pendapatan dari segmen ini berasal dari penjualan lahan industri yang dimiliki perseroan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto, Jawa Timur dan pergudangan di Aeropolis.

“Secara umum pendapatan usaha meningkat, baik yang berasal dari development income maupun reccuring income. Kontributor terbesar masih dari development income yang mencapai Rp 730,5 miliar atau 82 persen dari keseluruhan,” rinci Archied.

Segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (recurringincome) bagi perseroan memberikan kontribusi sebesar 18% atau senilai Rp 157,1 miliar. Perolehan tersebut naik sekitar 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 138,5 miliar. “Kontribusi recurring income mengalami peningkatan, terutama ditopang naiknya pendapatan dari pengelolaan sarana dan prasarana, perkantoran sewa, dan kawasan industri. Kami percaya kontribusi recurringincome akan terus meningkat, seiring dengan penyelesaian beberapa proyek pengembangan mixed-use,” yakinnya.

Meningkatnya pendapatan usaha secara langsung memberi pengaruh positif terhadap kinerja profitabilitas. Di triwulan I tahun ini, perseroan berhasil membukukan laba kotor sebesar Rp 313 miliar dan laba usaha senilai Rp 156,2 miliar. “Apabila, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, masing-masing meningkat sebesar 10,4 persen dan 13,4 persen,” jelas Archied.

Namun demikian, kendati laba kotor dan laba usaha tumbuh secara positif, namun laba bersih perseroan mengalami penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba bersih Rp 48,4 miliar, atau turun dibandingkan triwulan I 2018 sebesar Rp 112,8 miliar. “Penurunan laba bersih terutama disebabkan meningkatnya beban bunga di tiga bulan pertama tahun ini,” akunya.

Marketing Sales

Perseroan juga melaporkan hasil kinerja penjualan sepanjang triwulan I 2019. Dalam tiga bulan pertama tahun ini perseroan meraih pendapatan penjualan (marketing sales) senilai Rp 254,2 miliar, atau sekitar 10,2% dari target tahun ini sebesar Rp 2,5 triliun.

“Penjualan dari segmen pengembangan kawasan perumahan tercatat mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp 175 miliar, atau 69 persen dari keseluruhan. Penjualan terbesar dari segmen ini berasal dari dua proyek perumahan yakni Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills di Jakarta Selatan,” lanjut Archied.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise berhasil membukukan marketing sales Rp 79,2 miliar atau 31% dengan kontribusi terbesar berasal dari penjualan apartemen 1Park Avenue di Jakarta dan The Rosebay di Surabaya. Jika ditinjau berdasarkan lokasi proyeknya, kata Archied, penjualan dari proyek-proyek di Jakarta mencapai Rp 136,2 miliar atau 54% dari keseluruhan. “Sisanya sebesar Rp 118,1 miliar atau 46 persen berasal dari penjualan proyek-proyek yang berlokasi di Surabaya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Archied juga mengatakan, di triwulan pertama tahun ini, pasar properti belum juga pulih karena konsumen masih bersikap wait and see untuk menunda pembelian. Namun, lanjut Archied, khusus produk-produk perumahan, pasarnya masih bergerak positif dan relatif stabil. “Sehingga, tetap ada penjualan,” tuturnya.

Perseroan mengakui, secara umum tantangan pasar properti pada tiga bulan pertama tahun ini sangat berat. Kondisi ini terutama dipengaruhi iklim politik, seiring penyelenggaraan masa kampanye dan Pemilu serentak. “Kami harapkan setelah Pemilu, kondisi akan membaik dan lebih kondusif. Sehingga, konsumen lebih berani untuk melakukan pembelian dan investasi di sektor properti,” harapnya.

Dengan situasi tersebut, manajemen Intiland tetap optimitis pasar properti mampu pulih dan kembali tumbuh melalui strategi yang sifatnya konservatif guna mengantisipasi dan menghadapi dinamika dan arah perubahan pasar. Perseroan akan berupaya menjaga kinerja usaha dengan mengandalkan pertumbuhan secara organic, maupun dengan menjalin kerja sama strategis dengan investor.

“Strategi ini ditempuh antara lain melalui pengembangan pada proyek-proyek yang telah berjalan, dan tetap membuka peluang kerja sama untuk pengembangan proyek-proyek baru,” yakinnya. (ms/sa/int)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here